Time's up. Waktu liburanku sudah habis. Saatnya pulang ke Jakarta dan menghadapi realita.
Barang bawaanku semakin beranak-pinak dibanding saat aku datang beberapa hari yang lalu. Banyak sekali oleh-oleh yang kubeli untuk Papa dan Mama, juga orang-orang kantor yang pasti akan protes kalau aku kembali dengan tangan kosong. Kiara juga membeli beberapa jenis makanan untuk teman-teman kampusnya. Yang paling repot lagi-lagi Ghidan karena harus membawakan semua itu.
Ghidan tampak tenang dan santai sepanjang perjalanan menuju bandara tadi. Setelah percakapan kita di warung sate tadi malam, aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, aku hampir tidak pernah bisa menatap matanya. Jantungku akan melompat-lompat setiap kali tatapan mata kami bertemu. Baru kali ini aku bersyukur dengan kehadiran Kiara di tengah-tengah kami. Paling tidak, dia bisa mencairkan suasana.
"Bagasi udah masuk semua?" Ghidan bertanya ketika aku kembali dari check-in bagasi. Aku mengangguk.
This is it. Saatnya berpisah. Pandangan mataku dan Ghidan bertemu selama beberapa detik sebelum dia mengalihkan wajah dan menghadap Kiara.
"Hati-hati, ya," Ghidan menepuk puncak kepala Kiara pelan.
Kiara mengangguk kuat. "Makasih, Mas Ghidan, udah mau direpotin aku sama Mbak Na."
Ghidan terkekeh pelan. "Nggak repot sama sekali."
Saat tiba giliranku berpamitan padanya, lidahku mendadak terasa kelu. Aku hanya bisa menatapnya tanpa tahu apa yang harus kukatakan. Ghidan tersenyum, seakan mengerti kegundahanku.
Tangan Ghidan menyentuh lengan atasku, meremasnya lembut. "Safe flight."
Kepalaku mengangguk seperti robot. "Thanks sekali lagi, Ghi."
"I'll see you again, right? Di Jakarta?" Sorot matanya terlihat berharap.
Sesuatu dalam suara Ghidan berhasil membuatku sedikit tenang. Tiba-tiba saja aku merasa rileks. Barulah aku bisa tersenyum.
Tak ada alasan lain untuk menyembunyikan perasaanku. Selama ini aku sudah kenyang dengan begitu banyak dating games. You know, berkenalan, pendekatan, tarik-ulur, dan kalau tidak berhasil, kita harus mengulang prosesnya dari awal. Dengan Ghidan, semuanya berbeda. Here he is, standing right in front of me, setelah 12 tahun tidak saling kontak tetapi masih berhasil membangkitkan semua perasaan yang kupikir sudah terpendam sejak lama, dengan jelas mengutarakan maksud dan tujuannya padaku tanpa permainan rumit yang melelahkan.
I know it's not like we're getting married tomorrow, but... yeah, apa salahnya mencoba?
Akhirnya, aku mengangguk. "You will," janjiku. Ghidan tersenyum lega.
"Aku boleh peluk kamu, Na?" pintanya kemudian.
Seharusnya aku tidak tertawa, tapi aku tidak bisa menahan tawa itu keluar dari bibirku. Lagipula, ini satu-satunya cara untuk mengalihkan rasa tersipu yang mendadak muncul. It's just a hug.
A warm, loving hug.
Pelukan itu sangat singkat, mungkin hanya tiga detik. Tetapi, hangat yang kurasakan begitu membekas. Aku sedikit mendongak untuk menyelami kedua mata Ghidan. Seketika aku merasa diyakinkan bahwa perasaan ini bukan hanya milikku saja.
Karena tidak ingin memberikan Kiara lebih banyak bahan tontonan, aku dan Ghidan pun saling melepas diri. Kulambaikan tanganku singkat, dan dia membalasnya. Setelahnya, aku segera menarik Kiara untuk berjalan di sampingku.
"Mbak Na, yang barusan itu...?" Kiara hampir meledak karena penasaran.
"Ssstt, anak kecil diem aja," potongku lalu kembali menyeretnya. Bibirku sudah berkedut-kedut menahan senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Restart
Fanfiction[COMPLETED] Dua belas tahun lalu, Raina dan Ghidan yakin, LDR Bandung-Miami tidak akan bisa mereka jalani. Terlalu jauh. Terlalu banyak yang harus dikorbankan. Setelah dua belas tahun tidak pernah saling mendengar kabar, mereka bertemu kembali. Kali...
