BAB V - Perubahan

6 2 1
                                        

Hari demi hari telah berganti, hingga tak terasa sudah sebulan lebih Richard, Niara dan Dewi bersahabat. Namun, benar apa yang dikata banyak orang 'Tak ada yang namanya persahabatan murni di antara laki-laki dan perempuan'.
Begitu pula Richard yang justru menyukai Dewi hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya dan ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan, ternyata Dewi memang sudah menyukai Richard semenjak hari di mana ia di antar pulang hari lalu.
Mereka berdua pun akhirnya resmi berpacaran tetapi Richard meminta agar tak diberi jarak dengan Niara, karena bagaimanapun dia adalah sahabat terbaiknya sejak masih bersekolah di menengah pertama. Dewi tak keberatan akan permintaan Richard karena bagaimanapun Niara juga merupakan sahabatnya di Universitas ini selain Richard yang sekarang telah berubah status menjadi kekasihnya.

---

Meski Richard kini telah menjadi kekasih Dewi, tetapi dia masih lebih sering bersama dengan Niara karena bagaimanapun ia sahabatnya sekaligus teman satu jurusan. Jadi mereka sering mengerjakan tugas bersama-sama, ntah itu tugas berkelompok ataupun tugas individu.
Tapi tak jarang pula, Richard menemani Dewi mengerjakan tugas-tugasnya ntah hanya berdua atau bertiga dengan Niara.

Niara sebenarnya enggan untuk ikut pergi ketika kedua sahabatnya itu berencana akan keluar dengan apapun alasannya, tetapi Richard sering kali memaksanya untuk tetap ikut bahkan kadang sampai nekat menjemputnya meski ia sudah mengatakan tidak mau ikut.
Niara merasa jengah dan juga kesal dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus terjebak di antara sepasang kekasih yang masih di mabuk asmara ini? Kenapa ia tak bisa menolaknya dengan tegas? Ntah, Niara sendiri tak mengerti kenapa ini terjadi.

***

Di pagi hari yang tampak mendung dengan awan berwarna hitam kelabu menyelimuti langit seperti suasana hati Niara di hari ini, Richard tak bisa menjemputnya untuk berangkat bersama karena supir pribadi Dewi masih tak kunjung sembuh sehingga ia harus mengantar jemput Dewi-kekasihnya.
Akhirnya Niara memutuskan naik kendaraan umum yang biasa di sebut mikrolet atau bus mini di daerahnya untuk berangkat ke kampus, tetapi secara kebetulan Niara malah bertemu dengan Vicky di tengah ia menunggu mikrolet yang akan mengantarnya.

"Niara!" sapa Vicky memberhentikan motornya.

"Eh, kak Vicky." balas Niara sambil tersenyum.

"Mau berangkat ke kampus ya? Ayo bareng kakak aja!" ajak Vicky.

"Ngga usah kak, aku berangkat naik mikrolet aja biar gak nyusahin kakak," tolak Niara.

"Gak repot kok, lagian kakak juga mau ke kampus jadi kita searah. Ayo cepet naik, tidak menerima penolakan!" jelas Vicky.

"Beneran gak ngerepotin kakak kan?" tanya Niara.

"Iya, ayo cepetan naik, keburu telat nanti kita!" paksa Vicky.

"Iya, kak. Makasih, ya!"

Niara segera naik ke atas motor Vicky dan Vicky segera melajukan motornya menuju kampus. Niara memegang jaket yang dikenakan Vicky membuat jantung Vicky berdetak lebih cepat dari biasanya, ia menyunggingkan senyum di balik helm yang ia kenakan.
Senyuman yang sangat susah untuk didapatkan oleh orang lain, tetapi sangat mudah diciptakan oleh Niara terhadap Vicky.

Sesampainya di kampus, Vicky memilih untuk mengantarkan Niara sampai ruangannya terlebih dahulu sebelum ke ruangannya. Mereka berjalan beriringan yang berhasil membuat beberapa pasang mata terkejut dan ada juga yang kesal, karena Vicky terkenal sebagai senior yang paling dingin dan tidak suka diganggu terlebih oleh wanita, tetapi Niara bisa datang dan berjalan bersama Vicky begitu saja yang selalu diimpikan oleh teman seangkatan Vicky dan wanita yang menyukai Vicky tentunya.
Tatapan sinis dan cibiran pelan yang beberapa disertai dengan tangan yang menunjuk ditujukan ke arahnya, Niara merasa tak nyaman sekaligus takut sehingga ia memegang pergelangan tangan Vicky dan Vicky membalas menggenggam tangan Niarta agar ia tak perlu takut dan berjalan lebih cepat.

Setelah berada di depan ruangan, barulah Vicky mau melepaskan genggaman tangannya dan menyuruh Niara untuk segera masuk dan minta untuk mengabaikan apapun yang akan dia dengar, kalau ada yang berani macam-macam pada Niara di suruh kasih tau pada Vicky.
Niara memasuki kelasnya dan menulis sesuatu di buku pribadinya,

Sang Rembulan kehilangan cahayanya
Kerana matahari telah enggan menyinari
Sang bintang pun turut merasa sedih
Langit ditemani awan gelap menyelimuti

Hati ini mulai sepi
Selepas dirimu pergi
Bersama si pujaan hati
Tanpa peduli yang setia menemani

A.R

Setelah menulis beberapa kata, Niara segera menutup bukunya karena Richard sudah terlihat memasuki ruangan dan menghampirinya.

"Ra, maaf ya. Gak bisa jemput kamu soalnya aku harus jemput Dewi tadi," kata Richard.

"Iya, gak papa kok." ucap Niara.

"Kamu tadi berangkat sama siapa?" tanya Richard.

"Sama Kak Vicky, tadi kebetulan ketemu dia pas lagi nungguin mikrolet di pinggir jalan," jawab Niara.

"Ya udah, syukurlah kalau ada yang nganterin kamu." syukur Richard, "nanti kamu pulang sama siapa? Soalnya aku nanti mau nganterin Dewi dulu buat beli bahan-bahan untuk tugasnya, jadi aku gak bisa nganterin kamu."

"Gak tau, mungkin nanti aku naik mikrolet aja pulangnya. Hati-hati ya kalau nganterin Dewi, jangan ngebut. Jangan bikin anak orang takut, udah cukup muka kamu aja yang nakutin, haha." goda Niara.

"Iya, siap. Nakutin dari mana? Muka udah tampan gini dibilang nakutin, banyak tau yang naksir samaku." ucap Richard sambil bergaya.

"Hilih, perasaanmu aja itu. Dewi juga pasti lagi merem itu makanya mau nerima kamu, kalau melek kayaknya dia gak bakal mau haha." ejek Niara.

"Tau ah, kamu nyebelin. Ngatain sahabatnya sendiri mulu ish, gak baik tau kayak gitu." kata Richard sambil memanyunkan bibirnya.

"Hahaha, iya deh iya. Sahabatku ini tampan, kalau dilihat dari sedotan dan di ujung monas." ejek Niara lagi.

"Tau ah,"

Richard pergi berlalu begitu saja karena sebal diejekin oleh Niara, sedangkan Niara tertawa terbahak-bahak melihat Richard kesal. Sesederhana itu yang bisa membuat Niara bahagia, menggoda sahabat kesayangannya yang diam-diam ia sukai.

Setelah beberapa langkah, Richard berbalik arah dan mengajak Niara makan siang bareng nanti soalnya ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Niara, Niara hanya mengangguk pertanda ia setuju.
Seusai mendapat persetujuan Niara, Richard kembali ke tempat duduknya dan mengecek buku serta tugas-tugas yang harus diselesaikan hari ini juga.
Sedangkan Niara, ia melihat bagian punggung Richard tanpa berkedip. Cinta yang tulus dengan cara sederhana sebenarnya lebih dari apapun lagi, lebih menyakitkan tetapi sekaligus menguatkan dalam waktu yang bersamaan.
Mencintai dalam diam memang menantang, hanya orang-orang kuat yang bisa melakukannya dan Niara salah satu orang itu sebab hingga saat ini Richard tak tau mengenai rasanya.

#Adujotosbatch3 #adujotoshwc

Cinta tak bertuanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang