5: Pangeran

38 1 0
                                        

"Bagaimana rasanya tinggal di sini, Nona?"

Sepatah kalimat itu akhirnya mengudara setelah detik-detik yang dilalui dua remaja sejak tadi hanya disapa oleh keheningan. Dua presensi yang tengah berjalan menuju asrama perempuan Bluewest itu berhenti. Pemuda berpakaian mewah berwarna biru gelap, serta rambut yang menampakkan kening paripurnanya itu memandang wajah gadis bersurai cokelat di sampingnya.

Emily terlihat gagu untuk menjawab pertanyaan pemuda tampan itu. "Awalnya belum terbiasa, tapi sekarang ini saya sudah mulai nyaman di sini, Pangeran."

Pemuda yang disebut sebagai Pangeran itu mengangguk dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Dia berjalan santai, suka tidak suka Emily harus menyamai langkah anggota kerajaan tersebut.

Pangeran Juna Clarkson. Putra mahkota yang kelak akan menjadi Raja penerus Trania Barat, menggantikan ayahnya, Raja Holmes.

Bicara tentang Juna, Emily pun tidak menyangka kalau orang yang ia temui di semak-semak bergoyang tadi tak lain tak bukan adalah Juna yang sedang menangkap kelinci. Kemudian hal bodoh yang Emily lakukan pertama kali adalah tertawa keras, sebab adegan Juna yang telungkup sambil memeluk kelinci cukup menggelitik perutnya.

Sampai pemuda itu mendongak untuk menatap Emily, barulah gadis yang sudah menitikkan air mata itu membeku. Emily memang bodoh, tapi ia tidak bodoh untuk dapat mengenali Juna, yang wajahnya suka muncul di poster-poster ketika perayaan hari-hari besar Trania Barat.

"Mengapa gadis ringkih seperti dirimu ini berkeliaran malam-malam di Blue Hall? Bangunan sebelah Utara itu selalu sepi."

Juna kembali bertanya pada Emily karena sepertinya kamar gadis itu masih jauh.

'Jadi benar ya, rumor kalau Pangeran Juna itu bermulut setajam pedang.' Emily membatin. Agak kesal dengan frasa 'gadis ringkih' yang keluar dari bibir tipis Juna.

Namun ia menyembunyikan rasa kesal itu dan memasang wajah nerima. "Saya rasa terlalu cepat untuk dikatakan malam, matahari baru saja terbenam," ujarnya tanpa melepaskan pandang pada koridor panjang di depannya. Padahal Juna memberikan atensi penuh pada gadis itu.

"Saya baru saja menemui seorang teman, Pangeran." Tangan Emily menggulung-gulung ujung rambutnya, Juna melihat itu. Ia mengartikan tingkah Emily sebagai bentuk kegugupan.

"Di asrama laki-laki?"

Emily menoleh cepat pada Juna. Terkejut mengetahui bahwa pemuda yang saat ini memandang lurus ke depan itu menebak dengan benar. Lalu sedetik kemudian ia menyadari fakta bahwa taman utara yang tadi ia lewati adalah penghubung asrama laki-laki dan asrama perempuan Bluewest. Emily anggukkan kepala.

Bangunan Blue Hall bagian utara memang digunakan sebagai rumah bagi para Culous. Terdapat asrama, aula, tempat latihan, lapangan, dan lainnya. Sedangkan taman utara merupakan salah satu dari banyaknya taman di kawasan Blue Hall.

Juna mengernyit melihat respons anggukan dari Emily. "Apa yang kau lakukan di asrama laki-laki?" Dari nada bicaranya sangat kentara sekali ia sedang mengintimidasi Emily.

Mendengar pertanyaan yang kedengarannya salah paham itu, dengan cepat Emily menggeleng. "Jangan salah paham, Pangeran. Saya hanya melatih keahlian saya bersama Kak Ethan."

"Ethan?"

"Iya, Pangeran."

"Kau mempunyai keahlian sama seperti dia?" Juna lagi-lagi memberhentikan langkahnya. Berhasil membuat Emily geram sebab ia tidak sabar untuk merebahkan diri di kasur!

"Benar sekali, Pangeran."

"Menarik," yang barusan itu hanya mampu didengar oleh Juna sendiri.

Masih diam. Koridor yang dipijaki oleh Juna dan Emily saat ini perlahan mulai ramai oleh para Culous yang sedang menuju ruang makan. Ini jadwal makan malam, dan Emily bahkan belum sempat beristirahat. Itu semua karena Juna yang mengulur waktu ketika berjalan mengantar Emily.

Trania: Blessed or CursedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang