Pertemuan

63 14 16
                                    

Katanya, usaha tak mengkhianati hasil.
Tapi jika usaha tanpa skill
apa akan tetap berhasil?

"Oby bin Suhermannnnnnnn. Lu ngapa si bikin gw seneb mulu. Kerjaan lu ngegoler Bae. BANGUN LU! GW SIREM AER KERAS NI" Omelan emaknya yang selalu menggema di pagi hari sudah menjadi sarapan bagi Oby.

"Eh la bujug emak. Mang ngapa si? Heboh bener pagi pagi."

"Pagi lu kata? Noh lu pelototin tu jam. Udh jam 10 Obyyyyyyy. Lu bukannya mau interview ni hari?"

"LAH IYE MAKKKK" Oby berteriak sambil berlari ke kamar mandi. Disambarnya handuk dan langsung menutup pintu dengan keras.

Brakkkk

"Mak Oby berangkatttttt." Dengan baju kusut, dasi tak rapih, celana kedodoran dan sepatu penuh bercak tanah merah. Yap, begitulah tampilan Oby pemuda ganteng yang masih tak punya skill. Bahkan hanya untuk berpakaian pun ia tak memiliki skill.

-----***-----

"Misi ka, boleh minggir sedikit? Anak saya mau lewat"
Suara ibu muda membuyarkan lamunannya. Pasalnya kini Oby melamun tak tau tempat. Dimana pun ia melangkah ia sempatkan untuk melamun. Bukan karna pemalas namun karena ia sudah hilang semangat. Kali ini berpotensi ditolak. Bagaimana tidak? Interview di jadwalkan pukul 10.00. sedangkan sudah pukul 11.20 menit ia masih bergelut dengan bis yang selalu penuh.

"Woyyy tungguinnnnnnn." Oby berlari mengejar bus terakhir. Tapi naas, bus itu nampaknya sedang sensi dengan Oby. Semakin dikejar semakin jauh dari pandangan.

"Dah lah gadateng aja gue. Daripada ngabisin ongkos. Gini amat idup." Oby akhirnya menyerah. Ia akhirnya bergegas memutar arah ke taman komplek. Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan sekelilingnya. Deretan rumah mewah berbaris dengan rapih.

"Bagus bagus banget ya rumah di komplek ini. Kapan gw punya rumah kaya gini. Boro boro ngarep rumah. Kerjaan aja kaga punya. Mengsedih." Oby sudah seperti orang gila menggerutu sepanjang jalan. Berbicara kepada diri sendiri dan tak henti henti memaki kehidupan seolah hidup hanya kejam kepada dirinya.

"PUSSSS PUSSS, YANA, ICHA, LEA, ARLHO , NAYA, BINTANG, MARSHA, MISKAH, JENNIE, MIYU ? MENG? PUS PUS SINI SAYANG MAKANNN." Suara teriakan seorang gadis menggema ke seluruh komplek membuat Oby terhenti.

"Sini sayang, makan yang banyak biar makin gemuk."
Di dekat taman komplek Sahara, Tepatnya didepan sebuah rumah paling mewah terlihat gadis seumur dirinya sedang berjongkok memberi Snack kepada kucing²nya dari ras yang berbeda beda, semua kucing berbaris rapih layaknya sudah di latih. Membuat Oby berhenti dan memperhatikan kegiatan gadis itu.

Banyak sekali kucingnya, pikir Oby. Melihat kucing yang sebegitu disayangnya oleh gadis itu ia jadi miris mengingat kehidupannya.

"enak kali ya jadi kucing, gausah pusing kaya gue. udah S1 tetep aja nganggur.nasib no skill gini amat"

Oby mengeluh sambil menatap kucing kucing itu. Ia berpikir kehidupan nya dan kehidupan kucing itu Berbanding terbalik. dirinya yang harus banting tulang demi mendapat pekerjaan dan tak lagi mendengar caci maki tetangga karena titelnya yang belum berguna juga. Sedangkan kucing itu? Hidup santai dan diberi makan. Disayang dan dibelai setiap hari.

"Mas nya kenapa ngeliatin kucing saya? Jangan bilang mau nyolong loh. Nanti saya teriak nih." Ucap Alin si gadis pemilik kucing yang merasa terusik.

"Eh? Ngga ko mbak. Ga niat nyolong sumpah. Saya aja ga demen sama kucing. Dih ogah ngurusin kucing. Nyusahin doang yang ada. Harus beli makanan kucing, beli pasirnya, perlengkapan lainnya. Ih Males amat saya beli beli makanan kucing. Mending buat makan steak di maklampir food" sahut Oby tak tahu diri.

ANOTHER LIFE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang