Sesampainya di kelas, Hesti telah menunggu di samping tempat duduknya.
"Dari mana aja sih? Aku tungguin dari tadi padahal. Habis ketemuan sama Kak Vicky, ya? Hahaha" tanyaI Hesti ketika Niara baru saja duduk.
"Enak aja, aku tadi habis ngejar Richard soalnya nyebelin eh malah nabrak si Dewi sampai jatuh, kasihan banget dan aku malah bengong aja gak bantuin, haha," jawab Niara.
"Dasar kamu, Ra. Bukannya bantuin malah bengong, kalau punya dendam mah jangan kek gitu juga, haha."
"Gak gitu, Hes. Aku tadi kaget soalnya nabrak Dewi sampai jatuh dia, reflekku kurang bagus, haha. Kalau tadi gak ditegur Richard mungkin aku bakal diem kek patung, mana bawaannya banyak banget dah kayak dosen aja." tutur Niara, "Eh, ngomong-ngomong kamu nungguin aku? Ada apa?"
"Gak ada sih cuma mau nanya, nanti jadi apa enggak ke kafe? Soalnya aku udah bilang sama sepupuku kalau kamu bakal datang nanti sore."
"Jadi dong, masa enggak. Jadi gak sabar aku tuh hihi, kira-kira aku bakal diterima gak ya sama sepupumu? Secara, aku kan sama sekali gak punya pengalaman kerja. Ini baru pertama kalinya aku buat kerja."
"Bisa kok tenang aja, kamu bakal diterima soalnya aku yang rekomendasiin kamu. Jadi, jangan buat aku kecewa loh ya, Ra. Kerja yang rajin dan teliti, karena di sana lumayan rame pengunjungnya." pesan Hesti.
"Iya, Hes. Aku bakal kerja dengan hati-hati kok, aku gak bakal bikin kamu malu. Tapi aku deg-degan, gugup aku."
"Santai aja, Ra. Sepupuku gak galak kok, dia baik orangnya dan ramah juga. Kalau dia galak, bilang aja sama aku biar aku marahin dia, haha." kata Hesti.
"Iya deh, Hes. Eh tapi nanti aku anterin pulang dulu ya? Ya kali aku mau ngelamar kerja dengan pakaian kayak gini dan bawa tas kuliah. Gak papa kan, Hes?"
"Oke lah, santai aja. Kata mama kalau bantuin orang gak boleh nanggung, nanti dandan yang rapi ya biar makin keliatan menarik soalnya kalau kerja di cafe itu yang utama adalah penampilan."
"Oke, Hesti."
Hesti menunjukkan jempolnya dan berlalu meninggalkan Niara menuju tempat duduknya sendiri.
***
Sepulang kuliah, Vicky sudah menunggu Niara di parkiran karena biasanya mereka akan pulang bareng. Niara lupa memberitahu Vicky bahwa dia akan pulang dengan Hesti hari ini dan mereka bertemu di parkiran kampus.
"Eh Kak Vicky belum pulang?" sapa Niara.
"Belum, ini baru selesai. Kamu mau pulang bareng?" jawab Vicky.
"Enggak deh, Kak. Aku ada perlu bareng temen aku kak, jadi pulang bareng sama dia, Kak." kata Niara menolak ajakan Vicky.
"Ya udah gak papa, hati-hati ya. Kabarin saya kalau udah pulang nanti!" titah Vicky.
"Iya, Kak. Nanti aku kabarin ya, aku pulang dulu ya, Kak." pamit Niara.
"Iya, hati-hati."
Niara dan Hesti tersenyum kepada Vicky, lalu Hesti melajukan sepeda motornya keluar dari parkiran melewati jalanan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang menuju rumah Niara.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka sampai di rumah Niara dan mengucapkan salam sebelum masuk meski di dalam rumah tak ada siapapun karena ibu Niara memang masih belum waktunya pulang kerja sore itu.
Niara menyuruh Hesti untuk duduk di kursi panjang di ruang tamunya lalu ia menuju dapur untuk mengambilkan minuman beserta camilan agar Hesti tak jenuh selama menunggunya.
***
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka sampai di kafe yang menjadi tujuan mereka sedari awal. Niara mengenakan pakaian kemeja berwarna putih dengan celana jeans hitam yang dilengkapi dengan riasan tipis di wajahnya membuat Niara makin terlihat cantik, postur tubuhnya yang ideal serta warna kulitnya yang kuning langsat membuat dirinya makin tampak menarik.
Mereka berdua langsung masuk dan para pekerja di sana yang melihat kedatangan Hesti langsung tersenyum, mereka semua tau bahwa Hesti sepupu dari bos mereka bekerja. Hesti menanyakan keberadaan Reyhan--sepupunya yang sekaligus juga pemilik kafe tersebut kepada salah satu pegawai di sana.
Setelah mengetahui bahwa Reyhan saat ini sedang ada di ruangannya, maka Hesti dan Niara segera pergi ke sana. Sesampainya di depan ruangan Reyhan, Hesti mengetuk pintu.
Tokk,,, tokk,,, tokk,,,.
"Masuk!" terdengar suara seseorang dari dalam yang tak lain adalah Reyhan.
Hesti membuka pintu dan menarik Niara agar masuk bersama dengannya, mereka berjalan hingga sampai di depan meja.
"Silahkan duduk!" titah Reyhan, "jadi dia yang akan kerja part time di sini, Hes?"
"Iya, Bang. Dia namanya Ayudia Niara biasa dipanggil Niara dan dia teman satu kampusku, untuk lebih jelasnya silahkan abang tanyakan sendiri ke orangnya." jawab Hesti.
"Baik. Sebelumnya kamu punya pengalaman kerja gak?" tanya Reyhan.
"Saya gak punya pengalaman kerja karena sebelumnya ibu saya gak ngizinin saya kerja, jadi bila saya diterima di sini akan jadi pengalaman pertama saya dalam bekerja, Pak." jawab Niara tanpa mengurangi ataupun menambah-nambahi.
"Jangan panggil saya bapak, karena usia kita gak terpaut jauh, panggil saya Bang Rey saja seperti Hesti memanggil saya. Oke, kalau begitu apa alasan kamu sampai mau membantu saya dalam mengelola bisnis kecil saya ini?"
"Baik, Pak. Alasan saya yang pertama, saya ingin mempunyai uang dari hasil jerih payah sendiri. Kedua, saya ingin membantu ibu saya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketiga, untuk nambah uang jajan, hehe." Niara menjawab pertanyaan kedua secara alamiah.
"Hahaha, iya iya baiklah. Lanjut pertanyaan selanjutnya, kamu masih kuliah, kan? Apa kira-kira kamu bisa bagi waktu antara jam kerja sama kuliah?"
"In syaa allah bisa, Bang. Tapi nanti kalau bisa saya minta mulai jam kerjanya bisa diganti kalau semisal nanti saya kebetulan ada jam pelajaran dari kampus, Bang!" pinta Niara.
"Baik, nanti biar saya aturkan jam kerjamu. Tapi kalau semisal nanti ada perubahan untuk jam kerja, jangan lupa buat kabari saya terlebih dahulu. Jangan sungkan, anggap saya kakak kamu sendiri dan anggap saja kamu di sini lagi nongkrong tapi digaji ya. Jadi kerja kamu gak akan terasa berat."
"Siap, Bang. Oh iya, nanti saya kerjanya di bagian mana ya, Bang? Jadi pelayan atau di bagian belakang?"
"Kamu jadi pelayan saja dulu ya, nanti kamu juga sambil belajar di belakang kalau pas lagi gak ada tamu yang pesan!"
"Siap, Bang."
"Jadi, Niara diterima nih, Bang?" tanya Hesti yang sedari tadi hanya mematung mendengarkan sesi wawancara Niara.
"Iya, temanmu Abang terima." ucap Reyhan, "apa besok sudah mulai kerja?"
"Bisa, Bang bisa." Jawab Niara bersemangat.
"Baiklah, besok jangan lupa datang jam dua sore untuk masa percobaan satu hari. Kalau kamu cocok, silahkan lanjut kerja, tapi kalau gak cocok kamu boleh mengundurkan diri." jelas Reyhan.
"Siap, Bang. Kebetulan besok kuliah hanya sampai jam dua belas. Ya sudah, kami boleh pamit?" kata Niara.
"Iya, silahkan!"
Niara dan Hesti lantas berdiri dan tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Reyhan, mereka berjalan menuju tempat sepeda Hesti terparkir. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menerobos jalanan yang dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang.
#adujotosbatch3 #adujotoshwc
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak bertuan
AcakLika-liku kehidupan seorang anak perkuliahan dalam memperjuangkan cinta dalam diam terhadap sahabatnya sendiri.
