Beomgyu mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia bak pangeran yang dipingit dan baru keluar dari istananya. Walau Asahi bilang Beomgyu terlihat seperti orang tolol.
Sepanjang perjalanan, Beomgyu hanya terdiam, terlalu bingung harus mulai dari mana. Didukung oleh petuah Asahi di kapal beberapa saat yang lalu, agar Beomgyu tidak banyak bertanya.
Peradaban sudah berubah, jauh sekali, dibandingkan oleh saat terakhir kali Beomgyu hidup.
Bagaimana bisa Asahi menyetir kendaraan roda empat, dan bagaimana ada tempat yang luas di bagian belakang kendaraan itu yang menyimpan semua hal yang Ryujin butuhkan.
Bagaimana bisa... dunia jadi seramai ini? Sejauh mata memandang, yang Beomgyu lihat hanyalah orang, kendaraan, dan gedung tinggi.
Bagaimana cara mereka membangun gedung-gedung itu? Kata Hyunbin, itu butuh waktu yang lama.
Semua hal yang Hyunbin ceritakan di depan kelas kini nyata! Beomgyu melihatnya! Beomgyu melihat semuanya.
Hal-hal yang hanya ada di kota... kini sudah ada dimana-mana! Jika bertemu Hyunbin, Beomgyu akan menyombongkan semua yang dilihatnya hari ini.
"Kalian tinggal disini." Ucap Asahi menghentikan kendaraannya.
Beomgyu melihat sebuah rumah kecil bertingkat tiga, dengan tangga diluarnya. Ryujin menarik tangan Beomgyu setelah menerima kunci dari Asahi.
Ryujin membuka pintu kamar tingkat pertama. Didalamnya ada dapur, meja makan yang hanya punya dua kursi, sebuah sofa, dan dua benda kotak yang tidak Beomgyu tau apa namanya.
Rumah kecil itu cukup luas. Ryujin menunjuk mana kamarnya dan kemana Beomgyu harus meletakkan tas, dia punya kamar sendiri!
"Apa ini?" Tanya Beomgyu, benda persegi panjang yang tertempel di dinding menarik matanya.
"Televisi."
"Gunanya untuk apa?"
"Menonton siaran?" Jawab Ryujin tidak yakin, "Beomgyu, mari kita belajar bahasa kekinian. Kamu tidak bisa bebas berkeliaran dengan bahasa super bakumu itu."
"Bahasa kekinian?"
"Iya, lebih kerennya lagi disebut bahasa gaul atau slang. Bahasa yang digunakan aku dan Asahi."
"Memangnya ada yang salah dengan caraku bicara selama ini?"
"Tidak, tapi anak zaman sekarang... lebih senang menggunakan bahasaku dan Asahi."
"Oh, iya, zaman sudah berubah..."
"Betul, sekar---"
"Gue pergi." Pamit Asahi.
"Yo, hati-hati!" Ucap Ryujin.
"Oke." Jawab Beomgyu singkat, melirik Ryujin meminta persetujuan.
Ryujin tersenyum, "Awal yang bagus, Beomgyu!" Ucap Ryujin riang, menyodorkan tangannya.
"Ini artinya aku harus menepuk tanganmu, bukan?"
Ryujin mengangguk riang, sesi pembelajaran 'bahasa' dimulai.
Asahi memandang punggung yang ia kenal lamat-lamat.
Kalau boleh jujur, Asahi tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Namun segala yang akan dihadapi oleh temannya satu itu lebih tidak pasti dan kemungkinan terburuknya... sangatlah buruk.
Asahi memberanikan dirinya untuk menghampiri Jaehyuk.
"Hai." Sapa Asahi canggung.
Jaehyuk membulatkan matanya, "Asahi?!"
"Ya."
"Sialan lo." Maki Jaehyuk, rasanya ingin meninju wajah pucat Asahi.
"Maaf." Ucap Asahi.
"..."
"Maaf."
"..."
"Jaehyuk, gue minta maaf."
"Apa dengan maafin lo bisa buat gue balik ke dunia? Gue bahkan belum sempat bilang apa-apa sama orang tua---"
"Gue punya cara biar lo bisa bilang semuanya ke orang tua lo." Potong Asahi.
"Lo yang nyampein? Eng---"
"Bukan, lo yang sampein." Potong Asahi lagi
"Gimana?" Tanya Jaehyuk, dia penasaran.
Asahi menarik tangan Jaehyuk, "Gue ngantri dari kemaren!" Protes Jaehyuk.
"Nanti gue kasih jalan cepat ke jembatan."
"Lo siapa sih?" Tanya Jaehyuk dengan nada sinis.
"..."
"Gak usah pegang-pegang." Cerca Jaehyuk menepis tangan Asahi yang menempel pada lengannya.
"Maaf." Pinta Asahi sekali lagi.
"Maaf lo gak guna."
"Marahin aja. Gue gak apa-apa."
"Ya jelas, lo tetap hidup mau gue tendang sampai nyungsep ke sungai nil juga."
Asahi menghela napasnya, "Maaf karena gak bisa buat Ryujin berhenti, seharusnya gue ngomong lebih jelas sama lo. Biarin gue nebus semua kesalahan gue dengan ini. Gue gak minta lo untuk maafin gue, gue tau kesalahan gue kelewat besar. Gue cuman mau minta maaf karena ngerasa... sangat jahat sama lo." Jelas Asahi, memperbesar langkahnya dan menjauhi Jaehyuk.
Itu jelas kalimat terpanjang yang pernah Jaehyuk dengar keluar dari mulut Asahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Found Her
FanfictionKeseharian Beomgyu selalu terasa hampa, dia sudah siap untuk menghilang dari alam semesta. Dihitung hari demi hari kepergiannya yang tak kunjung datang, sampai hal yang lain berlabuh; Ryujin. [The Arcane Universe : Book II]
