Chapter Two

9 2 0
                                    

Suara adzan subuh berkumandang.

Membuat Tata terbangun dan ayah pun juga, lalu mereka menunaikan ibadah.
Selesai beribadah Tata memasak dengan bahan yang ada, lalu ia bersiap-siap untuk sekolah.

"ayah Tata berangkat dulu ,jangan kemana-mana beli teka-teki  jangan lupa,  yang penting ayah ga kerja ay---". Ucapan Tata terpotong.

"Iya iya ayah tau, kamu ini ta mau sekolah atau mau ngeceramahin ayah sih". Ucap ayahnya dengan terkekeh. Tata pun berpamitan, lalu mengendarai sepeda menuju sekolah.

Tata pun sampai di warung kakek Darto, tempat ia menyimpan sepedanya. Ia takut sepedanya menghilang.

"Assalamualaikum kakek, Tata titip sepeda ya". Ucap Tata diiringi senyuman manis di wajahnya.

"Waalaikumsalam, baru juga jam setengah enam kamu sudah sampai saja, pasti kamu belum makan yakan". Duga-duga kakek darto itu, yang sebenernya benar.

Tata terkejut, bagaimana bisa kakek mengetahuinya? Iya Tata tadi tidak makan, takutnya jika ia makan, ayah tidak bisa makan hingga ia pulang.

"Udah kok kek". Ucap Tata berbohong.

"Kamu jangan bohongin kakek, udah ini dimakan  kalau tidak nanti kakek ga izinin kamu titip sepeda lagi disini". Ancam kakek darto.

"Makasih ya kek". Dibalasi anggukan, Tata menyantap makanan yang disediakan.

Betapa bersyukurnya Tata, sebenernya kakek Darto tidak pernah absen memberi makan kepada Tata. Kakek darto pun sudah menganggapnya cucunya sendiri.

Selesai makan Tata pun berpamitan, thank god sekolah masih sepi.

୨┈┈┈┈┈ ✧~𑁍~ ✧ ┈┈┈┈┈୧

𝐏𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮𝐡 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥, 𝐚𝐩𝐚𝐛𝐢𝐥𝐚 𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐤𝐚𝐢 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐚𝐲𝐚. 𝐒𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐧𝐝𝐚, 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡!

AmouraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang