11.IBU TIRI.

304 25 3
                                        

Pria dengan setelan jas hitam kini tengah menunggu seorang gadis yang sedang bersiap di dalam kamarnya.

Mereka akan pergi ke suatu tempat di mana hanya Rea dan keluarganya yang mengetahui tempat tersebut.

"Re, lo yakin?" tanya Alvin.

"Demi mama, gue yakin." jawab Rea menghembuskan nafasnya kasar.

Kemudian, Rea memasang safety belt yang tersedia pada kursi mobil, begitu pun dengan Alvin. Perlahan cowok itu menginjak gas dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.

Sekitar 7 jam mereka di perjalanan menuju lokasi, melewati beberapa kota serta pedesaan yang bisa menghilangkan rasa bosan ke 2 remaja itu ketika di dalam mobil.

Setelah sampai pada alamat tujuan, Rea melihat wanita paruh baya yang sedang menggendong bayi di tangannya, ia adalah bu Siska. Ibu tiri yang telah merebut kasih sayang seorang ayah dari gadis itu.

Rea dan Alvin mencium punggung wanita tersebut agar tetap terlihat sopan dan mempunyai etika.

"Papa kemana?" tanya Rea.

"Lagi dagang... ini siapa, Re?" jawab bu Siska.

Rea terdiam mematung ketika ditanya seperti itu, Alvin yang paham dengan keadaan menjawab pertanyaan dari wanita di hadapannya.

"Saya Alvin, tante. Pacarnya Rea di Jakarta,"

"Oh, udah berani pacaran kamu sekarang ya, Re."

Rea hanya menunduk, lantaran cewek itu pernah merasakan tinggal selama satu tahun bersama papa serta ibu tirinya.

Sebenarnya Alvin juga sakit hati dengan perkataan wanita itu, tapi ia tetap menjaga senyumnya lalu berkata. "Udah dong, kan Rea udah gede."

Bu Siska hanya melirik Alvin dengan sinis, lalu menyuruh keduanya masuk ke dalam rumah.

"Papa kapan pulang?" tanya Rea.

"Bentar lagi juga pulang." jawab bu Siska masih memomong anak di gendongannya.

"Itu gerobak siapa, Re?" tanya Alvin saat melihat satu gerobak es yang dikendarai oleh seorang lelaki masuk ke samping rumah itu.

"Eh, itu papa pulang," Rea berlari menuju lelaki yang mendorong gerobak tersebut, lalu mencium punggung tangan lelaki yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.

"Wah anakku udah gede, ke sini sama siapa, nak?" tanya pak Ilham selaku ayah Rea.

"Sama pacarnya... tuh ganteng banget kan," tiba-tiba bu Siska datang dan masuk ke dalam pembicaraan dengan nada lemah lembut.

"Ya udah, anak-anak ayo masuk, biar papa bersihin badan dulu."

Rea hanya bisa menurut dan memaklumi, sifat seperti itu yang membuat dirinya merasa tidak nyaman ketika di rumah, gadis itu selalu terancam ketika ayahnya sedang pergi bekerja, tetapi setelah ayahnya pulang, rumah itu seperti rumah keluarga pada umumnya. Bedanya... seperti bau kebohongan tercium dimana-mana.

"Jadi, ada apa anak cantik ini nemuin papa?" Tanya pak Ilham setelah membersihkan badannya.

"Rea mau nanya sama papa, soal toko kue punya mama."

RUANG HAMPA (terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang