"Gila-gila!"
Teriak salah satu siswi yang tak kuketahui namanya—ia berlari tergesa-gesa, sehabis keluar dari kelas IPA-6. Ya, benar! Itu adalah kelasku.
Aku yang tengah berjalan dikoridor sekolah pun menghentikan langkahku selama beberapa saat, ada rasa penasaran yang terselip dibenakku.
Masih pagi, gumamku.
Sampai pada akhirnya, siswi itu masuk kedalam kelas IPA-2, sembari menyampaikan sebuah informasi penting.
"DIKELAS IPA-6 ADA YANG GELUD WOI!" Teriaknya histeris, yang otomatis membuat kedua bola mataku membulat sempurna.
"MANA GELUDNYA SAMA ANAK GURU LAGI, GILA GAK?!" pekiknya dengan nafas ngos-ngosan, "TUH ANAK GURU, BADANNYA GEDE BANGET BUSET. GUE TAKUT COGAN IPA-6 MALAH JADI AYAM PENYET!"
Parah. Ini sih kelewat parah.
Buru-buru aku segera berlari menuju kedalam kelas. Sesampainya disana, benar saja depan kelasku sudah dipenuhi oleh para siswa-siswi kelas 10 dari dua jurusan, yakni jurusan IPA dan juga jurusan IPS yang berbondong-bondong ingin menyaksikan kejadian itu.
Aku berusaha menerobos masuk kedalam.
"Permisi-permisi, gue izin lewat, y—?" Belum sempat aku menyeludupkan kepalaku diantara khalayak ramai yang tengah berdiri didepan pintu, seseorang menarik tasku, yang otomatis membuatku mundur kebelakang.
Hal tersebut spontan membuatku menoleh dengan raut wajah kesal, "L-lo?!"
"Lo mau jadi rengginang kalo nerobos masuk kedalem?" tutur Noel, "semua temen-temen kita aja pada nunggu diluar."
"Sotoy banget lo, Noel!"
"Lo liat aja tuh," ucap cowok itu sembari menunjuk kearah pohon rindang didepan kelas yang dibawahnya terdapat tempat duduk.
Yang benar saja. Disaat seperti ini, teman-teman cewek sekelasku malah berlagak seperti tak ada kejadian. Begitu juga dengan Miley, gadis itu asik sendiri dengan ponselnya.
"Kok gak ada yang nolongin, sih?" protesku, "kan yang berantem temen sekelas kita. Ini anak-anak cowoknya pada kemana, sih?"
"Lo gak tau apa-apa, kenapa heboh banget, sih?"
Bibirku mengerucut saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Noel. Kedua alisku pun tertaut, tatapan tajam terpancar jelas diwajahku.
"Tenang aja," kata cowok itu saat menyadari perubahan ekspresi diwajahku, "tuh anak IPS pasti bakalan kalah sama Caleb."
Caleb?
Jadi cogan yang dimaksud cewek tadi, Caleb? Huh, kupikir itu adalah Noel, batinku dalam hati.
"Badan gede doang tuh cowok, nyalinya kaga ada," noel terkekeh sembari sesekali mengangkat wajahnya guna menyaksikan kejadian itu dari luar kelas, "duh, pasti bakalan jadi telur mata sapi tuh ama si Caleb."
Nih anak psikopat apa gimana, sih? Temennya gelud malah didukung, lagi-lagi aku membatin.
"Gih, jauh-jauh," ucapku padanya, "lo kalo mau gibahin orang jangan didepan gue."
Baru saja ingin mendorong tubuh Noel menjauh dariku, kedatangan seorang guru membuat para siswa-siswi yang mengerumuni kelas IPA-6 lari terbirit-birit memberi jalan agar wanita itu bisa masuk kedalam.
"Dimana anak saya, dimana?!" teriak wanita setengah paruh baya yang memakai kacamata itu. Ia berjalan lunglai, ekspresinya tampak khawatir, "apa yang kalian lakukan kepada anak saya?!"
Wanita itu masuk kedalam kelas IPA-6. Menghampiri putranya yang sudah tersungkur disudut ruangan kelas, cowok itu diapit oleh dua cowok—teman sekelasnya untuk dibawa ke UKS.
YOU ARE READING
Noel Harald
Novela JuvenilNoel Harald. Ya, ini adalah kisahku dengan cowok bernama Noel. Cowok yang senantiasa membuatku tidak pernah tenang saat menjalani masa SMA-ku selama 3 tahun. Bukan, bukan karena dia adalah makhluk yang tak kasat mata. Melainkan, ini adalah hal buru...
