08. I'm Coming Glacia!

896 69 1
                                        

Setelah mengetahui bahwa Glacia kabur, Amira langsung batal bekerja dan pergi mencari Glacia.
Ia yakin bahwa anak itu tak pergi jauh dari kota Bandung. Tapi siapa sangka? Glacia bahkan sudah pergi jauh meninggalkan kota ini.

"Permisi a' , pernah lihat anak saya nggak? Atau anaknya pernah lewat sekitar sini mungkin?" Tanya Amira pada seorang anak muda.

"Aduh, mana saya tahu teh. Saya mah nggak pernah kenal anaknya teteh. Sama si teteh aja saya nggak kenal. Ada foto nggak?" Jelas tidak jawabnya. Mana mungkin Amira repot-repot mengajak gadis itu berfoto.

"Foto ya? Kebetulan nggak ada a'. Intinya anaknya tingginya hampir se dada saya, terus biasanya suka kepang dua. L-lumayan cantik juga anaknya." Tentu saja terpaksa. Bukankah Amira harus totalitas agar dapat menemukan gadis itu lalu menghukumnya tiada ampun.

"Nggak tahu teh. Susah kalau cuma ciri-ciri mah. Saya saranin sih pakai foto." Amira mengangguk lalu membiarkan pemuda itu pergi.

...

Amira tersenyum puas saat menginjakkan kaki di depan bangunan semi kuno. Ya, panti asuhan milik bunda Haekal. Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Glacia, Amira segera bergegas menjemput gadis malang itu.

"I'm coming naughty girl. Mari kita lihat bagaimana hukuman yang sebenarnya." Ucapnya sambil menarik ujung bibir membentuk senyum yang mengerikan.

...

Setelah menelisik satu ruangan, Amira mendesah kecewa. Dimana gadis itu berada? Apa bunda Haekal sudah tahu bahwa gadis itu kabur darinya?

"Em, bu, apa hanya ini anak yang berada di panti ini?" Tanya Amira sopan. Bunda Haekal memperhatikan anak-anaknya lalu terkekeh.

"Oh, ada satu gadis bu. Sepertinya masih di kamar. Sebentar saya panggilkan." Tertangkap, Amira yakin yang dimaksud bunda Haekal adalah Glacia.

Tak berselang lama, bunda Haekal kambali bersama seorang gadis. Tapi gadis itu bukanlah Glacia.
"Bu, yakin cuma ini?" Amira gelagapan saat bunda Haekal menatapnya sedikit curiga.

"M-maksud saya yang umurnya kisaran 13-an bu. Anak perempuan segitu kan lagi lucu-lucunya." Jelas Amira.

"Tidak ada bu, ibu boleh berbincang sambil mengenali mereka jika berkenan. Saya pamit ke belakang sebentar." Amira mengangguk membiarkan bunda Haekal pergi.

"Argh, sial. Padahal aku yakin kalau bocah sialan itu ada di sini." Gumamnya.

"Tante, nama tante siapa?" Dinda mendekat. Gadis itu berharap kali ini adalah bagiannya mendapatkan kasih sayang.

"Ha? Nama tante Bunga. Iya Bunga. Panggil tante Bunga ya cantik."

"Wah, namanya cantik kaya' orangnya. Tante, tante mampir ke sini mau adopsi anak ya? Tante orang mana?" Sumpah, Amira sangat ingin memukul gadis di hadapannya jika tidak ingat tempat. Sangat menyebalkan anak yang banyak berbicara. Amira benci itu.

















Tbc
copyright©DoyChanny2021

ANAK GANGSTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang