1 : Allo depuis l'autre côté

4.6K 727 437
                                    

🏰Summerpeace Palace, Rosever

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🏰Summerpeace Palace, Rosever.

Dua atau mungkin tiga jam telah berlalu. Tidak ada yang menghitung dengan pasti mengingat itu kali pertama sang puteri menghabiskan waktu dengan sesuatu di luar hobinya.

Menyulam.

Cukup mencengangkan sehingga para pelayan tak henti-hentinya membeo dengan raut wajah syok.

Oh, seisi kerajaan tahu, puteri tidak gemar mengerjakan sesuatu yang rumit—menurutnya.

Puteri bahkan tidak pernah berinteraksi banyak dengan para pelayan. Puteri berpegang pada keyakinan bahwa dia dan para pelayan berbeda kasta, tidak seharusnya mengakrabkan diri. Tidak pantas. Pelayan harus berada di tempatnya, di bawah kaki dengan kepala tertunduk layaknya seorang budak.

Akan tetapi, sapu tangan yang mulanya polos itu begitu menyita perhatian, sehingga puteri rela meneror penyulam handal istana yang tak lain adalah kepala pelayan di Summerpeace. Tentu, untuk mengajarinya menyulam.

Karena begitu berdedikasi, butuh waktu satu jam bagi sang puteri untuk menggambar pola burung phoenix dengan hasil akhir yang sempurna.

"Ini sulit." Bianca bergumam untuk ke sekian kali.

Keluhannya jelas terdengar, meskipun begitu, dia harus diberi penghargaan karena tidak membanting alat sulam yang digelutinya sejak tadi, karena kepribadiannya dikenal tidak sabaran, dan tempramen.

Itu adalah rahasia umum.

Puteri Bianca itu culas dan tidak menyenangkan.

"Apakah kau pikir pangeran akan menyukai ini?"

Bianca bertanya kepada Elena—kepala pelayan sekaligus mentornya.

Senyum kecil tergurat di bibir Elena. "Kenapa tidak? Yang mulia membuatnya dengan sepenuh hati, ketulusan selalu menjadi pemenangnya."

Sapu tangan yang kini memiliki corak burung phoenix itu menjadi satu-satu ya yang Bianca perhatikan dengan seksama.

Haruskah ia memberikannya kepada pangeran sekarang?

Tidak. Bianca menggeleng.

Perlu seharian penuh untuk sampai ke istana sang pangeran, dan Bianca tidak ingin mempercayakan sapu tangan itu kepada ajudan.

Mereka akan merusaknya. Pikirnya.

Bianca tidak mempercayai siapapun, dia arogan. Julukannya puteri es. Sangat cocok menggambarkan karakter wanita yang dua bulan lalu dijodohkan dengan pangeran dari kerajaan seberang yang sama kuatnya.

Bianca pikir perjodohan itu tidak akan berjalan dengan baik. Tapi, sialnya dia malah jatuh cinta.

Sampai-sampai membuat seisi istana harus terbiasa dengannya yang kini kerap mengulas senyum saat menghabiskan waktu dengan secangkir teh sore di paviliun.

La Défaite RoseverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang