"Menakjubkan! Belum ada satu bulan kau di sini, tapi sudah menjadi topik pembicaraan di mana-mana."
Gadis yang surainya kini dicepol itu batal memasukkan stroberi ke mulutnya. Ia menghela napas lantas menoleh pada temannya itu. "Aku pun tidak pernah berharap begitu."
Ruang makan Blue Hall benar-benar luas, sehingga mampu menampung seluruh Culous. Tatanan meja disusun memanjang sebanyak tujuh baris, pun kursinya diletakkan berhadap-hadapan. Para koki Blue Hall baru saja sibuk menyiapkan hidangan makan malam untuk para Culous yang seharian ini sudah berlatih keras.
Selagi suara dentingan antara sendok dan piring bergema, tatapan serta bisik-bisik dari sekelilingnya pun turut menemani kegiatan makan malam Emily. Maka tak heran jika saat ini dia cepat-cepat melahap makanannya supaya bisa pergi dari tempat itu. Sungguh, Emily tidak suka menjadi pusat perhatian.
Tentu karena aksinya ketika di lapangan tadi siang.
Namun tampaknya tak cukup sampai di situ, malah sekarang dirinya mendapat julukan 'Gadis Kejutan', karena terlalu sering mengejutkan orang-orang. Yeah, termasuk interaksi dirinya dengan Pangeran Trania Barat. Kabar itu ternyata sudah menyebar kemana-mana.
Emily menelungkupkan wajahnya di meja. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Gwen tidak bisa mendengar ucapan Emily karena suara gadis itu teredam, ditambah lagi ruang makan yang sangat berisik.
"Bicara apa sih?"
Maka badan Emily kembali tegak dan memasang wajah lesu seperti tak ada semangat. "Aku merasa diriku aneh. Seperti bukan diriku sendiri. Seperti....aku- arghh tidak jadi. Ayo makan!"
Stroberi yang sempat batal masuk ke mulut Emily kini ia kunyah bulat-bulat. Sangat brutal. Gwen yang melihatnya sempat berpikir bahwa Emily akan menghancurkan piringnya lantaran garpu yang menusuk buah merah berbintik itu menciptakan bunyi tang dengan kuat.
Perkataan Emily agaknya cukup membuat Gwen menggaruk kepalanya, ia berpikir namun tidak tahu apa yang ia pikirkan. Akhirnya gadis berambut hitam itu menelan dengan paksa makanan yang masih dikunyahnya, demi meladeni Emily yang diserang dengan berbagai pertanyaan.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, I'm okay," sahut Emily dengan cepat. Ia menusuk-nusuk stroberi tanpa minat untuk memakan.
"Tidak. Kau tidak baik-baik saja," Gwen menyanggah. Ia memegang tangan kiri Emily yang menganggur. "Em, jika kau merasa ada yang mengganggu pikiranmu, jangan sungkan untuk berbagi cerita denganku. Aku mungkin bukan pemberi saran yang baik, tapi aku bisa membuatmu lega dengan menjadi pendengar yang baik. Jangan memendamnya sendirian, hmm."
Mata Emily hampir berkaca-kaca mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Tapi..... mendengar cerita juga membutuhkan asupan tenaga, Em. Jadi untuk sekarang tolong biarkan aku makan ya karena aku sudah menahan lapar sejak tadi." Gwen memasang raut memelas dibuat-buat. Dia bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa dirinya sangat lapar.
Anggukan Emily menjadi jawaban atas ucapan Gwen. Benar yang dikatakan gadis itu, seharusnya Emily dapat memahami keadaan. Gwen, gadis itu sejak tadi mengeluh bahwa dirinya kelaparan. Lihat saja mulutnya yang penuh itu, dan jelas membahas tentang keresahan Emily akan membuat nafsu makan temannya itu surut.
Bukan karena Gwen tidak peduli, hanya saja membahas itu di ruang makan di depan makanan yang tersaji nikmat agak kurang pantas. Belum lagi jarak kursi satu dengan yang lain tidak terlalu jauh, nanti ada yang menguping 'kan jadi makin lebar. Itu yang dipikirkan oleh Gwen. Dirinya tidak bodoh untuk mengartikan ekspresi Emily yang tidak ramah, dia pasti membutuhkan ruang yang leluasa untuk berkeluh-kesah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trania: Blessed or Cursed
FantasyDianugerahi orang-orang terpilih dengan kemampuan luar biasa ternyata tidak semerta-merta membuat Trania merasa aman. Ada takdir yang menari-nari tengah tersembunyi di gelap paling dasar. Salah satunya misteri datangnya kembali iblis yang puluhan t...
