Vote + Koment + Follow + Share.
Happy Reading.
♡(灬º‿º灬)
∆∆∆
"Shimâ bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Tidak ada yang spesial.." jawab Shimâ sembari memasang Seat Belt lalu menoleh ke arah sang Ayah.
"Kamu mengikuti ekskul apa disekolah?" tanya Akeno Ayahnya Shimâ mengganti topik obrolan, setelahnya ia menyuruh sang sopir untuk menjalankan mobil yang mereka tumpangi untuk segera melaju berjalan.
"Belum ada, besok Shimâ akan memilihnya sambil melihat ulang daftar ekskul.."jawab Shimâ yang dibalas Ayahnya dengan anggukan kepala.
Shimâ paham dan mengerti kenapa Ayahnya menanyakan hal ini, Gisha pernah memberitahunya jika disekolah mempunyai peraturan yang mewajibkan murid untuk memilih atau mengikuti minimal satu ekstrakurikuler untuk nilai rapot.
Awalnya Shimâ sedikit terkejut setelah mendengar bahwa setiap siswa diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler disekolah, padahal niat awalnya Shimâ tidak akan mengikuti ekskul apapun itu sama sekali tidak akan Shimâ ikuti.
Dirinya masih bingung akan mengikuti ekskul yang mana, Shimâ tidak mungkin akan memilih ekstrakurikuler pramuka, menari, cheerleader, renang ataupun ekskul basket, alat musik, dan beberapa cabang lainnya, alasannya karena ekskul tersebut memiliki rata-rata peminat yang cukup banyak, dan Shimâ kurang suka dengan ekskul yang memiliki banyak peminat, lagi pula dirinya memang tidak memiliki bakat untuk beberapa ekskul yang telah disebutkan barusan.
Shimâ kurang suka keramaian, sering kali merasa khawatir jika harus berbaur dengan orang-orang dan mengalami kesulitan. Itu cukup merepotkan bagi Shimâ untuk memulai sesuatu terlebih dahulu, misalnya seperti mengakrabkan diri dengan orang-orang asing disekitarnya, hal seperti itu menjadi salah satu alasan Shimâ belum mendapatkan ekskul yang cocok dan menarik perhatiannya.
Dilingkungan sosial yang baru Shimâ sering kali akan merasa sedikit tertekan hingga berakhir membuatnya kepikiran dan stres ringan, wajah-wajah asing dimata dan sekelilingnya membuat Shimâ kurang nyaman dan sedikit malas menghadapi karakter mereka yang berbeda-beda. Hal seperti itu cukup merepotkan dan Shimâ tidak suka hal-hal yang mempersulit diri sendiri.
Akhirnya setelah perjalanan cukup lama ditempuh Shimâ dan Ayahnya sambil sesekali mengobrol ringan, mereka pun sampai dirumah dengan selamat.
Faktanya, Shimâ termasuk golongan keluarga berada dan keluarganya pun tinggal disalah satu komplek perumahan elite di jakarta. Sebab itulah tidak heran jika Shimâ sering diantar jemput menggunakan mobil-mobil mewah koleksi sang Ayah.
Memasuki rumah, Shimâ mendapati kakaknya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu dengan ponsel digenggaman tangannya.
"Shimâ kata mama temenin belanja ke minimarket sore ini.." ucap Laksya saat Shimâ berlalu melewatinya.
"Iya kak.."jawab Shimâ berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan tampang datar yang selalu terlihat diwajahnya.
Tiba-tiba saja Laksya terdiam cukup lama setelah adiknya berlalu pergi meninggalkannya, lalu tanpa disangka Laksya berlari kecil mengejar Shimâ yang telah cukup jauh didepannya dengan tidak terduga Laksya memeluk adiknya dengan pelukan hangat dan manis, sehingga perlakuan Laksya tersebut membuat Shimâ terkejut dan kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELWEISS
Ficção Adolescente#Sebelum baca follow dulu yuk# Seorang figuran dalam cerita kehidupan orang lain, bersikap tidak mencolok dan samar, mengontrol zona nyaman miliknya agar tetap berada pada poros semestinya. Akan ia lakukan jika itu memang harus dilakukan tanpa banya...
