Malam hari sehabis sholat isya', Niara pergi ke kamar ibunya untuk membicarakan sesuatu yang penting. Niara ingin meminta izin pada ibunya akan rencana yang telah ia buat sejak tadi pagi.
"Ibu ada di dalam?" ucap Niara sambil mengetuk pintu kamar ibunya.
"Masuk aja, Nak. Pintunya gak ibu kunci kok, ada apa?" sahut ibunya yang menjawab dari dalam kamar.
Niara membuka pintu dan memasuki kamar ibunya yang di dalamnya hanya terdapat sebuah matras sebagai alas tidur dan sebuah lemari kecil yeang bentukannya sudah hampir rubuh.
"Niara boleh kerja sambil kuliah gak, Bu? Jadi Niara punya uang sendiri buat uang jajan Niara dan ibu gak terlalu capek kerjanya," jelas Niara.
"Memangnya kamu mau kerja apa, Nak? Ibu masih sanggup kok kalau cuma buat makan kita sehari-hari dan uang jajan kamu, nanti nilai kuliah kamu terganggu kalau kamu sambil kerja, Nak." sahut ibu.
"Nggak akan, Bu. Niara janji akan tetap jaga nilai Niara, lagian Niara udah besar sekarang. Kebutuhan Niara juga akan makin banyak, kasihan ibu kalau harus kerja sendirian memenuhi kebutuhan kita, Bu," jawab Niara, "semenjak ayah meninggal, ibu sudah bekerja keras selama sepuluh tahun demi Niara. Jadi, sekarang sudah waktunya Niara yang jagain ibu dan memenuhi kebutuhan kita. Lagian, kerjaan Niara itu gampang kok bu sambil nunggu Niara lulus nanti. Temen Niara nawarin kerjaan di cafe milik saudaranya dan sudah tahu juga kalau Niara masih kuliah, jadi boleh ya Niara kerja, bu?"
"Ya sudah, apapun yang terbaik buat kamu, Nak. Kalau kamu capek, jangan dipaksain ya! Ibu masih kuat kok kalau cuma buat kebutuhan kita. Ingat pesan Ibu, sesibuk apapun kita jangan lupa untuk ibadah dan beramal juga selalu berprasangka baik, karena prasangka yang baik akan mendatangkan kebaikan buat kita meski awalnya dipenuhi dengan air mata. Ingat pesan Ibu ya, Nak! Jaga diri kamu di manapun kamu berada." Ibu memberikan izin sekaligus menyampaikan beberapa nasihat kepada Niara.
"Iya, Bu. Niara pasti akan selalu mengutamakan kewajiban Niara dan menjaga diri di manapun Niara berada. Doakan Niara sukses dan bisa membagi waktu ya, Bu?"
"Pasti, Nak. Doa Ibu selalu inginkan yang terbaik untukmu. Hati-hati kalau kerja, jangan mempunyai niat buruk meski terdapat kesempatan yang datang di mana pun kamu berada terutama di tempat kamu bekerja nanti."
"Iya, Bu," sahut Niara, "Niara balik ke kamar dulu ya, bu? Terima kasih karena sudah mengizinkan Niara buat kerja, selamat malam Ibu selamat beristirahat."
"Iya, Nak. Selamat malam"
Niara keluar dari kamar ibunya menuju kamarnya, tapi sebelum itu ia mampir dulu ke kamar mandi sebab ia ingin mengambil wudhu' untuk melakukan tadarus seperti biasanya.
Niara senang, karena ternyata ibunya mengizinkan dia untuk bekerja menjadi pelayan cafe yang tadi siang sempat ditawarkan oleh temannya, Hesti yang sempat menjadi satu team dengannya waktu MOS dulu.
---
Siang hari sebelumnya di ruang kelas anak komputer, Hesti datang menghampiri Niara yang sedang sibuk menulis sesuatu di bukunya.
"Lagi sibuk apa sih, Ra? Serius amat nulisnya," kata Hesti sambil mencoba melihat yang sedang ditulis Niara.
"Eh, nggak kok. Ada apa ya, Hes? Tumben, mau makan siang bareng?" tanya Niara yang segera menutup bukunya.
"Hayoo, lagi nulis apa nih? Surat cinta ya? Haha." goda Hesti yang membuat Niara salah tingkah sendiri.
"Apaan sih? Nggak lah, surat cinta buat siapa coba? Saat ini aku cuma mau fokus sama kuliah dulu, biar nanti bisa sukses." elak Niara.
"Hahaha, iya deh iya. Gini, kamu punya temen atau saudara yang lagi butuh kerjaan gak? Soalnya di cafe saudaraku kekurangan karyawan, katanya sih kalau bisa cewek. Kamu ada gak kira-kira yang sekiranya anaknya tuh cekatan dan gak manja? Soalnya cafe saudaraku itu rame banget," Hesti menjelaskan tujuannya mendatangi Niara siang itu.
"Kurang tau sih, Hes. Kalau buat anak kuliahan bisa gak ya kira-kira? Part time gitu maksudnya," jawab Niara.
E
"Kayaknya sih boleh-boleh aja, Ra. Emangnya siapa yang mau kerja?"
"Aku, hehe. Biar bisa buat tambah-tambah uang jajanku, Hes." Niara menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Kalau kamu mah gampang, biar nanti aku yang ngomong sama saudaraku. Tapi apa gak ganggu kuliahmu, Ra?"
"Enggak, otakku gini-gini encer tau. Tapi aku mau minta izin dulu sama ibu aku ya, takutnya beliau gak kasih izin. Jangan tawarin ke yang lain dulu sebelum ada kabar dariku ya, Hes. Awas aja kamu!"
"Iya, Ra iya. Sans ae lah, aku bakal nunggu kabar darimu secepatnya ya."
"Siap, Hes. Ntar malam aku kabarin deh, bisa atau enggaknya!"
"Oke deh, sok lanjutin nulisnya. Aku mau balik ke mejaku." kata Hesti sambil melangkah meninggalkan meja Niara.
***
Niara segera mengambil barang elektronik gepeng itu dan memencet aplikasi berwarna hijau, lalu mencari nomor seseorang yang hendak ia kabari malam ini.
'Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah, ibuku ngasih aku izin buat kerja di tempat saudaramu itu. Kira-kira kapan ya aku bisa mulai kerja?' isi pesan yang dilayangkan oleh Niara kepada Hesti.
'Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Gimana kalau besok sepulang kuliah, kita mampir dulu ke sana? Jadi nanti biar kamu bisa nanya langsung ke saudaraku itu mengenai jam kerja dan sebagainya.' balas Hesti selang beberapa menit.
'Aku sih ayo aja, tapi besok ke sana aku bareng kamu ya? Soalnya kalau aku sendirian ke sana gak berani, malu aku.'
'Iya, besok aku temenin sekalian aku bantu kamu deh takutnya nanti kamu gugup. Aku besok bawa motor sendiri kok, tenang aja.'
'Siap, terima kasih ya, Hesti bawel' Niara tersenyum sendiri saat mengirimkan pesan itu.
'Dasar_- kebiasaan banget,'
'hahaha, canda sayang. Ya udah, sampai ketemu besok di kampus ya.'
'Iya, Ra (mengirimkan emot jempol)'
Niara tak membalas lagi pesan dari Hesti karena ia harus lanjut mengerjakan tugasnya yang masih belum juga selesai.
Sebelum itu, ia sempat melihat ada beberapa pesan dari Richard. Niara hanya membacanya saja yang isi chatnya hanya menanyakan mengenai tugas-tugas dan mengajak Niara untuk keluar bertiga dengan Dewi.
Akhirnya benda elektronik gepeng itu kembali ditaruhnya dan mengambil beberapa buku tugas dan ia mulai mencatat apa-apa yang perlu ia catat. Pikirannya sudah mulai tak fokus, karena terbagi untuk beberapa hal. Mulai dari membayangkan mengenai besok ia yang akan menemui calon bosnya, pesan dari Richard dan juga chat dari Vicky yang kembali mengajaknya untuk berangkat bersama esok hari.
Ia segera menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk fokus mengerjakan tugasnya itu meski deadlinenya masih minggu depan, sudah menjadi kebiasaannya untuk mengerjakan tugasnya sesegera mungkin agar tak menumpuk.
#adujotosbatch3 #adujotoshwc
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak bertuan
RandomLika-liku kehidupan seorang anak perkuliahan dalam memperjuangkan cinta dalam diam terhadap sahabatnya sendiri.
