Sakura berjalan tergesa kedalam kamar rawat inap dirumah sakit konoha. Setelah kepergiannya malam itu, ia tak kembali kerumah lagi dan menghindari sasuke sampai 2 bulan lamanya. Ibu dan mertuanya pun tau, bahkan mikoto yang meminta sakura untuk pindah ke luar negeri agar menghindari sasuke.
Tepat di bulan kedua, ia mendengar berita yang membuatnya terkejut. Uchiha sasuke—yang sampai saat ini masih berstatus suaminya karena pria itu masih tak mau menandatangani surat perceraian mereka—terkena kasus pembunuhan pada sekretarisnya.
Sasuke membunuh sekretarisnya karena ia merasa karin lah penyebab sakura pergi. Lebih parahnya lagi, sasuke hampir membunuh dirinya sendiri karena mengendarai mobil dengan pergelangan tangan penuh darah bekas sayatan dan kecepatan mobil diatas rata-rata, pria itu akhirnya menabrak pembatas jalanan.
Cklek
Sakura membuka pintu kamar tempat sang suami dirawat perlahan, disana terlihat sasuke yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen dan alat detak jantung melekat ditubuhnya. Terlihat mikoto sedang menggenggam telapak tangan sang putra bungsu sambil sesekali mengeluskan telapak tangannya kepipinya yang terus terbanjiri air mata.
"Ibu.."
Mikoto tersentak saat mendengar suara yang memanggil namanya, dengan cepat ia menyeka air mata yang ada diwajahnya dan tersenyum lembut.
"Terimakasih sudah datang sakura, padahal kau tak harus melakukannya kalau kau tak mau"
Sakura menggeleng lemah dan memeluk erat mikoto yang terlihat lemas. Mikoto langsung membalas pelukan sakura tak kalah erat seakan melampiaskan semua kesedihannya disana.
Pelukan mereka berdua terlepas saat mendapati pintu kamar lagi-lagi terbuka, kali ini sang sulung yang tampak kusut memasuki ruangan rawat inap sasuke.
"Sakura?"
Sakura mengangguk singkat menjawab sapaan itachi. "Ibu sudah makan?"
Mikoto menggeleng lemah menjawab pertanyaan menantu kesayangannya. "Ibu ingin menunggu sasu-kun bangun dulu"
Sakura menggelengkan kepalanya menatap mikoto, ia tau sasuke adalah anak kesayangan mertuanya walaupun mikoto kadang tak segan-segan menghukum sasuke jika anaknya berbuat kesalahan, tapi kondisi ibu mertuanya sangat mengkhawatirkan dengan wajah pucat dan mata sembab serta kantung mata yang menghiasi wajah yang biasanya terlihat ayu tersebut.
"Ibu harus makan, biar saki yang menunggu sasuke-kun"
Itachi mengangguk mendengar pernyataan sakura, pasalnya sang ibu belum makan dari kemarin. "Sakura benar, ibu"
"Tapi sasu-kun belum bangun" Mikoto menggelengkan kepalanya sambil menatap sang sulung dan menantunya bergantian dengan mata berkaca-kaca.
"Sasuke-kun akan sedih kalau tau ibu seperti ini, jika nanti sasuke-kun sadar saki akan langsung menelpon ibu"
Mikoto hanya mengangguk pasrah saat itachi membimbing nya untuk berjalan keluar dan mengunjungi kantin rumah sakit. Setidaknya perkataan sakura jika sasuke akan sedih saat melihat keadaannya yang seperti ini cukup mempengaruhinya.
•••
Sakura mengelus perlahan telapak tangan sang suami yang terasa dingin, padahal biasanya tangan itu selalu memancarkan kehangatan.
"Hei, bangun"
Sakura menatap wajah sasuke yang masih tertidur diranjang rumah sakit. Perlahan tangan wanita itu mengelus rahang tegas sang suami lembut, seperti kebiasaannya setiap hari saat membangunkannya tidur dipagi hari.
"Aku tidak tau kau sebodoh ini—
"—Kalau begini bagaimana aku bisa terus marah padamu?"
Air mata perlahan turun dari emerald cerah sakura, ia tak tega menatap suaminya yang terbaring diranjang rumah sakit seperti ini. Walaupun sasuke sudah menyakitinya, jauh didalam hatinya ia masih mencintai pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
OneShoot
Short StoryKumpulan Oneshoot. Rated T-K Characters ©️ Masashi Kishimoto Cover ©️ Pinterest ©️ All Rights Reserved
