03 ●

253 44 9
                                    

Sesuai permintaan ayah Irene, Irene dibawa pulang ke mansion nya di pagi hari.

Taehyung semalaman menatap puas rupa putri tidur yang sudah menjadi istrinya itu.

Keadaan presdir Park semakin memburuk, beliau mulai tidak sadar sejak tengah malam. Setelah diperiksa dokter melakukan tes sampel darah dan urine ditemukan arsenik dalam tubuhnya, juga alkaloid yang berasal dari teh bunga Wolfsbane yang di proses kurang memadai.

Siapa lagi jika bukan istrinya, nyonya Hwang yang selalu menyiapkan teh herbal itu. Tapi saat diwawancarai menggunakan pendeteksi kejujuran nyonya Hwang mendapat skor 95% mimik wajahnya juga menunjukkan kekhawatiran terhadap presdir Park. Nyonya Hwang juga mengaku selalu menolak jika disuruh mengolah teh Wolfsbane maupun obat-obat lain.

"Apa nyonya tahu jika presdir tidak mempercayai anda beserta anak-anak anda?" Taehyung menatap tajam iris coklat terang wanita itu.

"Aku tahu. Taehyung-ssi, aku bukan wanita yang gila harta. Ayah Irene menolongku dari kemiskinan, ia menghidupi anak-anakku sampai hari ini. Aku tidak punya motivasi membunuh orang yang menolongku. Cukup dapat tempat berteduh selama dua belas tahun dan aku sangat bahagia bisa dicintai oleh orang sukses sepertinya." Nyonya Hwang memiliki tatapan sendu.

Tanpa basa-basi, Taehyung langsung melanjutkan pemeriksaan pada semua penghuni rumah.

Sekarang anak buah sekertaris Han mencari dokter yang telah mengurus presdir Park karena dokter yang telah mengurus beliau selama 5 tahun mengundurkan diri 2 bulan yang lalu. Dokter baru juga sudah diwawancarai, tapi hasilnya tentu saja tidak. Mengingat dokter baru ini adalah teman kuliah presdir Park dulu. 

Siang hari detektif bayaran Taehyung datang. Detektif Suga adalah pria berumur 40 an yang bugar dengan potongan rambut comma hair dan jaket denim-detektif narsis.

"Ini adalah rekaman CCTV dari hotel yang sempat ditempati penembak Kang Seulgi." Ujarnya menampilkan laptop dengan video berdurasi 10 detik, dengan isi disebuah lorong hotel ada 2 pria berpakaian pegawai hotel mendorong troli alat kebersihan yang ditutupi oleh kain.

"Bagaimana identitas mereka?" Taehyung melakukan pause disusul zoom pada wajah dua orang tersebut, tapi karena kamera CCTV itu berkualitas rendah, wajah keduanya sama sekali tidak bisa diidentifikasi.

"Hotel tertua di kota, tak pernah ada catatan kejahatan disana, jadi pemilik tidak memperbarui keamanan." Detektif Suga membuka map nya, menunjukkan pada Taehyung sebuah selongsong peluru.

"Mereka menggunakan pistol Dessert Eagle seri langka. Mengesampingkan resiko tertangkap dan meninggalkan jejak, sepertinya mereka bersenang-senang dengan kejadian kemarin."

Taehyung meremat tangannya kuat, menerka-nerka bajingan mana yang berusaha melukai Irene.

"Apa tidak ada saksi dari mall yang melihat?"

"Tidak, penembak menggunakan masker."

"Sialan."

"Hanya ini yang bisa ku selidiki, istriku melarangku untuk bertindak lebih jauh. Kami akan menetap diluar negeri selama sepuluh tahun." Suga menyerahkan map tebal berisi informasi beberapa orang yang kemungkinan terlibat.

"Serius mau pergi?" Taehyung kaget dengan keputusan mendadak Suga.

"Maaf Taehyung. Sejak insiden tahun lalu istriku menjadi sangat cerewet. Tapi tenang saja, aku akan mengerahkan anak buahku untuk meneruskan kasus ini, dan mengamati dari rumahku." Suga tersenyum simpul kemudian berpamitan dengan Taehyung.

Setelah mengantar Suga sampai depan mansion, Taehyung kembali ke ruang kerja nya lalu membuka map pemberian Suga tadi.

Membuka lembar pertama map, Taehyung disuguhkan sebuah kertas dengan print besar bertuliskan.

Unknown HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang