08 - Rasa bersalah

685 19 0
                                        

"Vote komennya kawan, yang tidak vote dan comment keteknya bisulan🤭"

-mahendra.

-mahendra

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Varo memarkirkan motornya di bagasi masion adijaya, setelahnya ia berjalan menuju pintu utama masion, masih dengan pakaian semalam, ia berjalan dengan wajah dingin khasnya.

Pintu terbuka dan tampaklah para maid dan bodyguard yang berdiri di depan pintu masuk.

Mereka membungkuk hormat menyambut kedatangan tuan mudanya itu.

Varo berjalan dengan langkah tegasnya memasuki rumah.

Hingga tiba di dekat ruang utama, langkahnya terhenti karena panggilan sang bunda.

"Sayang, kamu kemana ajaa bang, baru pulang ke masion." Ucap sang bunda, berlari memeluk anaknya itu erat.

"Bunda" Ucap varo membalas pelukan sang bunda tak kalah erat.

"Kamu kemana aja, ngga kangen sama bunda" Lirih sang bunda dengan mata memerah nya, disela-sela pelukannya itu

"Abang ada urusan bun, baru bisa ketemu bunda sekarang, tapi Abang janji Abang bakal disini terus sama bunda" Ucap varo lembut.

Sedang asik-asiknya melepas rindu, tiba-tiba suara bariton terdengar, membuat pelukan keduanya terlepas.

"Jangan peluk istri saya seperti itu!" Ucap sang kepala keluarga tegas, dengan menarik pinggang istrinya dan memeluk pinggang nya posesif.

Varo memutar bola matanya jengah, selalu saja begitu, padahal dia anaknya sendiri, memang ayahnya itu sangat posesif!

"Ingat jalan pulang kamu! kemana aja tidak pulang tiga hari!" Tanya sang ayah, mahesa adijaya, dengan menatap anaknya itu tajam.

" Tanpa aku jawab juga ayah udah tau aku kemana selama ini" Sahutnya.

Memang ayahnya itu selalu tahu kemana iya selama ini.

"Kamu tinggal disini aja bang, bareng kita kamu jangan di masion kamu lagi yah" Pinta sang bunda, Nathania valeri adijaya.

Varo memang mempunyai masion sendiri, bahkan di umurnya yang masih muda dia sudah mempunyai perusahaan sendiri yang tidak kalah besarnya dengan perusahaan sang ayah.

"Abang bakal sering kesini kok bun, bakal sering ngunjungin bunda" Ucap varo menatap sang bunda lembut.

Nathania menghela napasnya kecewa, tapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya itu dan tersenyum kearah anaknya, sayangnya varo melihat dengan jelas raut wajah kecewa sang bunda, baru saja ia hendak membuka suara, terhalangi oleh suara seorang laki-laki yang berlari dan memeluk bundanya.

ALVARO [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang