#4. Salah

6 1 0
                                        

Renata kembali memulai kebiasaannya, ia duduk diatas gedung sekolah bersama dengan Petra setiap jam istirahat kedua. Baginya tidak ada yang lebih bahagia saat berada didekat laki-laki yang berada disampingnya itu.

Petra adalah yang teristimewa, bahkan tidak hanya di matanya tetap dimata semua orang Petra begitu yang teristimewa karena ia adalah orang dengan banyak kelebihan, ia sangat sempurna.

Laki-laki dengan nilai teratas disekolah itu selalu menarik perhatian para wanita termasuk Renata, Renata adalah yang terberuntung dikalangan semua orang yang ingin dekat dengan Petra. Renata bahkan telah mengalahkan ratusan siswi disekolah.

"Abian?" Ucap Petra.

Renata begitu terkejut mendengar nama yang tidak ingin ia dengar. Ia menoleh pada Petra seolah tak terjadi apa-apa.

"Dia beneran temen lo, Ren?"

"Ah itu, gue ngga ngerasa dia temen gue sih. Gue baru ketemu dia kemaren."

"Kemaren? Waktu lo ijin ngga sekolah?"

"Eemm-" Renata menangguk pelan lalu menunduk.

"Lo kenapa? Ada masalah?"

"Enggak, gue baik-baik aja kok. Selagi lo ada disamping gue."

Renata tersenyum lebar dibalas usapan rambut dari tangan kekar Petra.

"Gue bakalan selalu disamping lo kok."

"Janji?"

"Iya janji."  Keduanya membuat janji kelingking.

Petra tersenyum lebar, Renata bahkan tidak dapat mengedipkan matanya setiap kali melihat senyuman itu. Tidak pernahkah Petra merasa dirinya begitu sempurna untuk Renata?

Cintanya hanya untuk Petra adalah kenyataan yang tidak seorang pun dapat mengubahnya, termasuk Abian.

"Lo tau alasan kenapa gue ngga bisa jauh dari lo?"

"Mungkinkah lo suka sama gue?" Batin Renata.

"Karena kita berada di planet yang sama. Sejauh apapun kita pergi, kita pasti akan bertemu lagi!"

"Lo jadi ambil beasiswa itu?"

"Ya, gue harus jadi penerus bokap gue!

"Petra?"

"Hmm?"

"Gue juga lagi usahain untuk dapat beasiswa di paris."

"Seriously? Kalo gitu semoga lolos ya, itu artinya kita emang ngga bisa terpisahkan."

"Emangnya sepasang sepatu apa?"

"Sepasang kekasih?"

"Hah?"

"Bercanda."

"Kenapa harus bercanda sih!" Bisik Renata.

"Oh ya, gue punya sesuatu buat lo." Petra merogoh kantung celananya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk bulan sabit dengan warna kuning keemasan.

"Wahh bagus bangetttt. Lo dapet darimana?"

"Darimana aja, yang penting baguskann?"

"Ngga nyuri kan?"

"Halal kok itu, kalo nyuri juga lo yang bakalan ketangkep hhe." Renata memukulnya pundaknya.

"Auhhh."

"Sorry, sakit ya?"

"Enggak hhe."

"Ishh dasar."

"Dasar apa?"

SomedayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang