Mengerjapkan mata untuk menghalau sinar matahari sore yang masuk kedalam kamarnya.
Tunggu kamarnya? bukannya tadi dia berada di pemakaman?
apakah semuanya hanya mimpi?
Cklek
Segala macam pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya buyar seketika saat melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya.
"Udah bangun sayang." Ucapnya seraya mengelus surai Haechan.
"Bubu kok disini?"
Benar, itu Taeyong.
Melihat Haechan yang seperti kebingungan membuatnya hanya tersenyum miris, mungkin Haechan masih belum sadar saat tadi mereka akan meninggalkan area pemakaman Haechan ternyata pingsan. Membuat ketiga orang disana panik dan segera membawanya ke kediaman Haechan sendiri, sekalian membereskan beberapa barang Haechan yang akan dibawa karena mereka setuju untuk merawat Haechan di rumah mereka.
"Masih pusing gak? nanti kalau udah siap kita langsung pergi yah."
"Kemana? Papa Mama belum pulang yah Bu?"
Sungguh Taeyong menjadi tidak tega, apakah Haechan lupa bahwa orang tuanya sudah tiada? padahal dia sendiri melihat bagaimana proses pemakaman keduanya.
"Sayang udah yah.. belajar buat ikhlasin mereka.. Kamu pasti kuat kok."
"J-jadi itu semua buka mimpi?" Ucapnya kembali dengan nada yang bergetar. Dia masih tidak percaya bahwa sekarang dia benar-benar sendiri.. Papa dan Mama nya berbohong dan meninggalkan Haechan sendirian disini..
"Sayang dengar-" Ucapan Taeyong terpotong dengan seruan tidak terima dari Haechan.
"BOHONG! SEMUANYA BOHONG! PAPA SAMA MAMA GAK PERGI.. MEREKA JANJI BUAT PULANG! MEREKA GAK PERGI! ENGGAK HIKS.. "
Brak
Pintu kamar Haechan di dobrak oleh Mark. Dia terkejut mendengar teriakan Haechan dan langsung berlari ke kamarnya disusul oleh Sang Ayah dibelakang.
"Bu ada apa?!" Tanya Mark panik.
"hiks.. Bubu gak tau, Haechan tiba-tiba berteriak hiks.. Mark tolong." Taeyong tidak bisa menahan tangisnya melihat Haechan yang hancur, dia mendekap tubuh Haechan yang masih histeris kini.
"Papa sama Mama mana hiks.. Mau Papa sama Mama.. " Lirihnya dengan menyakitkan.
"Sana, samperin Haechan. Kamu kasih pengertian pelan-pelan. Dia masih shock kayaknya." Jaehyun memberi titah kepada Sang Anak untuk menenangkan Haechan.
"Haechan.. " Panggil Mark yang kini duduk di tepi kasur Haechan dan mengusap air mata yang turun di pipi Sang kekasih. "Haechan, hey sayang.. sini liat Kakak."
Netra yang sembab itu melirik pada Mark. Dia masih tetap dengan tangisnya.
"Sini.. sama Kakak." Mark merentangkan kedua tangannya berniat untuk merengkuh Haechan. Dan Taeyong yang melihat itu segera melepaskan dekapannya dan beranjak dari ranjang Haechan. Menyerahkan semuanya kepada Sang Anak.
Setelah berhasil membawa tubuh sang kekasih dalam rengkuhannya, Mark segera mengusap dan terus memberi kecupan pada pelipis yang basah karena keringat.
Beberapa menit hanya Mark lakukan dengan seperti itu, lalu menyibak rambut yang menghalangi padangan si manis. "Bear, dengerin Kakak yah."
"Kakak tau kehilangan paling menyakitkan itu kematian, dan sekarang kamu pasti sangat terpukul dengan semua ini. Kamu boleh sedih, kamu boleh mengeluarkan semua rasa sakit dan sesak itu, tapi sebentar aja yah? Kamu jangan berpikir semua ini udah berakhir, itu gak bener sayang.. jika kamu kehilangan dua orang yang paling berharga di hidupmu, maka ijinkan Kakak buat jadi orang yang berharga juga, setidaknya kalau tidak bisa menggantikan, Kakak masih bisa jadi pengisi di hidupmu. Ijinin Kakak buat temani hari-hari mu yah.. Kak Mark gak akan ninggalin kamu.. "

KAMU SEDANG MEMBACA
Leith
General FictionDia yang selalu mengagumi keindahan itu, tidak tahu bahwa semuanya akan menjerat dirinya pada sebuah candu yang mengerikan. ⚠️TW! • bxb • angst • self harm • misgendering Adegan berbahaya dalam cerita tidak untuk ditiru! ambil saja hikmah dan pemb...