Aku Istrimu

13 0 0
                                    

Seperti biasa, setiap pagi Meryem selalu melayani suaminya dengan telaten, memasak sarapan, menyetrika pakaian, dan perlengkapan lainnya, tapi hal itu tak juga membuat hati Yüksek luluh.

"Prang!" Pisau terjatuh, tersenggol tangan Meryem.

Yüksek yang melihat itu melirik sekilas, tak bersuara hanya diam saja, terus merapikan rambutnya di depan cermin. Ia beranjak. "Besok jangan pisau yang kau jatuhkan, kepalamu saja jatuhkan!" Ketus Yüksek melintasi Meryem yang tengah merapikan meja makan.

Tetap, ia selalu menelan kalimat pahit suaminya. Matanya yang berkaca-kaca menahan buliran jatuh, dan terus bersikap seolah tak mendengar ucapan suaminya. Meryem menyelesaikan kegiatannya, mengambil sepatu suaminya, mengantar ke depan.

Yüksek yang tengah tersenyum menggeser layar ponselnya, seketika berwajah datar, saat wajah Meryem terlihat. "Sudah, Letak di situ!" Bentaknya melihat Meryem menenteng sepatu miliknya.

Belum sempat bagi Meryem mengatakan sepatah katapun.

"Sudah pergi!" Timpal suaminya.

Beranjak dari itu, Meryem terus meyakinkan dirinya, bahwa ia kuat, ia tahu suaminya mencintainya, hanya caranya sedikit berbeda dari suami lainnya. Padahal, semua yang ia alami bukanlah bentuk cinta dari suaminya, tapi penyiksaan.

Meryem beranjak, meninggalkan suaminya, yang tengah duduk asik melanjutkan kegiatan ponselnya, ia tahu bagaimana pun iya bertanya, suaminya tidak akan pernah menjawab pertanyaannya.

Kembali terdengar suara dari arah tengah. "Meryem! mana bekal makan siangku! Mengapa belum kau bawakan juga! Kau mau aku terlambat dan aku akan dipecat!" Teriak Yüksek membabi buta.

Meryem pun datang menemuinya, dengan membawa rantang, bekal suaminya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Yüksek berlalu dari pandangannya, bahkan tidak mengiraukan Meryem yang telah menyodorkan tangannya untuk menyalam dirinya. Yüksek tidak pernah mau melakukan kegiatan itu,  meski sudah lama menikah, hari-hari pertama saja ia menyentuhnya, setelah itu ia tidak menganggap bahwa Meryem itu adalah istrinya.

Rumah tampak sepi, sepeninggalan Yüksek. Meryem bergegas meninggalkan rumah menuju butik miliknya. Meryem adalah seorang wanita yang sukses dalam karier, tapi tidak sesukses rumahtangganya, hal itulah yang menjadi tolak ukur Yüksek menyiksanya, lantaran iri dengan karir yang dimiliki Meryem, jauh lebih tinggi dari karir miliknya, bagaimana tidak, dia hanya seorang staf bawahan disebuah kantor, sedangkan Meryem pemilik butik terbaik nomor 3 di kota İzmir. Daripada dia terus menyiksa Meryem, seharusnya dia bisa bersikap dewasa, dengan mendukung istrinya.

Meryem sendiri tidak pernah membandingkan dirinya dengan suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi, kodrat seorang lelaki adalah harga dirinya, tentu hal itu yang menjadi tolak ukur Yüksek terus menyiksa Meryem, untuk dapat membuktikan bahwa dia lebih baik dari Meryem. Sikap pura-pura selalu ditunjukkannya kepada orangtua Meryem, untuk membuktikan bahwa, ia lebih berkuasa daripada Meryem. Setiap kali mereka berkunjung, ia tampak manis kepada Meryem, dan mengatakan, bahwa Meryem tidak ada apa-apanya tanpa dirinya, padahal sebaliknya. Hal itu yang membuat orangtua dari Meryem merasa beruntung memiliki menantu seperti Yüksek. Sayangnya, semua itu tidaklah benar, Meryem terlalu mengalah demi keselamatan dirinya dari siksaan Yüksek.

***

Hari semakin siang, kini Meryem sudah sampai di butik miliknya. Tampak beberapa pegawai tengah merapikan rak yang telah kosong. Meryem memasuki pintu tanpa mengucapkan apa-apa, para pegawai tidak mengetahui bahwa Meryem sudah berada diruangannya, ia menatap ruangan yang sudah ditinggalkan satu minggu lamanya, untuk mengurusi Yüksek di rumah.

Bahkan pernah, hanya untuk bertahan pada rumah tangga yang tidak sehat itu, Yüksek memaksakan Meryem untuk memilih antara dirinya dengan kariernya, namun itu semua hampir membuat Meryem bener-bener kehilangan usahanya, kariernya dan semua mimpinya, untuk seorang suami yang tidak mencintainya.

MenjerembaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang