1.BERUSAHA MENGIKHLASKAN.

1.5K 46 2
                                        

Meratapi perasaan yang seharusnya Alvin lupain itu ternyata susah ya, Cal.

"Nak ... makan dulu! Udah ditungguin Papa sama Adek." Bu Berlin setia menasihati remaja

di hadapannya dengan lembut. Ia tahu bahwa anak laki-lakinya itu masih belum bisa
melupakan mantan kekasih yang mengakhiri hubungan dengannya dua bulan lalu.

"Suapin, Ma! Piringnya bawa ke sini," jawab Alvin tanpa berkutik. Matanya tetap tertuju pada indahnya senja dan bintang yang perlahan menampakkan sinar.

Bu Berlin mengangguk, lalu mengambil piring berisi nasi dan lauk yang sudah
disiapkan tadi sore. Dengan telaten, wanita paruh baya itu menyuapi putranya.

"Ma, kira-kira Calista sakit gak, ya?" tanya Alvin, membuka pembicaraan di keheningan malam itu.

"Kenapa harus sakit? Lagian, dia sendiri yang ambil keputusan bodoh dua bulan lalu
itu."

"Tapi, Ma—" Ucapan Alvin terhenti saat Bu Berlin dengan segera menyuapkan nasi
ke mulutnya.

"Tapi apa? Karena ulah dia juga, sekarang kamu jadi kayak gini. Mama yang sakit hati lihat keadaanmu, vin,"

"Maaf." Hanya itu yang bisa Alvin katakan.
Empat tahun belakangan, ia terlalu memanjakan Calista, tetapi semua perjuangannya terasa sia-sia.

Dua bulan lalu, tepat pada 19 Februari 2022, ia mendapati gadis cantik itu sedang bermesraan dengan pria lain. Pria itu adalah Adrian Bagaskara. Adrian dulunya mantan Calista, sekaligus ketua Rose Gang, musuh bebuyutan Crystal Gang yang dipimpin Alvin.

Kejadian itu masih membekas. Alvin teringat jelas saat Calista hanya berkata, "Let's break up," lalu pergi begitu saja bersama Adrian tanpa rasa bersalah. Tidak ada penjelasan sama sekali tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.

"Alvin Anggara!" Suara Bu Berlin mengagetkan Alvin yang sempat melamun.

"Eh, iya, Mah?"

"Udah belum makannya?"

"Udah, Alvin udah kenyang. Sekarang mau tidur dulu," jawab Alvin, lalu menarik selimut bulu kesayangannya.

Bu Berlin menghela napas panjang. Ia kemudian mengelus kepala putranya dan mendaratkan satu kecupan lembut di dahi laki-laki itu.

***

Keesokan paginya, Alvin berangkat sekolah seperti biasa. Ya, meski pikirannya masih dipenuhi bayangan masa lalu. Ia rapuh, bahkan masih bisa dibilang sangat lemah untuk saat ini.

"Kalo sayang, perjuangin. Lagian, geng sebelah emang gak ada habis-habisnya gangguin kita," gerutu Richo sambil berjalan.

Geng yang dimaksud Richo adalah geng yang dulunya milik teman dekat mereka sendiri. Dekat, sangat dekat, layaknya kerabat. Namun, setelah tragedi mengerikan itu, semuanya berubah. Mereka terpisah jauh, bahkan banyak nyawa melayang akibat perpecahan tali persahabatan yang dulu mereka banggakan.

"Perjuangin aja, Vin. Jangan kayak pecundang," ucap David sambil meneguk es.

"Berengsek!" Alvin mendadak memukul meja, membuat Richo yang duduk di atas mejanya pun terjatuh.

"Alvin!" bentak salah satu siswi. Ia adalah Safira Dewi, bendahara kelas yang terkenal galak kalau menyangkut soal uang kas dan fasilitas kelas.

"Kalau lo kayak gini, nanti mejanya rusak! Bukan lo yang rugi, tapi uang kas kelas yang harus ganti," lanjut Safira, kini berdiri tepat di depan Alvin.

"Dua bulan lalu, lo udah habisin lima meja. Sekali lagi lo rusak meja, jangan harap
lo—"

Plak!

RUANG HAMPA (terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang