kemarahan sang anak

425 51 16
                                        

Suasana berkabung yang hening seketika terpecah oleh aura kemarahan yang dahsyat.

Di halaman depan kompleks Uchiha, di mana Sasuke baru saja tiba dan terlihat raut mukanya yang lelah. Datanglah Boruto Uzumaki.

Anak laki-laki itu kini sudah tinggi, otot-ototnya terbentuk sempurna, rambut pirang berdiri tegak, dan mata biru itu kini memancarkan kobaran api yang siap melahap segalanya. Di sebelahnya berdiri Sarada Uchiha , wajahnya pucat dan matanya merah menahan tangis, mencoba menjaga agar situasi tidak memburuk. Tapi terlambat.

Boruto sudah tidak bisa berpikir logis. Yang ada di kepalanya hanya satu: Ayahnya mati. Dan orang yang ada di depannya membiarkannya mati.


"Kenapa?!"

TRANGGG!!!

Boruto mendarat keras di hadapan Sasuke. Tanpa basa-basi, tanpa hormat, tanpa sopan santun.

Teriakannya meledak memekakkan telinga.
"Kenapa Sensei?! Kenapa kau biarkan Tousan pergi?!"

Sasuke berdiri tegak. Wajahnya datar, ia tidak mengeluarkan satunpatah kata. Sementara tangan lainnya tergantung lemas di samping tubuhnya.

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap anak murid dan anak dari kekasihnya itu dengan mata yang kosong. Diamnya Sasuke justru menjadi bensin yang menyulut api kemarahan Boruto semakin besar.

"Jawab!!" teriak Boruto lagi, air mata marah mengalir deras membasahi pipinya.

Tanpa peringatan, Boruto membentuk segel tangan dengan kecepatan kilat. Chakra biru menyala mengelilingi tubuhnya. Mode Byakugan dan Jogan aktif bersamaan.

"RASENGAN - BURST RENDAH!!"

Bola energi raksasa biru terbentuk di telapak tangannya. Dengan penuh amarah, dia melepaskan serangan itu lurus ke arah dada Sasuke!

DORRRRRRRRR!!!!

Ledakan dahsyat terjadi!
Asap dan debu beterbangan memenuhi halaman.
Sarada menjerit kaget, "BORUTO-KUN! JANGAN!!"

Namun, Saat asap menipis. Terlihatlah pemandangan yang membuat napas Sarada tercekat.

Sasuke masih berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak satu inchi pun.
Baju dan kulitnya mungkin hangus sedikit, tapi dia tidak terluka parah.
Dan yang paling mengejutkan, dia sama sekali tidak mengangkat tangannya untuk memblokir. Susannoo tidak aktif. Sharingan serta rinnegan juga tidak aktif. Dia menerima serangan itu dengan tubuh telanjang. Seolah dia memang pantas menerima rasa sakit itu. Seolah itu adalah hukuman yang pantas dia dapatkan.

"Kenapa tidak melawan Sensei?!" teriak Boruto histeris, matanya merah menyala.

Boruto tidak berhenti. Dia menyerang lagi dan lagi.

"Jurus seribu bayangan!!"

Puluhan bayangan Boruto muncul mengepung Sasuke.
"Serang!!"

WUSH! WUSH! PLAKK! DOR! BRAKK!

Pukulan, tendangan, kunai, dan ledakan chakra menghajar tubuh Sasuke dari segala arah.
Sasuke terhuyung ke kiri, terhuyung ke kanan.
Darah mulai menetes dari sudut bibirnya.
Baju hitamnya robek-robek memperlihatkan memar-memar baru di tubuh pucatnya.

Tapi, dia tidak pernah membalas.
Tidak pernah mengangkat tangan untuk melukai anak itu. Dia biarkan hancur dipukuli oleh muridnya sendiri.

"Pukul saja." bisik Sasuke pelan, nyaris tak terdengar, di tengah hujan pukulan itu. "Pukul sepuasmu, Boruto."

"Dasar tidak berguna!!"

Boruto muncul tepat di hadapan Sasuke, tangannya mencengkeram kerah baju Sasuke dengan kuat, mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.
"Kembalikan Tousan!! Kembalikan dia!!"

Nanadaime's LOVE ( Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang