| Satu |

1.4K 95 10
                                        

Angin berhembus kencang menerpa rambut hitamnya. Tanaman di sekelilingnya pun ikut bergoyang yang membuat harumnya mengepul taman rumah. Mata zamrudnya terus menatap pemandangan di hadapannya. Rasanya pemandangan ini sudah sering terjadi akhir-akhir ini.

'Pasti ada cara lain untuk menghindar' Batinnya.

'Tapi bagaimana?' Lanjut.

Tatapannya terlihat serius, wajahnya berekspresi datar. Tangannya meraih bunga dihadapannya dan mencabutnya. Tak tergambar ekspresi sayang pada tanaman itu, bahkan tanpa ragu pun ia bisa membakar tanaman ini. Pemandangan ini sangat tak seperti yang dikenal orang-orang. Huh, masa bodo.

Tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara langkah kaki yang menginjak rumput. Perlahan semakin dekat. Seketika ia pun merubah ekspresinya. Diam-diam mencoba mengetes suaranya agar lebih leluasa mengambil suara tinggi. Bunga yang sempat dipetik tadi pun ia sembunyikan di dalam kantong bajunya.

"Thorn!"

Thorn menoleh, terlihat seorang laki - laki yang mempunyai rupa yang mirip dengan nya. Senyuman lebar pun merekah di wajahnya. Tatapannya yang terasa dingin tadi seakan tak pernah terlihat. Dengan pita suara yang sudah di cek, ia menarik nafasnya.

"Kak Gempa!"

Gempa mengambil langkah terakhirnya dengan senyuman lebar.

"Kamu lagi apa?"

Kakaknya itu ikut berjongkok di sampingnya. Menatap pada tanaman yang sepertinya agak kayu.

"Lagi cek tanaman besar ini, katanya kemarin dia hampir layu." Ucap Thorn dengan nada sendu

Bohong. Tanamannya tak pernah ada yang layu. Rusak pun karena kakak-kakaknya yang tak sengaja menginjaknya. Ah, mungkin juga karena Thorn sendiri.

'Layu darimana coba?' Batin Thorn yang ingin tertawa karena ucapannya sendiri.

"Karena Blaze?"

Thorn menggeleng.

"Bukan, itu karena aku kurang merawatnya." Ucap Thorn.

Gempa menghela nafas lega. Dia pikir adiknya yang lain menjahili Thorn, ternyata tidak.

"Ayo makan dulu. Ada ayam kecap kesukaan Thorn." Ucap Gempa membuat Thorn menatapnya berbinar - binar.

"Ayok!"

Thorn menarik Gempa saking semangatnya. Ia berlari masuk ke dalam rumah.

Ia melihat meja persegi panjang dengan 7 kursi yang kini sudah di duduki 5 orang. Mereka tengah makan sambil berbincang-bincang walau di matanya sekarang sih seperti sedang bertengkar.

Thorn langsung duduk di kursi kosong, tepatnya di sebelah kakak nya yang memakai jaket biru langit–Taufan.

"Thorn, abis ngurus tanaman itu lagi?" Tanya kakaknya itu.

"Iya, tadi tanamannya kurang dirawat jadi ada yang layu" Jawab Thorn.

"Tapi berhasil kan?"

Sekarang yang bertanya bukan kakaknya yang bernama Taufan tadi tapi kakaknya yang memakai jaket merah seperti api, Blaze.

"Berhasil!" Ujarnya sambil tersenyum lebar.

Konyol tapi mau gimana lagi.

"Kalau gitu habisin makanannya" Ucap Kakak sulungnya, Halilintar.

"Baik Kak Lili." Ucap Thorn membuat semua orang di sana menoleh ke arahnya.

"Dapat sebutan itu darimana?" Tanya Halilintar. Bisa dilihat matanya menyorot tajam, pertanda ia marah.

Thorn, I just know || Thorn Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang