"Aku juga. Kuliahku udah selesai di sana. Empat tahun kita gak ketemu ya hahaha," Balas Raka tertawa. "Kamu juga makin gembul aja."
"Aku lagi ga mood berantem jadi aku iyain aja. Intinya aku kangen kamu," Rama masih memeluknya bahkan menenggelamkan kepalanya pada bahu Raka.
"Jadi kamu masih mau kangen-kangenan ama aku atau mau lanjut jualan?" Tanya Raka.
Rama melepas peluknya. "Sebenernya masih mau peluk sih tapi jualan aja dulu aja deh. Biar tutup lebih awal hehehe."
Akhirnya mereka berdua berseru ria memanggil orang orang untuk mampir ke toko.
Sesekali bercanda satu sama lain hingga membuat mereka tertawa bersama kalau siang menjelang sore itu.
Tak terasa beberapa orang berhasil mereka tarik untuk membeli sepatu. Mungkin karena mereka bahagia jadi orang tertarik untuk datang? Duh, pikiran Rama sedang tidak beres.
Karena bersemangat, Rama memutuskan untuk menutup toko lebih awal. Otaknya sudah merencanakan banyak acara untuk dihabiskan oleh kekasihnya setelah sekian lama dalam jarak.
"Bentar, aku mau kunci dulu pintunya," Tukas Rama merogoh kunci pintu tokonya.
"Rama, aku mau ngomong serius sama kamu," Tiba-tiba Raka bersuara. "Kita udah lama ya pacaran bahkan LDR, aku mau berterima kasih karena kamu setia banget sama aku."
Jantung Rama berdegup kencang. Lalu perlahan menghadap Raka yang tengah tersenyum. "Oke. . .?"
"Aku punya sesuatu buat kamu," Raka mengambil sesuatu dari balik jaketnya lalu memberikannya pada Rama.
Rama menatap benda itu bingung. "Apa ini?"
"Coba liat."
Benda itu dibuka oleh Rama perlahan dengan sesekali menatapnya secara bergantian pada Raka. "Kamu serius? Kamu bercanda 'kan Raka?"
"Aku gak bercanda, Ra. Aku serius," Ujar Raka menunjukkan senyum tipisnya.
Mulut Rama tertutup bahkan air matanya mulai membasahi pipi.
"Maaf, Ra."
"Aku setia nunggu kamu empat tahun di sini. Dan kamu dateng ke sini langsung mau ngasih surat undangan pertunangan kamu?" Tukas Rama tak percaya. "Kamu bahkan senyum, Ka."