three

7 3 0
                                    

Aku menjadi bodoh karena dibutakan cinta oleh ku sendiri.

"Sekarang lo udah berani sama gw ternyata?!" Naresh mulai mencengkram kedua rahang kekasihnya itu "oh...gw tau, lo mulai suka kan sama cowo yang kemarin nolongin lo hah?!muka aja pas pasan masih kalag ganteng sama gw"

"NARESH! Udah cukup, lo ga usah nyangkutin dia, dia juga ga tau apa apa, tujuan dia baik mau nolongin gw dari orang brengsek kaya lo!" Arin mulai menepis cengkraman tangan dari wajahnya itu dan kini mulai menaikkan nada suaranya nya.

"Jujur gw udah capek jalanin hubungan ini sama lo resh...lo udah berubah, lo semakin kasar sama gw. Gw capek resh lo bikin mainan terus, gw bukan boneka lo! Gw pasrah saat lo nyakitin gw, gw diem aja waktu lo jalan sama cewe lain." Kini arin mulai menurunkan nada suaranya menjadi suara yang lembut namun terlihat sangat lemah.

Arin mulai menjauhkan tubuhnya dari naresh, jujur terlalu sakit jika naresh selalu memperlakukannya dengan kasar, entah kasar itu maksud dari sayang atau hanya pelampiasan.

"Udah ya resh...gw makin kesini semakin sadar kalo gw itu cuma jadi pelampiasan lo doang, makasih buat semua yang udah lo lakuin ke gw, cari yang lebih baik dari gw. Satu hal yang perlu lo inget, kalo lo ga bisa bikin bahagia, setidaknya jangan menyakiti."

Jika arin tau dari dulu kalau arti kekasaran naresh adalah hal pelampiasan ia tidak akan jatuh terlalu dalam seperti ini, arin tulus menyanyangi naresh namun naresh tidak.

Terlalu bodoh memang, ia menganggap kekasaran naresh adalah sebuah kasih sayang. bodoh karena dibutakan oleh cintanya sendiri.

Arin mulai meninggalkan naresh yang masih mematung di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun, entah naresh merasa bersalah atau pun tidak arin sudah tidak perduli

Saat hendak pergi dari taman tersebut, arin melihat keberadaan orang yang kemarin sempat berkelahi dengan mantan kekasihnya (naresh) dibalik sebuah pohon besar.

Ia mengintip?untuk apa?kenapa ia bisa disini?

Arin terus melanjutkan langkahnya dengan melemparkan sebuah senyuman untuk arsya yang sempat menatapnya itu

Entah apa yang arsya rasakan tetapi ia senang melihat arin tersenyum padanya. Rasanya ia belum ingin membuka hatinya kembali, ia tidak mau terluka untuk kedua kalinya.

Sebenarnya aku tidak ingin membuka hatiku, namun itu terasa sia sia setelah aku mendapat kan senyum darimu.

Flasshback on.

"Arsya lo kok ganteng banget sih?"

"Iyalah pacar siapa dulu" jawab arsya lalu menyisir rambutnya kebelakang menggunakan tangannya

"Apaan sih lo, diliatin cewe cewe noh" nata mulai menguncir mulutnya dan menyilangkan tangannya di depan dada

"Ciee cemburu, lucu banget sih ampe mulutnya dikuncir gitu, pacar siapa dulu" arsya pun mencubit pipi nata gemas

Dirasa kini arsya dan nata menjadi pusat perhatian, mereka memutuskan untuk pergi dari kafe tersebut

"Arsya...kalo misal nanti aku pergi gimana?" Kini nata mulai menghadap tepat didepan arsya dan mata mereka saling bertemu satu sama lain

"Kamu ngomong apa sih?kok tiba tiba ngelantur gitu, kita bakal terus bareng bareng ga ada yang boleh pergi entah kamu ataupun aku"

"Ini kan misalnya"

"Ga ada misal misalnya"

Kini arsya mulai memisah jarak yang ada diantara keduanya, bahkan jarak mereka saat ini sangat dekat.

FUTURETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang