2.TEMAN BARU.

699 40 1
                                        

Setelah upacara, lima cowok dengan keringat bercucuran itu memilih untuk tidak masuk
kelas dan berteduh di bawah pohon beringin di sebelah kantin, kecuali bos mereka. Alvin, sang pemimpin, selalu mengikuti pembelajaran kelas apa pun rintangannya.

"Sekarang kalian mau bolos atau ikut gue ke kelas?" tawar Alvin.

"Bolos lah, Vin. Capek," jawab Destin sambil mengipasi dada bidangnya dengan koran yang ia ambil di warung kantin.

"Ada murid baru ... cewek," lanjut Alvin singkat, sebelum beranjak pergi meninggalkan segerombolan pemuda itu. Yang lain hanya melirik satu sama lain.

"Bro, murid baru?" Reza memberi kode sambil melirik ke arah teman-temannya berada.

Tanpa aba-aba, mereka langsung berlari membuntuti Alvin yang sudah mendahului.

***

"Perkenalkan, nama saya Rea Lavanya. Saya pindahan dari Jawa Tengah. Semoga kita bisa
berteman baik," ucap gadis itu di depan kelas.
"Maaf, Bu. Alvin telat."

Alvin menyelonong masuk, lalu duduk di bangkunya dan disusul dengan "beban" yang berlarian di belakangnya.

"Kami juga," sahut mereka serempak.

"Kalian duduk!" perintah Bu Rina selaku wali kelas 12 Multimedia 2.

Reza dan teman-temannya secara urut serta teratur memasuki ruang kelas satu persatu.

"Maaf ya, Rea. Mereka memang selalu begitu," ucap Bu Rina dengan senyum maklum.

"Gak apa-apa, Bu. Rea boleh duduk?"

"Silakan. Di samping Alvin, ya." Bu Rina berdiri dari duduknya, lalu menuntun Rea ke kursi kosong yang ada di sebelah Alvin.

"Bu, kenapa gak sama saya aja? Kursi di sebelah saya juga kosong, kok," tawar Destin sembari membersihkan kursi di sampingnya yang memang sama-sama kosong.

"Kalo sama kamu, saya malah kasihan, Des. Soalnya kamu cuma kayak ... bakteri di kelas ini," jawab Bu Rina sambil tersenyum jahil.

Destin mengerucutkan bibir, lalu memutar bola matanya malas saat seluruh kelas menertawakannya.

"Percaya diri boleh, Des. Tapi inget umur juga, dong," celetuk David sambil tertawa.

"Iya-iya, gue tau gue muda ... daripada lo," balas Destin cepat.

"Apa?" David menyipitkan mata sambil menatap tajam, sedangkan yang lain kembali tertawa.

"Tua bangka banyak gaya."

"Heh! Mulutnya dijaga!" sentak Bu Rina tajam.

"Lagian, orang David duluan yang mulai." Destin membela diri.

"David! Gak boleh kayak gitu." Netra Bu Rina langsung mengarah ke David yang sedang asyik dengan buku di tangannya.

"Nggak, ye! Ngadi-ngadi kali tuh si Destin."

Guru tersebut menghela napas berat, menahan kesabaran sebelum akhirnya mengeluarkan suara lantang yang sudah jadi ciri khasnya. "Sekarang, kalian berdua keluar kelas!"

"Ya Tuhan, Bu ... kita lagi yang keluar?" protes David.

"Terus kalian mau ngajak siapa? Orang kalian langganan diusir dari kelas, kok."

Tanpa basa-basi, Destin menunjuk Reza untuk mengikuti jalan sesatnya. Bu Rina yang sudah hafal dengan ketiga remaja tersebut pun mengangguk pasrah. Ia malah membukakan pintu lebar-lebar agar ketiga beban tersebut bisa dengan segera keluar kelas waktu itu juga.

"Pinter!" sorak Reza sambil menggendong tasnya dan berlari keluar kelas.

"Damn! Kantin nih kita?" ucap Destin dengan girang. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki, seketika Bu Rina menarik kerah anak itu dengan kuat.

RUANG HAMPA (terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang