Hi, enjoy reading!
.
.
.
.1 minggu mereka bertahan di hutan itu dengan bekal seadanya, jika mereka beruntung maka mereka akan makan begitupun sebaliknya, di hutan ini sangat sedikit hewan yang bisa diolah menjadi makanan, sungai yang mempunyai air bersih pun jarang karena hampir 50% sungai yang ada di hutan itu sudah tercemar.
Kini matahari sudah menyembunyikan dirinya secara perlahan, gurat jingga dilangit berubah menjadi biru kehitaman. Mereka sedang menatapi langit sembari berceloteh ria.
"Hah...gk pernah terpikirkan sekalipun 17 tahun aku hidup akan mengalami hal seperti ini" ucap Reliu yang memang sebelumnya belum pernah merasakan apa yang namanya hidup susah dimana makan pun tergantung keberuntungan.
"Sama, tp ya bagaimana sudah takdir kita. Besok kita harus lebih bekerja keras untuk mencari jalan keluar" Jendara menanggapi.
"Sudahlah, cukup waktu untuk meratapi nasib skrg kita tidur saja nanti jam 12 jadwal untuk berburu" titah Arjuna yang diangguki oleh ketiga orang lainnya.
Mereka berlima pun segera masuk kedalam goa dan berbaring diatas batu, lalu mereka berempat mulai memejamkan matanya.
Bumi, ia belum juga memejamkan matanya. Kini ia sedang memikirkan bagaimana keadaan Sedo dan juga sahabat-sahabatnya yang lain.
'Bumi' panggil Lintang yang sekarang berada di depannya
'Kenapa?' tanya Bumi dalam hati.
'Maaf sudah merepotkanmu sejauh ini, aku tidak mengira jika kalian akan berakhir seperti ini'
'...gpp, bukan kesalahanmu'
'Ini kesalahanku, jika saja aku punya keberanian menghadapi ini semua sendiri pasti kamu tak harus merasakan ini'
'Hm yah sudah takdir, kamu tidak bisa mengubah apapun'
'Maafkan aku. Aku seperti ini karena memang membutuhkan bantuanmu, ibu dan kakak memang sangat baik tapi mereka bisa menjadi seperti iblis jika bersangkutan dengan nilai' Lintang menjeda ucapannya.
'Semester lalu aku mendapat peringkat 2 dan Arjuna lah peringkat 1 nya. Saat pulang, ibu dan kakak sudah bersedekap tangan diruang keluarga. Aku berpikir bahwa mereka tidak akan memarahiku sekejam tahun lalu tapi ternyata aku salah'
Flashback on (Lintang POV)
"KAMU INI BAGAIMANA? KENAPA HANYA PERINGKAT 2? JIKA SAJA KAMU BELAJAR LEBIH KERAS PASTI BISA PERINGKAT 1" Ibu membentakku dengan keras hingga seluruh pelayan menengok kearahku.
"T-tapi bu..."
"TAPI TAPI APA? GAADA ALASAN, KAMU HARUS BELAJAR DENGAN GIAT UNTUK SEMESTER DEPAN JIKA TAK MAU IBU KURUNG DIKAMAR LAGI" aku sebisa mungkin menahan airmata yang sudah berkumpul dimataku.
"Kamu kekamar saja sana, gaada jatah makan siang hari ini" ucap kak Nobel dengan nada yang amat dingin kepadaku.
Aku pun segera membungkuk dan berjalan kearah kamarku dengan masih menahan airmata yang kapanpun bisa jatuh dari tempatnya.
Flashback off (Lintang POV off)
'Sejak saat itu bukannya belajar, aku selalu mencari tahu tentang mesin waktu dan yah aku berhasil menemukan itu karena kamu berada disini' Lintang tersenyum miris saat harus menceritakan hidupnya kepada Bumi.
Bumi terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana, walau ia kesal pada Lintang karena melibatkan dirinya tapi ia juga miris dengan kisah hidupnya.
'Setelah kalian berhasil keluar dari sini, aku janji akan langsung mengirim kamu kemasa depan kembali'
