Dobe is Idiot

523 59 53
                                        

Warning

Narusasu

Be El

Mature

Mk sama punya

###

###

###

Sasuke tidak pernah menyangka jika Naruto dapat dengan mudah musuh kalahkan. Pemandangan yang terhampar dalam retina yang sungguh memuakkan baginya seketika membuat bulu kuduknya meremang. Udara di dalam gua raksasa itu terasa berat, dingin, dan berbau tanah basah bercampur aroma chakra kuno yang asing.
Dinding-dinding batu hitam dihiasi oleh simbol-simbol aneh yang berpendar samar dengan warna ungu kelam, menerangi ruangan yang luas namun terasa sangat sesak.
Di tengah ruangan, sebuah altar batu kuno menjulang tinggi, dikelilingi oleh segel raksasa yang aktif berputar, memancarkan energi gelap yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan.

Dan tepat di tengah lingkaran segel itu...
Terbaring sebuah gumpalan kecil yang tak berdaya.
Seorang bayi laki-laki.
Anak tunggal mereka.
Buah hati dari cinta abadi antara Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke.

Bayi itu menangis tersedu-sedu, tangisan kecil yang penuh ketakutan dan kesepian.
Tangisan itu memantul di dinding gua, namun tidak ada yang datang menggendongnya.
Tidak ada ayah yang membelai pipinya yang lembut.
Hanya ada dua sosok yang berdiri tegak di sisi altar, menatap bayi itu dengan mata yang dingin dan penuh ambisi.

Sosok pertama berdiri paling depan.
Seorang gadis kecil yang terlihat berusia mungkin sekitar 10 atau 12 tahun.
Wajahnya cantik, kulitnya pucat, dan matanya berwarna biru pucat khas keturunan Otsutsuki.
Namanya AKARI.

Tapi siapa pun yang menilainya hanya sebagai anak kecil akan menyesal seumur hidupnya.
Di balik wajah polos itu tersimpan usia yang sudah lebih dari 100 TAHUN.
Dia adalah keturunan langsung klan Otsutsuki yang lolos dari perang besar zaman dahulu, makhluk yang haus kekuatan dan menganggap manusia hanyalah wadah atau alat semata.

Di sebelahnya berdiri seorang pria dewasa tinggi besar, berwajah dingin dan tegas.
SATOSHI.
Pengikut setia Akari yang sudah melayani selama puluhan tahun.
Matanya tajam, tangannya selalu siap mencabut senjata, dan kesetiaannya mutlak seperti budak yang tak punya keinginan sendiri.

"Waktunya sudah dekat, Satoshi." suara Akari terdengar lembut, manis, namun sangat mengerikan.
"Darah ini sempurna. Campuran darah Uzumaki yang memiliki energi kehidupan tak terbatas, dan darah Uchiha yang memiliki mata dewa... Anak ini adalah wadah terbaik yang pernah kita temukan."

"Benar, Nona Akari." jawab Satoshi datar.
"Dengan mengunci kekuatan di dalam tubuh anak ini atau mengorbankan nyawanya untuk membuka pintu dimensi... Kita akan mendapatkan kekuatan yang setara dengan para dewa."

Mereka tersenyum.
Senyum yang tidak memiliki belas kasihan sedikitpun.
Mereka tidak melihat seorang bayi yang tak bersalah.
Yang mereka lihat hanyalah alat, hanyalah kekuatan, hanyalah batu loncatan untuk ambisi gila mereka

Di dinding batu yang paling tinggi dan gelap,
terlihat sebuah sosok tubuh yang dipancang dengan batang besi hitam yang besar dan tajam.
Batang itu menembus bahu dan perutnya, menahannya agar tidak bisa bergerak sedikitpun.

NARUTO UZUMAKI.

Sang Hokage Ketujuh.
Penyelamat dunia.
Pria yang memiliki chakra tak terbatas dan kekuatan yang bisa menghancurkan gunung.

Tapi sekarang...
Dia hanya tergantung seperti boneka rusak.
Kepalanya terkulai lemas ke depan.
Rambut pirang ikoniknya kini kotor, berantakan, dan memerah oleh darah yang mengalir dari lukanya.
Pakaian Hokage-nya sobek-sobek, memperlihatkan tubuh kekarnya yang penuh luka dan lebam hitam.

Dia pingsan.
Atau lebih tepatnya, dia dipaksa tak sadarkan diri oleh segel khusus yang menyerap chakra-nya secara perlahan.
Kurama sudah diam, chakra-nya tersedot habis sampai dia tidak punya kekuatan bahkan untuk menggerakkan jari telunjuknya saja.

Wajahnya pucat pasi.
Napasnya dangkal dan putus-putus.
Terlihat begitu rapuh.
Terlihat begitu... kalah.

"SWUUUSHHH!!"

Tiga sosok melompat masuk melalui celah atap gua dengan kecepatan kilat.
Mendarat dengan berat di lantai batu, menimbulkan debu dan getaran kecil.

SASUKE UCHIHA.
Di sebelahnya GAARA sang Kazekage, dan SHIKAMARU NARA sang penasihat.

Mata mereka menyapu seluruh isi gua dalam sekejap.
Dan saat pandangan Sasuke jatuh ke dinding di atas sana...

Dunianya seakan berhenti berputar.

Waktu terasa melambat seratus kali lipat.
Darah di seluruh tubuhnya seakan membeku.
Tubuhnya terasa kaku, kakinya seakan dipaku ke tanah.

"Naruto..." bisiknya, suaranya bergetar hebat, hampir tidak terdengar.

Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
Naruto?
Naruto yang selalu tertawa lebar?
Naruto yang selalu berdiri paling depan melindungi semua orang?
Naruto yang bilang tidak akan pernah kalah selamanya?

Sekarang tergantung begitu saja.
Darah menetes perlahan dari tubuhnya, jatuh menimpa lantai batu dengan suara tetes... tetes... tetes... yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Sasuke.

"Tidak mungkin... ini tidak mungkin..."

Mata Sharingan Sasuke berputar cepat, memastikan ini bukan genjutsu.
Tapi tidak.
Ini nyata.
Ini kenyataan yang sangat pahit dan menyakitkan.
Pria terkuat yang dia kenal... dibuat tak berdaya semudah ini oleh makhluk-makhluk di depannya.

Tapi keterkejutan itu belum selesai.
Sasuke menurunkan pandangannya, menatap ke tengah gua.
Ke arah altar yang bersinar ungu itu.

Dan di sana...
Dia melihat satu gumpalan kecil.
Anak laki-lakinya.
Satu-satunya penerus mereka.

Hati Sasuke serasa diremas dengan tangan besi yang panas.
Jantungnya copot, berhenti berdetak selama beberapa detik.

"Anakku..."

Dada Sasuke sesak sekali sampai dia sulit bernapas.
Di depan matanya, Akari dan Satoshi sedang melafalkan mantra-mantra aneh.
Tangan-tangan mereka bergerak lambat, membentuk segel tangan.
Cahaya di sekitar altar makin terang, makin panas, dan makin mengerikan. Segel itu mulai menyusut, perlahan-lahan menutup dan akan mengunci bayi itu selamanya... atau membunuhnya sebagai persembahan.

"Ritual dimulai." suara Akari terdengar manis namun sadis.
"Kunci nyawa ini, ambil energinya, dan jadikanlah milik kita!"

APA?!

Mata Sasuke membelalak lebar, urat-urat di lehernya menonjol keluar.
Wajahnya memerah padam karena amarah yang meledak-ledak!

MENGORBANKAN ANAK SATU-SATUNYA?!
Mereka baru memeluknya beberapa bulan!
Anak itu bahkan belum bisa memanggil 'Ayah' atau 'Papa'!
Belum sempat merasakan kasih sayang dengan benar!
Belum sempat melihat dunia indah yang dibangun ayahnya dengan susah payah!

Dan mereka berani-beraninya mau membuang nyawa mungil itu cuma demi ambisi gila?!

"Bajingan... BAJINGAAAAAN!!"

Terakhir kali Sasuke merasa marah dan takut sebanyak ini... mungkin saat dia melihat Itachi mati.
Tapi kali ini... kali ini seratus kali lipat lebih menyakitkan!

Dia melihat Naruto yang tergantung tak sadar di sana.
Bayangkan apa yang dirasakan Naruto saat sadar nanti?
Bayangkan jika pria itu bangun dan melihat anak satu-satunya mati di depannya?
Sasuke yakin... Naruto tidak akan sanggup menerimanya.
Hati pria itu akan hancur berkeping-keping selamanya.

Dan Sasuke... Sasuke tidak akan membiarkan itu terjadi!

"Sasuke! Tenangkan dirimu! Itu Akari dan Satoshi! Mereka kuat!" teriak Shikamaru yang menyadari aura membunuh Sasuke sudah meledak tak terkendali.
"Kita harus pikirkan cara!"

"CARI APA LAGI?!" balas Sasuke dengan suara menggelegar, matanya kini berubah menjadi Rinnegan yang merah menyala terang.
"Lihat itu! Itu pasanganku! Itu anakku!
Kau mau aku duduk manis liat mereka mau dibunuh?!
GAK BISA!!"

Aura hitam pekat mengelilingi tubuh Sasuke.
Chakra-nya meledak begitu kuat hingga batu-batu kecil di lantai ikut bergetar dan terangkat.
Amarah seorang ayah dan seorang suami yang terluka sedang bangkit.

Di benak Sasuke, tiba-tiba terputar kenangan-kenangan indah.
Saat Naruto masih bercanda dengannya.
Saat mereka menantang dunia untuk bisa bersama.
Saat bayi itu lahir, Naruto menangis bahagia, memegang tangan kecil itu dengan gemetar.
Wajah polos anaknya itu saat tidur.
Suara tawa renyahnya.

Dan sekarang... semua itu mau diakhiri di tempat kotor dan gelap ini?
Oleh seorang gadis kecil yang umurnya sudah ratusan tahun dan pengikutnya yang gila?

"Naruto... maafkan aku...
Maafkan aku yang telat datang...
Maafkan aku yang membiarkanmu sendirian menahan mereka..."

Sasuke mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kuku menancap ke telapak tangan, mengeluarkan darah.
Dia menatap Naruto yang masih pingsan di sana.
Wajah damai namun menyedihkan itu.

'Tunggu aku...
Aku akan menyelamatkanmu.
Aku akan menyelamatkan anak kita.
Dan siapapun yang berani menyentuh satu helai rambut pun mereka...
Aku akan hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya!'

"GAARA! SHIKAMARU!" teriak Sasuke dengan suara dingin yang mematikan.
"Hentikan gadis kecil itu dan pria itu! Jangan biarkan segelnya tertutup!
Aku yang akan ambil Naruto!"

"Siap!" jawab Gaara dan Shikamaru serempak.

Pasir emas Gaara langsung meledak membentuk dinding pertahanan dan menyerang Satoshi yang mencoba menghalangi.
Bayangan Shikamaru melesat cepat mencoba mengikat Akari.
Kekacauan besar pun terjadi!

Tapi Sasuke tidak peduli dengan pertarungan di bawah sana.
Matanya hanya terfokus pada satu titik: DINDING ITU.

Dengan kecepatan yang menghilangkan bayangan,
Sasuke melesat ke atas.
Chakra mengumpul di tangannya, membentuk pedang Chidori yang berderak listrik biru menyilaukan.

"LEPASKAN DIA!!"

TRAAANG!!!

Dengan satu tebasan kuat, batang besi yang memancang bahu Naruto hancur berkeping-keping!
Tubuh lemas Naruto langsung jatuh ke depan.

Sasuke menangkap tubuh itu tepat sebelum menyentuh batu.
Dia memeluk erat tubuh hangat namun dingin dan berdarah itu ke dalam pelukannya.

"Naruto! Naruto bangunlah!"

Sasuke mengguncang pelan bahu pasangannya.
Wajahnya panik setengah mati.
Dia memeriksa detak jantung, memeriksa luka-luka itu.
Darah Naruto banyak sekali membasahi baju Sasuke.

"Sialan... darahnya banyak sekali...
Jangan mati... jangan berani-berani mati di sini Naruto...
Kita belum selesai...
Anak kita butuh kita..."

Di bawah sana, tangisan bayi terdengar lagi, lebih keras dan lebih menyedihkan.
Akari tertawa kecil melihat kekacauan itu.
"Ayo lawanlah... Tapi semakin kalian bergerak, segelnya akan semakin cepat aktif~"

Mata Sasuke memanas.
Air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena takut, tapi karena amarah dan keputusasaan yang luar biasa.
Malam ini, gua ini akan menjadi kuburan bagi siapa saja yang berani menyakiti keluarganya.

TBC


Haiiii maaf Hiatus kelamaan masih adakah yang setia di Wattpad, ok kita lanjutkan cerita ini yang hampir tamat okay...

Semarang 1 Mei 2026

Nanadaime's LOVE ( Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang