2. Noir, Marshall & Alishia

40 11 1
                                        

Ia tak suka menuntut, apalagi dituntut akan sesuatu hal yang tidak ia sukai

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ia tak suka menuntut, apalagi dituntut akan sesuatu hal yang tidak ia sukai. Namun, di dunia ini. Tak terhitung berapa banyak orang-orang melontarkan pertanyaan yang sama mengenai kepribadiannya, walau kehidupan semakin modern, menjadi sosok pendiam terkadang bak seorang kriminal.

Violet tidak peduli, itulah yang terlihat dari raut wajahnya, tetapi dari apa yang dilihat serta didengar tak selalu membenarkan semuanya, ada suatu keadaan yang tersimpan di hati hingga hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Berada di dalam keramaian tidak membuatnya ketakutan. Namun, ia merasa lebih baik untuk menghindarinya.

Orang-orang palsu, cercaan penuh kecemburuan membayangi setiap langkah. Rasa benci menyatu di setiap titik keringat, ia masih diam. Ia akan tetap bertahan, entah kapan semuanya terbongkar tanpa satupun tabir yang tersisa. Violet menikmati seluruh rasa sakit batin dan fisik dalam diam seolah itu adalah perlakuan nan terhormat.

Ia menyukai sekaligus membenci kota New York dalam satu waktu. Mungkin lebih didominasi rasa kebencian, ia tak menutup-nutupinya akan hal itu. Violet tidak seriang Stella.

Di tengah kehangatan keluarga, tidak ada satupun hal yang menarik perhatiannya. Bosan, sedih dan penuh harap, begitulah hal yang dirasakan Violet setiap kali mengikuti makan malam bersama keluarga Stella. Berkali-kali ia melirik kursi kosong di seberang, itulah harapan semu yang tak kunjung menjadi kenyataan.

Rumah Stella selalu ramai dalam keadaan apapun. Sedangkan rumahnya bak rumah kosong, ia tak berharap banyak. Ia juga benci jika terus berharap diberi perhatian oleh seorang wanita dan kerabatnya. Namun, tetap saja ia selalu kembali ke sana. Ia mengabaikan Keluarga Ramsey tanpa berpamitan. Pergi begitu saja menaiki bus nan sepi.

Iri akan membuatnya teramat lelah, tetapi itu hanyalah sekedar awal dari rasa sakit yang sebenarnya. Entahlah, rasanya Violet sangat hafal sambutan teramat manis ini hingga mulutnya selalu terbungkam atas segala rasa itu.

"Aku membenci kalian semua." Ia mengucapkannya dengan ekspresi dingin. Ucapan kesekian, tetapi tidak cukup kuat untuk membungkam mulut sosok wanita yang terus saja mencibirnya.

Ada peristiwa buruk di masa lampau yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Violet. Namun, orang-orang di rumah Noir tak peduli tentang segala kebenaran yang begitu nyata. Bagi mereka, Violet adalah beban sekaligus sasaran empuk untuk pelampiasan emosi. Ia gadis yang diberi gelar Putri Penyihir. Setidaknya itu satu-satunya gelar terbaik dari sekian ungkapan kasar tidak manusiawi.

Tidak ada yang peduli, tak ada satupun yang merasa penasaran ketika gadis itu keluar dengan membawa serta ranselnya. Mereka seolah puas untuk sesi mencerca malam ini. Berpikir bahwa Violet akan segera kembali lagi tidak lebih dari 24 jam, sungguh dugaan yang salah besar.

Perlawanan hanya akan terjadi saat semua dirasa melampau batas. Dendamnya selalu tertahan, terutama pada seorang wanita yang begitu keras menolak kehadirannya. Perasaan kekeluargaan untuk Keluarga Noir seolah hilang ditelannya kekelaman malam.

Call Me Dante!Stories to obsess over. Discover now