6. Two Sides in One Story

16 7 6
                                        

Ia menatap telapak tangan kanannya yang berdarah seolah tengah menonton film yang begitu menarik

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ia menatap telapak tangan kanannya yang berdarah seolah tengah menonton film yang begitu menarik. Ia resapi segala rasa nyeri yang menusuk serta membiarkan cairan merah kental itu mengotori sepatu putihnya.

Sejak kecil hidupnya memanglah dirasa tak normal. Tumbuh sebagai anak hasil inseminasi buatan, lantas dikukung oleh orang-orang yang memanfaatkan keberadaannya sebagai batu loncatan. Memang seolah tak ada akhirnya, ia selalu dikejar dengan puluhan cara untuk dipaksa kembali ke neraka kehidupan.

Senja menyapa, tetapi ia enggan untuk pulang. Dengan luka baru ini, ia tak ingin menciptakan keributan. Terlebih lagi jika suruhan ibunya mengetahui apa yang sudah menimpanya, itu akan sangat menyebalkan.

"Seharusnya kamu tidak membiarkannya seperti itu."

Callum menoleh, lantas kembali memperhatikan darahnya yang masih menetes. Sepatu putihnya seolah berubah warna karena cairan itu mengering.

"Apa kamu merasa terusik karena keberadaanku?" ujar gadis itu tak enak hati.

"Maaf, jika kamu selalu merasa seperti itu. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana."

Suara pemuda itu berat, tetapi penuturannya lembut. Karakter wajahnya memang dingin, tetapi kali ini atas ketidaksengajaan, Laras mendapatkan suatu hal baru dari sosok itu. Cukup lama ia memperhatikan Callum dari kejauhan, termasuk saat pria misterius mengancam pemuda itu di dekat taman.

"Pertama-tama bersihkan lukamu dulu." Laras mengeluarkan tas kecil yang berisikan alkohol, perban dan kain kasa di ranselnya.

"Kamu pasti melihat kejadian beberapa saat yang lalu, bukan?" ujar Callum sambil menatap tangannya yang tengah dibersihkan oleh Laras.

Itu terdengar seperti sebuah pernyataan daripada sebuah pertanyaan. Tentu Laras menyaksikan semuanya, terutama pada perlakuan kasar seorang pria terhadap Callum.

"Tak masalah ... bagiku itu sudah seperti rahasia umum." Bagi Callum itu bukanlah masalah besar, ibunya juga tak akan percaya dengan apa yang ia alami ketika mengetahui siapa pelakunya.

Sorot mata Callum nan tajam seolah bersiap mencabik siapapun yang berani memandang, tetapi bagi Laras, akibat ketidaksengajaan, beberapa kali ia menyaksikan sisi yang bertolak belakang dari yang selama ini ia lihat sebelumnya.

Ia tak sepenuhnya mengenal Callum selain pertemuan beruntun tidak terduga akhir-akhir ini. Namun, selalu ada rasa tertarik melihat pemuda itu beraktifitas sendirian dan sekarang di bawah pencahayaan yang cukup terang, ia bisa melihat betapa uniknya iris Callum dari dekat.

"Sepertinya kamu mengalami banyak hal buruk." Ia berniat untuk mengucapkannya di dalam hati, tetapi malah menjadi gumaman yang dapat didengar begitu jelas.

"Hidup memang begitu, 'kan? Ada yang selalu mendapatkan hal-hal menyenangkan, kemudian ada pihak tertentu yang terus-menerus kesakitan." Callum berdiri. "Terima kasih, kamu membuatku punya alasan untuk terus hidup."

Call Me Dante!Stories to obsess over. Discover now