Aku dan Atlas mulai sibuk dengan urusan masing-masing dia dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku.
Rutinitas malam yang sering ku lakukan dengan nya sudah tidak pernah kami lakukan lagi.
Hidupku seakan berputar pada porosnya tentang aku, Atlas dan Mirsha, pandemi benar-benar mengubah semuanya.
Semakin dewasa hidup semakin rumit, kenapa gak ada yang bilang kalau proses pendewasaan sesulit ini.
Saat ini aku sedang berada di rumah mirsha quality time kita berdua di rumah, terus beli makanan yang kita suka, ngobrolin banyak hal, nonton film, nyanyi dan banyak lagi apapun yang kita berdua suka.
"gimana lo sama si Atlas?” Tanya Mirsha padaku yang tengah duduk di samping nya seraya menyesap es kopi kesukaan ku.
“ya gitu” Ujarku bingung harus mengatakan apa karna aku dan Atlas itu membingungkan.
“lo sama si azka gimana?” Tanya ku.
“gue baru aja tadi malem ngungkapin perasaan gue sama dia” Ucap Mirsha pada ku dengan wajar suram nya, aku tidak menyangka dia seberani itu mengungkapkan merasa nya.
“Nih lo baca aja chatan gue” Mirsha memberikan handphonenya padaku.
Aku hanya bisa membayangkan rasa sakitnya, ketika cinta tak terbalaskan, bagaimana jika aku yang di posisi Mirsha sekarang ah aku tidak sanggup.
"Ish, udah lah mir berarti bukan dia orang nya yang di takdirkan buat lo, Allah pasti ngirimin seseorang yang lebih baik dari dia" Ucapku pada nya yang dibalas dengan tawa kerasnya.
“Iya, mau gimana lagi yang nama nya hati kan gak bisa di paksa, toh kalau dia suka gue, gue gak mau pacaran, kita gatau kan yang mana lebih dulu jodoh atau ajal” Ujarnya dengan senyuman, aku tau dia gak sekuat itu dia bisa nutupin itu kesemua orang tapi enggak ke aku.
“Jangan sedih Mir lo punya gue, dia bakal nyesel seumur hidup, gila aja sahabat gue yang cantik semok membahana gini gamau, kesel ih pengen gue pukul ginjalnya” Ujarku kesal tunggu aja ya azka lo bakal nyesel nantinya.
“Udah lah, gue gak sedih-sedih amat, gue masih ada iqbaal sama taehyung hehe” Ujarnya ini nih jiwa ngehalu kambuh, Mirsha tuh iqbaal garis keras terus taehyung di jadikan selingan olehnya, bisa-bisanya dia jadi in taehyung selingan hedeh.
“Iya deh terserah”
“Capek has” ujarnya menatap ku lalu focus memakan snack yang kami beli tadi.
Mirsha selalu menggilku dengan sebutan "Has" beda dari yang lain.
“Iya Mir capek, tapi hidup harus terus berjalan kan walaupun sulit”
“Kenapa gak ada yang bilang ya han kalau proses pendewasaan semenyakitkan ini” Ujarnya memaksakan senyumannya padaku dia selalu saja begitu, gak mau orang ikut dalam kesedihannya harus di pancing dulu baru mau cerita.
“Ngerasa gak sih, sekarang lebih akrab sama orang-orang yang dulunya sebatas kenal dan gak saling sapa, ada fase dimana kita perlu stay sama orang yang sama dan perlu juga open ke orang yang baru” Ucap Mirsha padaku.
“Iya mir, open ke orang baru juga perlu, tapi jangan asal open, entar nyakitin kalau gue stay aja deh,open nya entaran aja” ucap ku tersenyum padanya.
“Stay sama atlas nih ya” goda Mirsha.
“sama lo juga, lo kan spesial di hidup gue mir” Ujarku padanya masa iya aku cuman stay sama Atlas.
“hmm baper nih gue” Kata seraya menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya.
“dih gak usah baper gue cuman bercanda, kayak semesta yang suka bercanda haha” Ujarku pada mirsha yang dibalas dengan tawa kerasnya yang beradu dengan tawaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEMBUMI BERSAMA
Fiction générale"Maaf" ucap pria yang tengah berlutut di hadapan Hasya "Jadi selama ini kamu pura-pura, aku benci kamu!" gadis itu perlahan mundur. "Gak ada alasan lagi buat aku bertahan" "Hasya, maaf" ucap maaf pria itu dengan tangisan penyesalannya. BRAKK "HASYA"...
