8

360 73 8
                                        

Sore hari, Steven membawa Leon untuk pergi ke rumahnya. Ya bukan semata-mata membawanya, Leon sedang terluka jadi Steven berniat mengobati luka Leon di rumahnya.

"Masih lama gak sih hah?" tanya Leon dengan sedikit meninggikan nada suaranya karena takut tak terdengar oleh Steven akibat suara motor Steven.

"Kenapa? Lo gak sabar mau ke rumah gw ya?" goda Steven.

"Serius dikit lah woy!, kaki gw sakit ini"

"Hahaha, bentar lagi sampe"

Leon tak menanggapi, ia memilih diam takut kesalnya kembali karena terlalu lama mengobrol dengan orang yang berada di depannya.

Tak lama, Steven menghentikan motornya di sebuah rumah mewah berwarna putih. Satpam yang berada di sana membuka pintu gerbang, lalu Steven pun memasuki rumah itu dan berhenti di depan pintu rumahnya.

Leon melihat sekeliling, jadi ini rumah orang yang super nyebelin.

"Ayo turun"

Leon pun menuruti perkataan Steven dan turun di bantu olehnya.

Steven dan Leon memasuki rumah tersebut, suasana di dalam sana terasa sepi, itu yang Leon rasakan. Ia berpikir, bagaimana rumah sebesar ini sangat sepi? Apa tidak ada keluarga atau pelayan seperti itu.

"Rumah lo sepi amat dah kaya kuburan" ucap Leon.

"Kakak gw lagi kuliah" jawabnya.

"Yang lainnya kemana? Keluarga lo yang lain maksudnya"

"Di luar negri"

"Owh"

Leon tak melanjutkan, ia mengikuti kemana Steven menuntunnya, dan sekarang ia berada di depan sebuah kamar.

"Ngapain kesini?" tanya Leon bingung.

"Ya ngobatin lo"

"Maksud gw kenapa dikamar sih woy, lagian ini kamar siapa?"

"Ini kamar gw"

"Dih mau ngapain lo?!"

"Buset ni bocil di bilang mau ngobatin lo astaga, geram gw sama lo sumpah"

"Cih bilang aja lo mau modus"

"Dih gw normal ya, lagian kotak obatnya ada di kamar gw"

"Cih, kan lo bisa ambil dulu trus obatin gw di ruang tamu"

"Cerewet lo, udah sini"

Steven menarik lengan Leon sampai sang empu mengaduh kesakitan.

"Pelan-pelan anjir kaki gw sakit" pekik Leon.

"Oh iya lupa"

Leon mendengus, bisa-bisanya ia lupa padahal tujuan masuk ke kamarnya untuk mengobati luka Leon.

Sampai di tengah-tengah kamar Steven, Leon duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur karena Steven menyuruhnya untuk duduk di sana dibandingkan dengan duduk di kasurnya.

Kamar Steven terlihat bersih, Leon cukup terkejut karena ia sebelumnya menduga kalau Steven orangnya jorok. Dinding kamar Steven berpadu abu dan putih membuat suasana terasa tenang.

Steven datang dengan sebaskom air dan kotak p3k yang ia ambil dilaci lemarinya.

"Sini kaki lo" suruhnya yang membuat Leon memicingkan matanya.

"Jangan protes" tegas Steven yang tau kalau Leon akan mengeluh padanya lagi.

Leon seketika menutup mulutnya dan membiarkan Steven untuk mengobati lukanya.

FAITHFUL LOVE [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang