°°°
Pagi yang cerah seperti biasanya. Anak-anak SMA Tokyo saat itu, terlihat berhamburan memasuki kelas masing-masing.
Y/n yang datang agak terlambat itu pun berlari semampunya melewati koridor sekolah langsung menuju kelas.
XI IPA 2
Itulah kelas yang sudah ia tempati selama hampir setahun ini. Meskipun otaknya tidak sepintar Chifuyu, tapi dengan berhasil masuk ke jurusan IPA cukup membuatnya terlihat pintar.
Ya meskipun otaknya sangat sulit memahami pelajaran yang berbau dengan angka dan beban suatu benda atau pun pasangan-pasangan senyawa pada unsur periodik.
Hal itu tidak membuatnya menyerah dalam mencoba memahami materi jurusan yang terbilang sulit ini.
Tapi, sekeras apapun gadis ini berusaha, pelajaran wajib jurusan ini tetap saja tidak menyangkut ke dalam otak kecilnya.
Alih-alih masuk telinga kanan keluar telinga kiri, yang terjadi malah masuk telinga kiri keluar juga telinga kiri alias tidak ada materi yang dimengerti olehnya selama masuk di jurusan IPA.
Aneh bukan? Tapi ya begitulah. Terkadang y/n menertawai dirinya sendiri karena hal itu.
Tibalah y/n di depan pintu kelasnya. Dari celah kaca pada pintu, gadis itu menatap apakah sudah ada guru yang mengajar.
Meja guru tampak kosong saat itu, siswa yang lain pun masih sibuk bercerita dengan siswa yang lain.
"Huh, syukurlah." Y/n melangkah masuk ke dalam kelas.
Dari sudut ruangan seorang gadis melambaikan tangan padanya.
"Dasar! Kamu hobi banget terlambat." Izumi menggeleng kepala ketika mendapati y/n yang baru saja sampai lalu meletakkan tasnya di atas meja.
"Ga tau deh. Pusing aku mikirin tugas yang kemarin ku kerjakan hingga larut malam." Y/n mengamati sekitar lalu menatap Izumi yang sibuk menghiasi kukunya dengan hiasan-hiasan imut.
"Lihat! Aku dapat hadiah ini dari ibuku, dia mengirimkan barang ini langsung padaku dari London." Jelas Izumi sambil memperlihatkan hiasan kuku itu.
"Wow! Itu cantik, tapi kenapa warna sedikit kuning?" Izumi memperhatikan lebih detail hiasan itu,
"Oh ini. Ini emas murni yang diparut."
Jelasnya santai.
Sekali lagi y/n yang mendengar perkataan sahabatnya itu merasa jantungnya seolah berhenti.
Perbedaan macam apa ini? Y/n di rumah biasanya cuma marut keju, itu pun keju masih ia rasa mahal. Lah sahabatnya itu justru memakai perhiasan kuku yang diparut emas murni.
"Oh, hampir lupa. Ini untukmu juga." Izumi menyodorkan hiasan kuku yang sama dengan yang ia kenakan ke atas meja y/n.
Y/n tersenyum paksa, "Sepertinya aku ga bi-"
"Eits!! Aku ga menerima penolakan. Kalo kamu ga ambil, permen yang kemarin aku janjiin ga bakalan aku kasih." Ancam Izumi.
Dibanding hiasan kuku itu, y/n lebih tergiur dengan permen yang di janjikan Izumi kemarin.
Karena paksaan barusan, y/n meraih pemberian Izumi lalu dimasukannya ke dalam tas.
"Lalu, mana permennya?" Tanya y/n antusias.
Izumi pun tersenyum, lalu meraih tasnya. Y/n memperhatikan isi tas itu dengan pandangan penuh nafsu.
Bagaikan mendapati harta karun tersembunyi, mata gadis itu benar-benar terlihat berbinar.
KAMU SEDANG MEMBACA
1.You Are || Chifuyu x Readers (Completed)
FanfictionSulit untuk dijelaskan. Ketika hubungan ini benar-benar diluar logika. Saling memendam dan sibuk mencari tahu apa itu cinta? Lalu untuk siapa? Hanya sebuah story tentang y/n yang terikat dengan seorang teman masa kecilnya. Saling memupuk kasih sert...
