Bagian 4 : Penelusuran Diam-diam

21 15 0
                                        

       Malam ini aku sedang menonton TV sambil menunggu Kak Bian selesai memasak untuk makan malam kami. Sebenarnya aku sama sekali tidak memperhatikan acara yang sedang ditayangkan di TV saat ini, aku sama sekali tidak tertarik. Pikiranku terus menuju pada kasus menyebalkan itu, sialan memang. Aku jadi overthinking seperti ini sepanjang hari.

Lalu soal Andi tadi pagi, itu juga semakin membuatku berpikir-pikir tentangnya. Apa memang benar Andi juga sedang mencari tahu tentang pembunuhan ini, ya? Itu bisa saja. Tapi aku yakin suatu hal, Andi pasti mencurigaiku, atau bahkan menetapkan aku sebagai salah satu tersangka karena mungkin gerak-gerikku mencurigakan.

Terkadang aku berpikir, apakah Andi juga berpikir sama seperti apa yang aku pikirkan, ya? Aneh sekali, aku menganggapnya sebagai seseorang yang tahu sesuatu soal kasus ini, apakah Andi juga demikian? Menganggap aku sebagai seseorang yang tahu sesuatu tentang kasus ini juga.

Setelah tadi Andi mengatakan, aku tidak mungkin pembunuhnya. Dia langsung pergi begitu saja ke arah rumahnya. Aku sebelumnya terus berdiri melihatnya berjalan semakin jauh, lalu aku sendiri kembali ke arah semak-semak untuk pulang ke rumah. Hah, pada akhirnya aku juga tidak dapat menemukan gunting itu, padahal aku sudah dua kali mencarinya.

"Tiara, ayo. Makanannya siap, kamu mau nonton TV terus?"

Aku langsung menengok pada Kak Bian yang saat ini kulihat dia sedang mempersiapkan meja makan untuk makan malam kami.

Ngomong-ngomong, memang ini sudah menjadi kebiasaan kami, mungkin lebih tepatnya kebiasaan burukku. Karena Kakakku yang selalu memasak sarapan dan makan malam untuk kami berdua, sedangkan aku hanya bisa memperhatikannya saja, seperti orang tidak berguna. Bahkan memasak saja jarang, saat memikirkan tentang ini lagi aku semakin merasa jika aku lebih cocok menjadi beban Kakakku, bukan sebagai adiknya.

Karena itulah, aku memutuskan untuk mencaritahu tentang kasus ini diam-diam. Aku tidak tahu apakah mereka memang menetapkan Kak Bian sebagai tersangka atau tidak, tapi setidaknya jika aku mencaritahu ini, aku mendapatkan beberapa bukti dan mereka akan menghentikan penyelidikan pada Kakak, karena kasus ini tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan Kakak ku, aku yakin sekali karena aku melihat sendiri postur tubuh si pembunuh tidak ada sama persisnya dengan Kakakku.

"Kenapa, Tiara? Kok ngelamun? Kakak heran, hal apa yang bikin kamu akhir-akhir ini suka tiba-tiba kayak mikirin sesuatu, penting banget?"

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba suara Kak Bian membawaku kembali pada kenyataan setelah sesaat aku terlarut dalam pikiranku sendiri. Aku menengok dan mendapati Kak Bian yang saat ini sedang duduk diam menatapku dengan dahi berkerut.

Seakan menunggu jawaban, aku lantas mengeluarkan suara agar Kak Bian tidak melihatku dengan tatapan penasaran seperti itu.

"Nggak ada, kok, Kak."

Sebenarnya aku ingin langsung menanyakan hal apa yang Kak Bian bicarakan tadi pagi dengan tim, tapi aku membatalkannya untuk sekarang. Aku tidak enak jika menanyakannya sekarang, lagipula malam ini sekarang harusnya kami santai dan menikmati makanan.

Untuk saat ini juga mungkin Kak Bian tidak ingin membicarakannya dulu, tidak mungkin 'kan aku langsung menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang pasti akan terlihat seperti sedang mengintrogasi Kak Bian. Dia pasti akan tersinggung karena bisa saja dia menganggap aku mencurigainya macam-macam karena dia dipanggil oleh tim.

"Sekolah kamu katanya libur seminggu, ya? Lumayan, tuh, kamu ada rencana gunain waktu luang buat liburan, nggak?"

Aku menengok kembali pada Kak Bian, saat ini dia juga melihat padaku. Memang sudah menjadi kebiasaan kami, jika berbicara pada orang itu harus selalu melihat wajahnya, dan sayangnya ajaran yang sopan itu berasal dari Ayah kami. Aku terkadang tidak menyangka bagaimana seorang Ayah yang mengajari sopan santun kepada anak-anaknya, malah dirinya sendiri seperti orang yang tidak tahu malu.

Hidden LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang