28.REALITA PERASAAN.

188 13 0
                                        

Kini seluruh anggota Crystal sudah berkumpul di lahan sebelah markas, mereka menunggu Alvin yang masih dalam perjalanan.

"Lo yakin kuenya bakalan enak?" tanya salah satu anggota.

"Gak yakin, tapi auk ah yakinin aja." temannya menaik turunkan pundak ragu.

Kemudian sorot mata para anggota tersebut beralih ke mobil Alphard yang dikawal puluhan mobil berisi kue di belakangnya.

Setelah sampai di tengah lahan, Alvin pun segera membuka pintu mobil. Menginjakan kakinya lalu mencopot kacamata yang ia pakai, menunjukan kerapihan hoodie hitam serta ke eleganan dari penampilannya hari itu.

"Gila, gue boleh oleng dikit ke Alvin gak sih, Re?" tanya Tiara.

Rea mencubit paha Tiara dengan gemas lalu berkata. "Dia cuma punya gue." kemudian cewek itu beranjak mendekati Alvin.

"Seribu?" tanya Rea.

"Iya, seribu sayangku," Alvin tersenyum lalu mengacak puncak rambut Rea dengan gemas.

Cowok itu membagikan kue buatannya satu persatu ke anggota yang sudah mengantri, dibantu oleh anggota inti lainnya.

"Katanya lo mau ngehalalin Ica," kekeh Destin.

"Nanti aja, kalo udah kebagian kue semua. Gue udah bawa speaker blotooth biar suaranya kedengeran di seluruh penjuru lahan." ucap David datar, lalu menyetel musik prasmanan di tengah lahan tersebut.

"Gila, udah kaya kondangan aja." ujar Richo.

"Icaa, ai lop yu tugeter!" teriak David menggunakan speaker blotoothnya tanpa ragu.

"Talak aku mas, harga diriku ternodai di lahan ini," tolak Ica mentah-mentah.

"Hargain gue dikit kek, Ca. Gue udah nyewa ni Speaker mahal-mahal, lo gak liat orang-orang di pinggir lahan itu?" David menunjuk ke segerombolan lelaki dengan baju bermotif corak hitam oren.

"A-anggota bapak gue!?" pekik Ica.

"Mereka sengaja gue undang ke sini buat masangin tenda orgen tunggal kita."

Mendengar pernyataan cowok itu lantas Ica dengan segera berlari ke arah Reza untuk meminta bantuan.

"REZAAA!"

"Jangan bawa-bawa gue, gue udah disewa buat jadi penghulu bayaran lo sama David," ujar Reza apa adanya.

Kemudian Ica menatap ke arah Richo dengan sendu.

Richo yang merasa diintai oleh Ica pun lantas berkata. "A-apa? hue disuruh jadi agenda buat acara pernikahan lo sama David,"

Cewek itu menghembuskan nafasnya kasar. "Kuserahkan semuanya padamu, ya tuhan," keluh Ica menatap ke langit.

"Yang sabar, Ca. Hari ini emang kayaknya lo harus dipermalukan." Tiara mengusap punggung temannya dengan lembut.

Alvin dan Rea yang masih sibuk membagikan kue itupun lantas terkekeh geli melihat keseriusan Ica. Padahal ini adalah akal-akalan David agar Ica mau menerima perasaan cowok itu apa adanya.

"Temen lo, Vin," kekeh Rea.

"Iya-iya temen gue, gak tau dulu nyokap mereka ngidam apaan sampe dikaruniain anak bego kayak mereka,"

"Gak boleh gitu!" Rea mencubit paha Alvin dengan gemas.

"Hehe, maaf sayangku... gimana? Alvin udah ngebuktiin kalo Alvin bisa bikin seribu kue, kan." ujar cowok itu bangga.

Rea tersenyum puas lalu memeluk tubuh kekar di hadapannya. "Rea bangga sama Alvin, makasih ya udah mau ngebuktiin kalo Alvin bener-bener bisa."

Seluruh anggota di lahan tersebut menikmati kue yang sudah di buat oleh Alvin, mereka merasa bahwa kue itu sangat enak, tidak seperti rasa kue biasanya.

RUANG HAMPA (terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang