Lari Pagi

0 0 0
                                    

"Ra, gak mo mampir aja? Hujan udah turun loh ini."

Tera menggelengkan kepala."Gak usah, jemuran belum keangkat masalahnya, nih," tuturnya.

Ah, iya. Aku sampai lupa!

"Yaudah, hati-hati, ya. By the way makasih, loh!" Tera mengangguk, lantas menyalakan motornya dan mengendarainya dengan laju.

Aku hanya berdoa semoga ia sampai rumahnya dengan selamat.

Hijabku berterbangan, angin dengan kuat menusuk pori-poriku kulit. Segera aku masuk ke pekarangan rumah tante Nana. Sebelum membuka pintu, telingaku mendengar suara-suara yang familiar dari dalam rumah.

Di tempat parkiran pun, ada sebuah mobil yang tak kuketahui pemilikinya siapa. Dengan mengetuk pintu perlahan aku mengucapkan salam.

Samar-samar aku mendengar ada yang berteriak 'sebentar'.

Pintu pun terbuka, Raya--anak tante Nana yang membukanya. Aku tersenyum sopan, ia pun segera mengajakku masuk rumah.

Tumben dia baik.

Rasa penasaranku tadi pun terbayar, di ruang tamu ada seorang wanita paruh baya, di sebelahnya mungkin saja suaminya. Ada anak kecil dua yang tengah bermain mobil-mobilan.

Aku menyalami mereka satu persatu di mulai dari Tante Nana.

"Ini siapa, Nana? Kok aku baru liat," tanya wanita paruh baya itu.

Tante Nana menyuruhku duduk di sampingnya. "Ini Jehan, Yu. Je, kenalin ini tante Ayu, sepupunya Tante."

Aku mengangguk sembari tersenyum. Aku merasa tak nyaman di sini, karena belum terlalu mengenal mereka.

"Tante, Jehan ke kamar dulu, mau ganti pakaian," ujarku.

Tante Nana mengiyakan dan menyuruhku setelah berganti pakaian agar segera makan di dapur.

"Iya, Tante. Saya permisi dulu ya, semuanya."

Setelah berganti pakaian, aku tidak langsung turun ke bawah. Sebenarnya aku juga belum terlalu lapar, sebab tadi sudah makan ditemani Tera.

Rasanya nyaman sekali tidur di sore hari seperti apalagi jika hujan turun. Karena tidak tahan mengantuk, perlahan mataku tertutup.

***

Adzan maghrib berkumandang, hingga membuatku terbangun dari tidur, hujan belum berhenti, masih sama derasnya seperti tadi.

Perlahan aku ke kamar mandi mengambil air wudhu, setelahnya melaksanakan kewajibanku sholat maghrib. Setelah sholat aku bersiap-siap turun ke bawah untuk makan, rasanya perutku ingin segera diisi.

Karena kupikir masih ada keluarga tante Ayu di bawah, aku memakai hijab instan dipadukan celana kulot beserta baju lengan panjang.

Kakiku melangkah ke arah dapur yang ternyata semuanya tengah berkumpul di sana.

"Jehan, sini nak. Kamu ini udah Tante bilangin makan tadi, kenapa gak makan," ucap Tante Nana.

Aku menyengir, Tante Nana ini terlalu baik padaku. "Ngantuk banget tadi, Tan. Jadi kebablasan tidur."

"Hadeh, kamu ini ada-ada saja. Sini, makan dulu."

Lalu aku mengambil tempat di samping Raya yang sudah makan sedari tadi.

"Loh, loh, ini kok pada makan gak ngajak-ngajak."

Ini suara Om Raja, suami tante Kirana. Tapi kenapa suara tapak kaki terasa lebih dari satu orang, ya. Atau hanya perasaanku saja. Aku tak lagi memikirkan itu, sekarang hanya perutku saja harus secepatnya terisi.

ALHUBU ALAWLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang