Tiga hari sudah Lea dirawat di klinik Dokter Yulizar Ari. Tiga hari juga mereka menantikan hasil laboratorium mengenai kesehatan tubuh Lea.
Lea kesal masih belum diperbolehkan pulang oleh orang tuanya dan juga dokter laki-laki itu. Sungguh ia sangat jenuh, terus terbaring di brankar sembari menatap langit langit atap ruang inapnya.
Dengar dengar lusa baru Lea diperbolehkan pulang, bukan tanpa alasan badannya memang sudah tidak demam, tapi seluruh badannya masih merasa sakit terutama di badan bagian belakang. Bahkan sesekali ia sampai teriak ketika rasa sakit itu datang.
"Jadi gimana hasil lab nya dok?" tanya papa Rizal begitu melihat Dokter Yulizar Ari memegang kertas printan berwarna putih
"Baik silahkan duduk pak" perintah dokter itu.
Papa Rizal menurut duduk berhadapan dengan dokter Yulizar Ari. Raut wajahnya cemas mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut dokter.
Sementara mama Ica, ia menunggu Lea yang kini tengah terlelap tidur, harap maklum ia baru bisa tertidur sekarang karena semalaman terus meringik.
Sekitar 45 menit berlalu, mama Ica mendapati suara langkahan yang ia yakin itu suaminya lantas terbangun dari tempat duduknya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya mama Ica
Tidak ada jawaban atau perkataan yang keluar dari papa Rizal. Hanya ada tatapan sendu yang mengarah kepada putrinya, putri satu satunya, putri kesayangannya.
Berjalan mendekati brankar tempat putrinya tertidur, lantas papa Rizal mengusap pelan rambut Lea, "maafin papa sayang." ucapnya sembari mencium kening putrinya.
"Pa, Lea kenapa? Papa. Papa kenapa kaya gini?," Tanya mama Ica heran
Masih tidak ada jawaban, malah sekarang tangis papa Rizal pecah, membalikkan badan lalu memeluk tubuh istrinya.
Hal ini semakin membuat mama Ica kebingungan. 'Ada apa' tanya nya dalam hati.
Merasa tidak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya, lantas Mama Ica berjalan menuju ruang dokter Yulizar Ari.
Namun nihil, ia tidak menemukan dokter yang ia cari. Malah ia menemukan amplop putih beralamatkan tempatnya saat ini diatas meja. Ada nama Putrinya pula, lantas tanpa ragu ia membuka amplop yang berisi surat hasil lab itu.
Mama Ica membaca hasil lab tersebut.
Sekarang ia paham kenapa suaminya sedari tadi hanya diam saja bahkan malah tiba-tiba menangis.
"Lea." gumam mama Ica
"Ini benar hasil mu nak."
"Mama yakin pasti ini salah"
Menaruh lagi surat tadi tanpa memasukannya lagi ke amplop, mama Ica memutar haluan menuju ruang inap putrinya.
Sedangkan dokter Yulizar Ari, jangan ditanya kemana ia sekarang, ia menerima panggilan telepon dari rumah sakit, katanya ada korban kecelakaan yang harus di operasi bagian tulang kaki dan kepalanya.
Lea perlahan membuka matanya, menatap redup wajah orang yang berada di samping kiri nya, "papa." ucapnya.
"Kenapa sayang? kamu haus?. Mau minum atau lapar, mau makan sekarang?" tanya papa Rizal bertubi tubi
"Apa badan Lea masih sakit?" tanyanya lagi, padahal pertanyaan sebelumnya belum dijawab oleh Lea
"Lea haus. Mau minum tapi air hangat ya. Soalnya dingin banget"
Dingin? Argumen macam apa ini? Bahkan saat ini cuaca sedang panas panasnya, bisa dilihat dari warung diluar sana yang sampai keteteran karena pembeli es yang meningkat 5 kali lipat.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [ON GOING]
Подростковая литератураAzalea Natasha Bagaskara gadis remaja cantik penyuka hujan akrab di sapa Lea menjalani hidup sederhana padahal ia berasal dari keluarga yang kaya raya Lea memiliki sifat periang namun cukup tertutup untuk pribadi, jadi ketika ada masalah ia tak per...
![AZALEA [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/297413988-64-k528407.jpg)