Semua dimulai di salah satu taman yang ada di Montreal. Pertemuan biasa yang membawanya ke beberapa pertemuan tidak terduga di lain hari.
Larasatya Young bukan sekedar saksi, tetapi salah satu orang yang mengalami jatuh dan bangun diserang masalah...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Hal buruk apalagi yang kamu lakukan?"
"Apa Mama akan mempercayainya?" Callum mengangkat kepala, ia tatap ibunya dengan kedua tangan mengepal kuat. Buku jarinya memerah dan lukanya kembali berkedut. Ia lelah dengan perhatian yang tidak sesuai dengan harapannya ini. Datang hanya untuk menghancurkan ekspektasi, lantas pergi meninggalkan luka di hati.
Aubrey menghela napas, ia agak frustasi menangani perilaku Callum yang kian hari sulit ditebak. "Sebenarnya apa yang terjadi hingga kamu menjadi seperti ini?"
"Rowan meminta uang, aku menolak dan dia menamparku," jawab Callum tanpa takut dan ia sudah mempredeksi sesuatu yang akan terjadi.
Aubrey pikir ini lebih parah dari sekedar pemuda yang disebut haus akan perhatian. "Bisakah kamu berhenti membual seperti ini, Andrew? Aku lelah mendengarnya."
Bisa ia rasakan asinnya darah dan rasa sakit samar di sudut bibir. "Aku mulai menerima apa yang kamu inginkan, tapi tidak semua hal bisa kuwujudkan."
Callum meletakkan kunci apartemen dan beberapa kartu kredit di atas meja. Ia terlalu lelah untuk berdebat, hatinya teramat sesak untuk mengatakan seluruh rasa sakit hatinya saat ini.
Lalu kapankah momen yang tepat untuk mengatakannya?
Ia seolah terjebak di lingkaran kegelapan. Selalu tersiksa saat ingin membuat keputusan, tetapi pertemuan kali ini sedikit membuka matanya akan pilihan yang benar-benar harus diambil.
Callum tak menoleh dan ibunya pun tidak menahannya. Memang terlihat miris, tetapi begitulah adanya. Ikatan darah selayaknya status biasa yang tak mampu menembus jurang pemisah antara keduanya. Ia sudah berusaha, tetapi selalu mendapatkan pil pahit. Pada akhirnya semua tergantung pada dirinya sendiri, tetap mengejar sesuatu yang selalu membuat hatinya sakit ataukah mewujudkan mimpinya.
"Aku tidak memiliki apa-apa lagi, dia mengambil semuanya," ujar Callum ketika berpapasan dengan seorang pria yang melukai tangannya beberapa hari yang lalu. "Kalian memang sangat menyedihkan."
Cercaan Callum langsung menyulut Rowan. Ia berbalik ingin menghajarnya, tetapi kini pemuda itu pun tak tinggal diam, ia menyerang balik. Satu pukulan telak menghantam rahang kanan Rowan.
"Ternyata memukulmu cukup untuk meringankan kekesalanku." Ia rogoh salah satu celana denimnya. Ia menyerigai sambil menghempaskan sepuluh lembar pecahan seratus dolar Kanada. "Semoga cukup."
Sudah tak terhitung berapa banyak uang dihamburkan orang-orang itu yang didapat dari hasil memanfaatkan dirinya. Callum tidak takut untuk melawan, tetapi dirasa akan sia-sia jika semua itu dihadapkan pada ibunya. Pada akhirnya dirinyalah yang ditunjuk menjadi sang pelaku kebohongan.
Berharap memang sangat menyakitkan dari apa yang selama ini rasakan dan sekarang ia berada di masa kelelahan batin yang cukup mengusik.