PROLOG

0 0 0
                                    

Menghabiskan waktu dengan secangkir teh hangat, merupakan kebiasaanku di pagi hari cerah seperti saat ini. Dengan beberapa potong roti selai yang sempat kubeli semalam.

Mataku lekat melihat aktivitas manusia di bawah sana, ada yang membeli sayuran sembari bergosip ria, entah berapa lama mereka bergosip tak kenal waktu, dan mungkin saja sang penjual sudah lengah mendengarnya hingga beberapa saat kemudian mereka bubar, ada beberapa di antara mereka mencebik kesal.

Aku terkekeh pelan, pemandangan ini sudah biasa kudapatkan di pagi hari, kecuali jika aku tidak menyempatkan duduk di balkon kamarku.

Tak terasa teh hangat di cangkirku telah kandas tak tersisa, betapa hebatnya leherku ini. Aku merupakan wanita yang cepat bosan, apalagi jika tak ada yang gigiku kunyah.

Untung saja rak buku tidak jauh dari jangkauanku, kuraih sembarang buku yang entah apa judulnya, daripada tak ada yang kukerjakan.

Larut dalam bacaan tak kusadari seseorang masuk ke kamarku. Hingga terasa ada yang menyentuh pundaku lembut.

Aku menoleh cepat, seorang wanita paruh baya tersenyum di hadapanku. "Gak kerja? Udah mau jam 9, loh, ini," tanyanya.

Beliau merupakan tanteku yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Namanya Kirana, yang kerap kupanggil tante Nana. Umurnya yang telah menginjak usia 46 tahun tak membuat kecantikan hilang, walaupun keriput di wajahnya telah datang.

Mendengar pertanyaannya, aku menghelas nafas pelan, mungkin aku juga harus membicarakan masalah ini dengan beliau. "Tante, aku kayaknya mau berhenti kerja aja, kemaren aku udah mengundurkan diri dari perusahaan."

Tante Nana tentunya tidak terkejut, beliau hanya mengangguk paham, tahu apa yang kualami di perusahaan itu. Sudah jauh-jauh hari aku memikirkan untuk secepatnya resign dari perusahaan karena tidak tahan lagi bekerja di sana.

Walau ada secuil rasa bersalah juga, rasa bersalah untuk kedua orang tuaku, karena merasa gagal menjadi anak. Kini aku menjadi pengangguran, yang tak lagi mengirimkan uang tiap bulan.

Orang tuaku juga tidak peduli, mereka hanya ingin yang terbaik di kehidupanku. Di kampung, ayah bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu yang bekerja menjaga anak sekaligus menjual sayur hasil perkebunan di sebuah rumah dekat dari rumahku.

Aku mempunyai kakak laki-laki, yang kini telah menikah dan pindah ke kota Surabaya, tempat istrinya berada. Namanya Reno, telah menikah dua tahun yang lalu, ia baik dan sering mengirimkan uang kepada orang tuaku.

Aku hanya berharap, agar aku secepatnya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan membuatku nyaman. Namun, untuk sekarang ini aku ingin berisitirahat sejenak dari pekerjaan, uang tabunganku juga masih ada, dan bisa pulang ke rumah orang tuaku lagi.

***

"Kamu bener-bener mau pulang kampung,  Je?"

"Iya, kenapa? Mau ikut?"

Tara memukul lenganku pelan. "Gak ada yang mau ikut, malahan aku pengen kamu di sini aja. Sedih tau, Je."

Entah sudah keberapa kali Tera melarangku untuk pulang, ia masih ingin bersamaku, katanya karena aku hanyalah sahabat satu-satunya. Cih, bohong, padahal masih ada Rere, Cia dan banyak lagi temannya.

"Cuman kamu yang mau dengerin aku curhat, nemenin aku kemana pun kalo aku lagi bete, galau." Kalimat itulah yang akan ia keluarkan saat aku mengatakan bukan hanya aku sahabatnya.

Sungguh, aku pun tak ada keinginan untuk pulang, yang ada nantinya aku hanya menjadi beban kedua orang tuaku lagi. Disini aku tidak ingin menjadi beban tante Nana, walaupun ia sangat tidak keberatanku aku tinggal di rumahnya.

Hanya saja, anak tante Nana seakan tidak menyukaiku. Beberapa kali ia melontarkan kalimat yang seakan-akan meyinggung keberadaanku di rumahnya. Aku tahu diri untuk itu, hingga kinilah saatnya aku harus secepatnya keluar dari rumah tante Nana.

"Gini aja, deh. Je, mending lo kerja di toko kue Bunda. Mumpung Bunda lagi nyari karwayan baru juga."

Aku sedikit terganggu dengan pernyataan itu, ingin bekerja di sana, tapi aku akan tinggal di mana nantinya.

"Gak deh, Ra. Mending aku bantuin mamaku di kampung jualan sayur aja," jawabku.

Tera seakan kehilangan kata-kata, ia hanya mengangguk kemudian pamit sebentar ke toilet.

Sembari menunggu Tera kembali, aku mengecek ponselku yang mungkin saja ada pemberitahuan penting.

Dan benar saja, ada notifikasi dari whatsapp yang muncul. Glabelaku mengerut, nomor asing yang tidak kuketahui berisikan pesan bertanya aku lagi di mana sekarang.

Secepatnya jempolku bergerak untuk membalas.

Me:

|Siapa, ya?

Tentu saja aku tak ingin membalas untuk mengatakan aku sekarang berada di Kafe.

Setelah menunggu dua menit, pesanku terbalas.

+62 852-2643-****:

|Ini Dara, wah, lo gak nyimpen nomor gue, ya?

Aish, mana aku tahu kalau ini nomornya. Sebulan yang lalu aku mereset ponselku karena tiba-tiba saja tidak bisa menelpon.

Me:

|Maaf, ini bakal aku simpen, kok. Eh btw tumben nge-chat deluan? Ada kabar apa, nih?

+62 852-2643-****:

|Yeah, lo mah, kalo lagi butuh aja nge-chat gue. Kurang baik apa coba. Eh, gue mo ngasih tau, Je. Minggu depan bakal ada reuni angkatan. Datang ya!

Kepalaku terasa pening lagi memikirkan reuni, bahkan sekarang saja aku sedang dilema mau pulang kampung atau tetap tinggal di sini.

Me:

|Ntar aku kabarin deh, masih sibuk soalnya

"Je, pulang yuk! Bentar lagi bakal hujan. Mana pakaian belum keangkat lagi," ajak Tera yang tengah bersiap-siap pergi.

Netraku refleks menengadah memperhatikan awan yang telah hitam. Lantas dengan cepat aku membereskan tasku dan menyimpan ponsel di dalamnya.

Selesai membayar, Tera berjalan ke arahku, bersama-sama keluar dari kafe. Yeah, mungkin saja ini kali terakhir di mana aku menginjakan kaki di kafe favoritku.

ALHUBU ALAWLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang