53.DONOR JANTUNG.

341 10 0
                                        

Tanpa basa-basi, Robi melepas pisau yang ada di genggamannya dan membuka ruangan tersebut. Destin dengan gugup melepas tali ikatan yang masih melilit ditubuh Reza dan Rea, kemudian kedua remaja itu dengan segera diberangkatkan ke rumah sakit agar tidak terlalu banyak mengalami pendarahan.

"Mama!? papa!?" Alvin terkejut ketika melihat kedua orang tuanya membawa satu gadis yang wajahnya sekilas mirip dengan Rea. bedanya, gadis itu memiliki tahi lalat di bawah mata.

"Bentar-bentar, gue kayaknya pernah liat lo deh." ucap Alvin mendekati gadis tersebut.

"Loh, sepupu gue kenapa ada di sini?" Robi sama terkejutnya dengan Alvin, kemudian kedua pemuda itu mendekati cewek yang sedari tadi berdiri di samping bu Berlin.

"Maaf, mama nyembunyiina ini semua,"

"Maksud mama apa?"

"Dulu Sasa pura-pura meninggal habis Alvin gebukin, dia lari sampe ke rumah dan ketemu mama, dia nyeritain segalanya dan mama yang udah nyelamatin hidup dia,"

"Kalian semua duduk, biar orang tua Alvin yang melanjutkan penjelasan seluruh kejadian." ucap salah satu polisi, kemudian para remaja itu diperintahkan untuk melakukan posisi duduk.

"Sekarang jawab, sebenernya ini kenapa, ma? dan dia, dia siapa?"

"Dia Sasa, sepupu dari musuh kamu, Robi almahera. Dulu Sasa pura-pura meninggal waktu habis digebukin Alvin, dia lari sampe ke rumah dan ketemu mama, dia nyeritain segalanya dan mama yang udah nyelamatin hidup dia,"

"Kenapa Sasa bisa sama tante?" tanya Robi.

"Dia tau jalan dari markas ke rumah Alvin, makannya dia langsung ngadu ke saya, kamu diem dulu biar tante bisa jelasin semua kejadian ini dulu ke Alvin,"

"I-iya,"

"Alvin, sebenernya dulu Rea cuma ngetes kamu waktu kecelakaan, luka Rea gak begitu parah jadi dia pura-pura amnesia dan bilang kalo dia sebenernya kekurangan banyak darah,"

"T-tapi buat apa, ma!?"

"Buat ngembaliin kestabilan emosi kamu, mama percaya sama Rea karena cuma dia yang bisa ngembaliin semua kestabilan emosi kamu sampai saat ini, dan kamu inget ini siapa?"

"Enggk,"

"Gue Sasa, orang yang dulu pernah lo pukulin... kemaren gue kecelakaan parah dan waktunya sama kayak waktu Rea pura-pura kecelakaan, karena wajah kita berdua mirip dan darah yang cocok sama gue itu cuma darah lo, bu Berlin segera nuker brangkat gue sama brangkat Rea, dan gue juga mau bilang makasih, mungkin kalo gak ada lo nyawa gue udah melayang sekarang, meskipun harusnya dulu nyawa gue udah ilang sama lo kalo gue gak pura-pura mati waktu lo pukulin,"

Mendengar penjelasan tersebut, Alvin sedikit menggaruk kepalanya karena masih merasa bingung. "Maksud lo?"

"Maksud gue, orang yang waktu itu lo transferin darah tuh bukan Rea, tapi gue,"

"H-hahh!?"

Sasa sedikit menghembuskan nafas kasarnya. "Huft... lo dulu cuma diprank sama Rea, dan semua temen-temen lo di sini udah sekongkol sama keluarga gue buat nyelametin nyawa gue waktu itu,"

"Keluarga lo? kenapa gue gak tau anjing! bahkan lo yang masih hidup sampe sekarang aja gue gak tau!" Robi dengan sigap memeluk tubuh Sasa dan menumpahkan kembali air matanya di dada cewek itu.

"Y-ya maaf, bang,"

"Maaf kata lo? kalo gue sampe kehilangan anggota keluarga gue lagi, gue gak akan segan-segan ngehukum diri gue sendiri, Sa!"

"Lo seharusnya berterimakasih ke Alvin, bang. Bukan malah jadi kayak gini,"

"Berterimakasih gimana? gue gak sudi," bisik Robi.

RUANG HAMPA (terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang