Mars itu dingin. Suhu rata-ratanya -26°c hingga -87°c. Berangin, berawan, dan minim oksigen. Rotasi Mars teratur hingga suatu hari sebuah niatan balas dendam menuntutnya keluar dari orbit.
Harusnya ini semudah menjentikkan jari sampai alasan-alasan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mawa terjebak di tengah-tengah pesta kostum di luar akhir Oktober berkat Sage de Sverre. Cowok dengan selera unik itu berhasil membujuk Mawa. Bukan hanya datang, Mawa juga mau mau saja saat Aundy menyuruhnya mengenakan kostum. Kemeja putih gading dengan potongan lengan terompet dibalut korset tali dan rok yang bergelombang. Daripada terlihat seperti Juliet, Mawa lebih merasa dirinya mirip dengan Cinderella gembel sebelum bertemu pangeran.
Gadis itu menyesal tidak pilih topeng Mike Myers saja. Mungkin jika dia jadi Mike Myers, Ken (baca: bukan Barbie) tidak akan punya nyali untuk duduk di sebelahnya. Cowok itu belum selesai dengan satu topik pembicaraan yang bahkan tidak digubris oleh Mawa.
Untungnya, Sage membaca kegelisahan Mawa. Ia tidak bisa berhenti melirik. Ikut risih lantaran melihat Mawa membenahi duduknya berkali-kali.
Sage memutuskan untuk memastikan keadaan Mawa. Ia pamit pada tamunya, lalu menuju meja bar panjang tempat Mawa berada. "Jarvis, open the mask." kata Sage pada helm mainannya. Lalu secara bertahap, lempengan demi lempengan terbuka dan menampilkan mimik kecut Sage.
Melihat kedatangan Sage, Mawa segera memberi sinyal untuk menyingkirkan Ken dari muka bumi. Mungkin saja ada peluncur nuklir yang benar-benar berfungsi di kostum Iron Man seharga delapan puluh juta yang dibeli Sage di Amazon. Setelah berhasil mengusir Ken, kepada Bartender, Sage memesan segelas soda biru dengan semburat kuning di dasarnya dan sepiring pancake dengan es krim vanila. Tidak ada di menu, permintaan khusus dari Sage untuk Mawa yang tidak minum alkohol.
"Thanks." Mawa menerima uluran gelas berbentuk tabung ramping dari Sage. "Gue kira cuma ada alkohol makanya cuma minta air dingin tadi."
Sage tersenyum, "Mana mungkin. Ada beberapa menu yang non alkohol jadi Lo bisa pesen juga. As my request." katanya menyombongkan diri.
Seperti yang sudah-sudah, Mawa tak menyadari bentuk perhatian Sage untuknya, "Rame banget. Siapa aja yang dateng?" tanya Mawa sembari menyendok es krim vanila yang mulai meleleh.
"Anak-anak sekolah. Temen-temen basket. Anak motor juga gue undang."
Tentu. Teman Sage memang sebanyak itu.
Ada kediaman mengisi setelahnya. Mawa asik dengan pancake sedang Sage cukup diam memperhatikan profil samping gadis itu.
"Oh, iya. Lupa." Mawa meletakkan sendoknya lalu merogoh sesuatu ke dalam tas. Sebuah kotak berwarna hitam dengan pita berwarna senada.
"Happy birthday, Sage De Sverre."
Sage membukanya segera. Ia tersipu begitu melihat isinya yang sebenarnya tidak istimewa. Jam tangan tidak bermerk yang harganya pun tidak sampai satu juta. Tapi Sage berbinar.