02. Terminal & Mas Haekal

1.4K 88 5
                                        

Pagi-pagi sekali, Glacia segera mengemas baju miliknya. Terus terang, ia hampir tidak tidur karena memikirkan bagaimana caranya keluar dari rumah ini.
"Aman kan ya? Semoga mama masih tidur." Gadis 13 tahun itu mengendap-endap agar Amira tidak curiga.

Dan Glacia berhasil keluar dari neraka dunia itu. Kini iya berjalan ke terminal untuk pergi sejauh mungkin yang ia bisa. Glacia memang punya uang tabungan. Selama ini, gadis belia itu bekerja di toko roti milik pak Hamdan. Walaupun uangnya tak banyak, tapi masih cukup untuk bepergian menggunakan bus.

"Ya Allah, semoga Glacia selalu dalam lindunganmu. Pertemukan hamba dengan orang-orang yang baik dan jika diperkenankan, pertemukan Glacia dengan papa. Glacia ingin sekali bertemu papa. Aamiin."

"Woy, lo mau naik nggak? Malah komat-kamit cosplay dukun. Keburu jalan baru nyesel lo!" Glacia dikagetkan oleh seorang remaja yang kisaran 5 tahun di atas usianya.

"I-iya, maaf om. Ini Glacia naik kok." Balasannya lalu bergegas masuk ke dalam bus.

"Astatang, lo ngapa duduk di mari sih? Udah gue dipanggil om lagi. Eh adik manis, umur gue belum tua amat lah. Baru juga legal tahun kemarin."

"Mas, jangan berisik! Bayi saya lagi tidur. Masnya juga jangan marahin adiknya dong!" Si mas hanya bisa terdiam karena dimarahi oleh penumpang wanita beranak satu itu.

Glacia sebenarnya ingin tertawa, tapi mengingat hawa tak bersahabat yang mas itu tunjukkan, gadis itu memilih diam dan menoleh ke jendela.

"Lo bawa tas pinky segede gini mau piknik apa minggat?"

"Ha? Masnya ngajak ngomong Glacia?"

"Astagfirullah, kudu banyak istighfar ini mah. Iya lah, orang gue duduknya sama lo." Glacia tertawa pelan sebagai respon.

"Maaf, kirain nanya sama yang lain. Em, sebenarnya Glacia kabur. Jadi nggak tahu mau pergi kemana."

"Astaga, eh ngomong-ngomong nama lo Glacia toh. Kenalin, gue Sarjito Haekalindra." Glacia menerima uluran tangan cowok itu dengan senang hati.

"Glacia aja. Aku soalnya nggak tahu nama panjangku siapa." Haekal manggut-manggut.

"Jadi lo berat banget kaya'nya. Sabar ya."

"Iya kak. Makasih mau jadi pendengar yang baik."

"Sama-sama. Oh ya, lo kan nggak tahu kudu kemana. Lo mau nggak sementara tinggal di rumah gue? Tenang, nggak berdua kok. Ada mak bapak gue. Dijamin safety."

"Safety?" Haekal tertawa menanggapi pertanyaan Glacia.

"Astaga, aman maksud gue. Lo nggak ngerti bahasa inggris?" Nampaknya pertanyaan Haekal kurang tepat.

"Jangankan bahasa inggris kak, Glacia bisa berhitung sampai 10 aja udah bersyukur banget. Hi__"

"Udah, jangan lo lanjutin. Gue paham sama perasaan lo. Maaf udah bikin lo sedih." Glacia menunduk saja. Ia bersyukur Allah mengabulkan salah satu doanya.







Tbc
copyright©DoyChanny2021

ANAK GANGSTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang