42.MARKAS.

118 12 0
                                        

"Apakah kalian merasa pusing dengan pelajaran bahasa Jepang?" tanya Azumi membuka keheningan di siang hari itu.

"Pusing lah,"

"Aku juga sepertinya akan susah mengerjakan soal bahasa Indonesia nanti, jdi tolong kerja samanya, ya,"

"Kerja sama apa?" tanya Reza.

"Aku akan membantumu mengerjakan soal bahasa Jepang, sedangkan kalian membantu kami mengerjakan soal bahasa Indonesia."

Anggota inti sedikit berfikir dengan usul dari Azumi itu, lalu Destin segera berkata. "Boleh, tapi nanti kalo salah kalian gue jadiin tumbal proyek,"

"H-ha... tumbal? benda apa itu?" Eiko menyatukan alisnya bingung.

"Tidak usah dipikir tidak terlalu penting, lanjutkan saja belajarmu." perintah Reza datar, membuat Eiko menjadi tegang dibuatnya.

"Aku ingin berkeliling di Jakarta, menurutku belajar sangat membosankan." keluh Mikata, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dikelilingi oleh murid-murid ambis.

Lantas semua atensi mata anggota inti tersebut mengarah ke Mikata, lalu Alvin segera berkata. "Belajar dan bersenang-senang, semua mempunyai waktunya tersendiri." Cowok itu memutar bola matanya malas, kemudian melanjutkan membaca buku materinya.

Ke 3 cewek Jepang itu hanya bisa terkagum dengan ke ambisiusan dari teman-teman baru mereka.

"Baiklah kita lihat nanti, siapa yang akan menjadi juara." gumam Eiko.

Azumi yang memang tidak terlalu perduli akan teman-temannya itu pun lantas hanya bisa terdiam, mengamati satu-persatu sifat dari anggota inti itu. Sorot matanya mengarah ke tembok apartemen Reza yang dipasangi oleh bendera race bertulisan Crystal gang.

"Apakah kalian ini... geng motor?" tanya Azumi mulai mendekati bendera tersebut.

"Iya, kami Crystal gang. geng motor yang paling disegani seantero Jakarta ini." jelas Reza.

"Serius!?" tanya Eiko membulatkan matanya.

"Apakah ini mimpi?" Mikata menepuk-nepuk pipinya.

"Kalian kenapa?" tanya Rea.

"Aku selalu bermimpi bahwa suatu saat aku akan berpacaran dengan ketua geng motor, kalau boleh tau ketua geng motor kalian siapa?" tanya Eiko sekaligus membuat atensi mata Rea mengarah ke Alvin, lalu dengan segera melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu, disusul oleh tangan Alvin yang mulai melingkar juga di pinggang Rea.

"Maaf, tapi pacar saya ketuanya," ujar Rea menatap dengan tajam.

"O-oh seperti itu ya..."

"Lanjutkan belajarmu, nanti malam akan ku ajak kalian ke markas Crystal gang," ucap Alvin datar, lalu segera mengambil bukunya kembali.

"Aku akan bersemangat untuk itu!"

Setelahnya, mereka melanjutkan proses belajar dengan tenang, dari siang sampai menjadi sore dan perlahan senja mulai mengubah warna langit menjadi oranye.

"Udah kan, belajarnya?" tanya Tiara.

"Udah, kalian mandi dulu." perintah Alvin kepada 3 siswi Jepang itu, mereka berdiri lalu menunduk dan segera berlari ke arah apartemen mereka masing-masing.

"Aku akan ke sini lagi ketika malam tiba nanti!" Eiko berlari sambil membawa segenggam kuwe yang belum ia habiskan.

"Ada-ada aja pacar gue," kekeh Reza.

"Nanti dijatuhin sama kenyataan nanges." ledek Alvin.

"Ko, kabarin semua anggota Crystal gih," perintah Alvin membereskan buku-bukunya.

RUANG HAMPA (terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang