10. Tired

9 5 1
                                        


Aluna Satya Young, lebih muda dua tahun dari Laras. Ia sosok paling gencar melawan saat menerima perlakuan tak adil dari kerabat ibunya. Namun, resiko turut berdatangan. Serangan secara verbal sudah teramat biasa hingga menerima perlakuan kekerasan fisik yang perlahan membuat gadis itu tidak seceria biasanya.

"Sampai kapan ... sampai kapan Mama sama Papa tetap diam?" Buku jemari memerah. Ia mengagetkan semua orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga dengan luka lebam menghiasi rahang kirinya.

Laras terbungkam di antara kepanikan dan raut khawatir orang tuanya melihat kondisi adiknya yang berantakan.

Tanpa disadari, Laras bersikap egois dengan caranya sendiri. Fokus pada dunianya sampai terlena bahwa ia bukan satu-satunya yang menjadi sasaran orang-orang tersebut. Bahkan mengorbankan apa yang paling dirinya inginkan hanya untuk meyakinkan semua orang bahwa ia bisa sukses, meski tak harus menjadi seorang pengacara dan penjabat negara.

Pilihan yang ia ambil juga sangat berbeda dari apa yang ia dalami. Dibutakan oleh pemikiran positif, terlalu yakin bahwa semua ini akan berakhir seiring orang tuanya memberi apa yang mereka pinta. Namun, nyatatanya, semua tidak akan cukup.

"Rasanya nggak adil, aku melawan sendirian, tapi malah aku yang paling tersakiti." Aluna mengucapkannya tepat di hari ia akan pergi dari Indonesia.

Orang tuanya tak mampu menahan saat pihak keluarga ayahnya langsung membawa Aluna ke Korea setelah satu insiden yang nyaris membuat gadis itu mendapat kecelakaan parah dengan dalih sekedar bahan candaan dan memang benar selama ini rasa sakit secara fisik lebih banyak dialami Aluna daripada Laras yang memang sering diam.

Tak semua kehidupan akan sempurna dan sesuai dengan harapan, Laras mengetahui itu, tetapi mengapa pertempuran ini tak pernah menemui titik terang?

Sebenarnya apa yang mereka inginkan?

Ibunya selalu terdiam saat ia menuntut penjelasan dan ayahnya terus memerintahkannya untuk selalu bersabar.

Sampai kapankah?

Laras juga ingin mencari jalan keluar, tetapi ia hanya sendirian di jalan yang penuh resiko ini. Tiada yang menyokongnya, walau ada banyak teman mengelilingi. Selayaknya sekedar formalitas, memiliki dua sisi dalam satu wajah.

"Kakak terlalu penakut, meski hasilnya sama. Berdiam diri saat mereka mendiskriminasi sama saja dengan membiarkan harga diri kita terinjak."

Sorot mata penuh kebencian menghiasi, Aluna mengeluarkan sisi lain dirinya untuk menyadarkan Laras yang terus saja diam. Namun, pada akhirnya ia lelah dan pergi, walau harus meninggalkan orang tuanya yang kukuh berada di lingkungan beracun itu. Sungguh, ia tak mengerti dengan pola pikir kakaknya itu. Hidup di dalam kebohongan setelah menetap di Indonesia.

"Suatu hari nanti, Kakak akan mengerti apa yang kurasakan. Over thinking, merasa sendirian, walau di tengah keramaian."

Aluna tak menyembunyikan perasaan tertekannya selama di Indonesia, itu juga menjadi alasan mengapa pihak ayahnya langsung menjemput untuk menjalani pengobatan untuk menyembuhkan kecemasan serta traumatisnya.

Laras sangat takut akan semua hal, terlalu takut jika orang-orang mengetahui bagaimana dirinya yang sebenarnya. Ia menganggap dirinya si pengecut yang bersembunyi di balik tawa, meski tidak semuanya dijalani dalam kepalsuan. Namun, sampai kapankah ia terus saja bersembunyi di zona yang sama sekali tak menguntungkan ini?

Permasalahan ada di nenek tirinya yang menjadi pemicu perpecahan. Dengan kata lain, inti masalah di balik perlakuan mereka adalah suatu peninggalan mendiang kakek kandungnya yang sampai sekarang masih tertutupi benteng misteri.

"Setidaknya sekarang Mama merasa tenang, Ras," ucap Arum melepas kepergian Laras menuju Montreal.

"Sampai detik ini, aku sama sekali nggak pernah berusaha mencari tahu kejelasannya ... aku bingung," runtuknya di dalam hati.



***

Pecahan gelas bercecer, jejak kaki berlumur darah menghiasi lantai putih yang telah bernoda. Tangannya gemetar sembari membersihkan lukanya dengan kapas berlumur cairan alkohol. Tiada air mata, walau di sela denyut nyeri menyertai setiap langkah tertatih.

Guyuran hujan menyambut langkah kaki tak beralas. Ia berjalan tanpa arah meresapi hantaman suhu dingin dan sakit secara bersamaan.

"Ayah selalu saja berjanji, tapi tak kunjung menepati." Violet bergumam. Saat dirasa kakinya mati rasa, ia beristirahat di halte yang sama sekali tak cukup untuk mengikis suhu dingin yang menampar sekujur tubuh.

"Aku lelah sampai rasanya ingin mati." Akhirnya tangis yang ia tahan tak lagi terbendung. Kata-kata yang dirasa begitu mengerikan saat tercetus di mulut anak yang berulang tahun kesepuluh malam ini.

Di usia yang seharusnya masih aktif bermain dan menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan, Violet harus hidup berbenturan dengan sebuah fakta yang selalu membuat hati kecilnya sesak. Ia anak yang tidak diinginkan, terlahir dari hasil cinta sepihak yang mengakibatkan dirinya menjadi korban amarah seseorang.

Kebencian tumbuh begitu saja, entah sejak kapan. Ia tak tahu, tetapi melihat apa yang ia alami, agak mustahil untuk tetap menyayangi orang yang sama sekali tidak menganggapnya sebagai bagian keluarga.

Hujan semakin deras, mungkin sudah lebih dari satu jam terjebak di halte nan sepi hingga ada seorang anak bermantel hujan kuning ikut berteduh.

Violet tak lagi menangis, lantas melirik dari sudut matanya. Lalu mendapati baju di balik mantel hujan anak itu berlumur darah di bagian kedua tangannya.

Tiada obrolan, hanya suara rintikan hujan yang memecah kesunyian. Di bawah sorotan lampu halte, darah yang bercampur air hujan menjadi lebih cair, ia meringis. Tubuhnya semakin bergetar dan mulai merasa pusing. Namun, ke mana ia harus berlabuh dengan kondisi seperti ini?

Ini sudah semakin malam dan tubuhnya menuntut untuk diobati. Kulit terasa ditusuk oleh dinginnya hujan yang enggan berhenti.

Violet merasakan sakit kepala tak tertahankan, ia mencapai titik kelelahan parah. Jatuh tidak sadarkan diri dengan batin yang meronta untuk tetap tersadar. Namun, kegelapan menyelimuti.

Dengan tangan yang dipenuhi sayatan kecil, ia gendong Violet di pungungnya. Ia merintih pelan ketika air hujan kembali menghujami luka-lukanya. Melangkah dengan tegas, walau dirinya juga memikul beban hidup yang tidak kalah menyesakkan.

"Apa ini cukup?" tanyanya pada seorang supir taksi yang kebetulan berhenti di depan minimarket. Ia menyodorkan selembar limapuluh dolar yang basah dengan tangan gemetar.

"Di mana orang tua kalian?"

Sang supir taksi langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil. Karena anak itu tak kunjung menjawab.

Banyak tatapan iba menyambut keduanya saat memasuki rumah sakit. Bahkan dokter yang membersihkan lukanya sampai menangis.

"Aku tak apa, tolong jangan menangis dan jaga dia." Ia tak menangis ataupun memperlihatkan emosi berlebih, ia menitipkan beberapa lembar uang seratus dolar pada sang supir taksi dan berlalu pergi ketika orang-orang lengah.

Ia sudah terlalu lelah untuk menangis juga terlalu sakit untuk selalu mengadu pada orang lain. Terus menjauh dan menghindari tatapan iba yang membuatnya terasa jatuh ke jurang dalam tak berujung.

"Apa aku akan mati?" Ia mengusap bekas darah yang berasal dari sisi kanan kepalanya.





Bersambung
8 Oktober 2021

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 28, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Call Me Dante!Where stories live. Discover now