07 [Teman]

1K 91 3
                                        

Jungkook tengah menyusun buku pelajaran untuk esok hari. Selepas ia menyelesaikan tugas rumahnya tadi. Ia bangun lalu beralih duduk ditepi kasur. Mengambil obat dalam laci lalu meminumnya sebutir.

Obat itu masuk dengan mulus. Ia mengelap sudut bibirnya lalu mulai menaiki ranjang. Menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut tebal miliknya lantas berbaring hendak tidur.

Tiba-tiba ia tersentak. Otaknya mengingat sesuatu yang harus segera ia lakukan.

"Oh! Aku harus segera menulisnya!" Jungkook langsung melompat dari kasurnya. Duduk di meja belajar lagi dan membuka laci.

Sebuah buku bergembok ia ambil dari sana. Menulis beberapa kalimat di halaman kosong berikutnya.

Setelah selesai, ia tersenyum senang. Ia pikir inilah cara terbaik jika sewaktu-waktu sesuatu terjadi padanya.

"Semuanya sudah ku tulis disini. Eumm apa yang terlewat ya?" Jungkook berpikir lagi, mengingat hal tadi sore yang ia lakukan bersama ayah dan Seokjin hyung.

"Ah tentang itu..." Wajahnya berubah murung.

"Apa harus aku menulis itu? Huft merusak moment bahagia di buku ini." Jungkook menghela nafasnya. Sedikit tak rela saat ia mulai menulis sikap ayahnya tadi sore yang memintanya untuk menjalani operasi. Harus ada sebaris kata pahit di buku kenangannya.

Temaramnya lampu belajar, heningnya suasana kamar ini, memberi kenangan terindah disetiap malam seorang Kim Jungkook. Mengisi malam sebelum tidurnya dengan menulis apapun yang terjadi seharian itu, Jungkook tak pernah merasa bosan. Ia ingin suatu saat nanti, ia masih terus mengingatnya. Ia tak mau kenangan manis maupun pahit yang pernah ia alami akan dilupakan olehnya. Bagaimana pun sesuatu pasti akan terjadi, padanya. Entah esok atau lusa.

***

Pagi yang cerah secerah hati seorang Kim Jungkook. Mengawali hari dengan mengecup tangan sang ayah yang justru dibalas dengan kecupan seribu kali oleh Namjoon.

"Dah ayaah..." Jungkook melambaikan tangan pada pria berdimpel yang telah mengantarnya. Namjoon pun membalas dengan senyum merekah tak lupa tangan yang ia lambaikan juga.

Jungkook melangkah menyusuri koridor sekolah. Naik ke lantai dua, tempat kelasnya berada. Selalu ada sapaan ramah yang terucap dari bibir mungilnya. Banyak dari teman-temannya yang tersenyum simpul apalagi para yeoja.

Langkahnya mengajaknya masuk ke ruang 10A. Kelas yang selalu tertib dan bersih. Jungkook duduk di bangku paling depan bersejajar dengan Jimin.

"Oy!"

Jimin seketika terlonjak. Ia melepas earphone nya yang menyumpal kedua telinganya hingga membuatnya tak sadar akan kehadiran Jungkook.

"Yak kenapa mengagetkan ku!" Kesalnya. Jungkook terkikik mendengar itu.

"Puas sekali sepertinya." Jimin berceloteh. Jungkook semakin tertawa lebar.

"Hahaaa... Mian, Jimin. Kau lucu sekali hahaa..." Melihat ekspresi kaget Jimin, Jungkook tak hentinya tertawa, membuat Jimin keheranan lalu mengabaikannya.

"Berhenti tertawa!" Pintanya. Jungkook mencoba menghentikan tawanya perlahan.

Hingga suara ketukan dari sepasang sepatu menggema masuk ke dalam kelas mereka. Gurunya datang dengan high heels lima centi.

"Selamat pagi, haksaengdeul..."

"Pagi, saem..."

"Siapa yang tidak berangkat hari ini?"

"Nihil..."

Guru itu lanjut mempresensi muridnya dan mulai memberikan pelajaran. Hari ini jadwal pelajaran biologi. Jungkook tentu sangat senang sekali. Ini adalah pelajaran favoritnya sejak Smp.

Unforgettable | NamKookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang