Happy Reading, hope you enjoy this part ya🥰
Mau komen yang banyak pokoknyaaa HAHAHHA
🍡🍡🍡🍡🍡
Daffin mengurung diri di kamarnya setelah pulang dari sekolah bersama Buya-nya. Pagi tadi sekolah Daffin ada pembagian raport dan sejak sampai rumah, anak itu memilih menyendiri di kamar bahkan Ade-nya yang biasa tidur siang di kamarnya pun ngga boleh masuk.
"Gimana?" tanya Caesar ke istrinya yang baru turun tangga sehabis berusaha manggil anak sulungnya keluar kamar untuk makan malam.
"Masih ngga mau," ucap Deana.
Deana sebagai ibu juga bingung kenapa anak laki-lakinya tiba-tiba mengurung diri di kamar setelah ambil raport hari ini. Memang untuk pertama kalinya si sulung rangkingnya turun jadi ranking dua, karena selama ini anak sulungnya itu selalu ranking satu. Meskipun rankingnya turun satu, dia dan suaminya juga ngga marah kok.
"Coba deh aku yang naik," ucap Caesar.
"Mas Ade mau ikut," ucap Aaron.
"Dede juga," saut si bungsu yang selalu mau ikut-ikut Mas Ade-nya.
"Stop," ucap Deana menahan kedua anak kecilnya. "Nanti naiknya sama Buya aja, tapi agak nanti, okey?"
Aaron mengangguk perlahan namun masih ragu karena dalam hatinya ia ingin ketemu Abangnya yang daritadi ngga mau ditemuin sama sekali sama dia. Melihat Mas Ade-nya mengangguk, Ceden pun ikut mengangguk.
Caesar melihat kedua anaknya nurut sama istrinya, akhirnya ia melanjutkan langkahnya ke kamar anak laki-lakinya.
"Abang..." Caesar mengetuk pintu kamar yang ada di hadapannya dua kali.
Daffin membuka pintu kamar karena mendengar suara Ayahnya yang memanggil. Dia mendongak, melihat mata sendu Ayahnya. "Hm?"
"Ayah mau ngobrol sama Abang, boleh?" izin Caesar ke sulungnya yang mukanya masih bad mood.
Daffin masih menatap mata Ayahnya. "Ngobrolin apa?"
"Ya ... ngobrol-ngobrol aja, ngga boleh ya?" tanya Caesar lagi. Ini pertama kalinya dia begini ke anaknya. Selama ini, anak-anaknya adalah anaknya yang ceria, sekalinya diem pasti karena sakit. Pernah diem karena bad mood, tapi cuman sebentar, ngga selama ini.
"Boleh," jawab Daffin sedikit ragu. "Tapi Abang ngga mau ke bawah, kalo mau ngobrol di kamar aja, okey?"
"Okey."
Daffin membuka kamarnya lebih lebar lagi, mempersilakan Ayahnya untuk masuk ke kamarnya dan adenya. Ia langsung duduk di kursi yang biasa ia gunakan saat ia belajar, dan Ayahnya memilih duduk di kasur persis di sebelahnya.
"Abang lagi ngerjain apa?" tanya Caesar.
Daffin menoleh sekilas, lalu lanjut mengambil alat tulisnya untuk melanjutkan aktivitasnya. "Kerjain ulangan yang jawabannya salah."
"Disuruh ibu guru?" tanya Caesar.
"Engga. Abang mau kerjain aja," jawab Daffin.
Hampir di semua mata pelajaran dia hanya salah satu atau dua, kecuali matematika yang dia benar semua. Karena nilainya tetap tinggi, dia ngga bisa ikut remedial kaya temen-temen lainnya yang nilainya jauh di bawah dia.
"Abang..." panggil Caesar lembut ke anak sulungnya.
"Hm?" jawab Daffin tanpa menoleh, ia ingin fokus mengerjakan ulangannya ulang.
"Abang ... Ngga apa-apa kok kalo ulangan salahnya satu atau dua," ucap Caesar lembut.
Daffin mendengarkan omongan Ayahnya tanpa menoleh sama sekali, ia masih berusaha untuk fokus mengerjakan soal-soal yang salah. Anak itu tau salah jawaban satu dua itu wajar, tapi yang ngga wajar adalah rankingnya kalah dengan teman sekelasnya yang biasanya ranking dua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mocci Gang
Short StoryKalau orang kaya diluar sana suka self-claim dirinya dengan sebutan "Gucci Gang", berbeda dengan tiga anak kecil berpipi bulat ini. Mereka ngga self-claim diri mereka dengan sebutan "Gucci Gang", tapi Ibu tersayang mereka yang ngeklaim kalau tiga an...
