"Eh lo tau gak-"
-
Pagi yang cerah kini berubah menjadi awan mendung yang sangat tebal menandakan akan turun hujan deras
Dengan segera para siswa siswi memasuki kelasnya masing masing walaupun belum terdengar bel masuk berbunyi hanya saja takut jika nanti tiba tiba hujan mengguyur
Benar saja selang beberapa menit setelah terdengar gunturan yang cukup besar hujan pun mulai menunjukkan eksistensi nya
"Kemarin lo mau cerita apa jak?" Tanya arsya pada jaka teman sebangkunya itu yang kini sembari menyiapkan hasil kerajinan yang mereka buat di atas meja
"Kepo lo?haha" goda jaka pada arsya yang masih sibuk menyiapkan.
"Buruan" jawab Arsya ketus
"Jadi gini kemarin kan gw ketemu arin, nah kebetulan gw juga sedikit kenal ama dia karena gw waktu itu juga kenal kakaknya"
"Oh dia punya kakak?"
"Nah terus gw liat dia tu kaya abis nangis begitu, yaudah kan gw tanyain, gw jadi sokab aja gitu sama dia wkwk, siapa tau gw bisa pdkt an sama dia"
"Dih?lo kalo cerita jangan setengah setengah dong" jawab arsya dengan muka julidnya
kemarin...
15 menit sebelum jaka sampai ke rumah arsya, ia melihat pemandangan seseorang yang sedang menangis di sebuah taman mini yang tidak cukup jauh dari rumah arsya
Jaka pun pergi menghampiri perempuan yang sepertinya ia kenal, tanpa ragu jaka mulai mendekat ke arah perempuan itu
Benar saja orang yang ia temui adalah arin, pantas saja tidak asing lagi dari bentuk rambut dan juga body nya yang mungil itu
"Hai?" Sapa jaka
"O-oh?hai juga, kak jaka?ada apa ya kak? kak kok bisa disini"
"Enggak kebetulan saya lewat sini terus ngeliat kamu, kamu kenapa nangis?"
Entah dapat keberanian dari mana kini arin tanpa sengaja mulai memeluk jaka erat, dan itu cukup membuat jaka terkejut akan tingkah arin sekarang ini
"Kak, aku ga punya siapa siapa, aku ga punya temen, aku ga punya keluarga, aku ga punya kasih sayang, aku sendirian kak, aku selalu saja dibully, ingin rasanya melawan tapi apa dayaku menghadapi mereka"
arin mulai menangis dalam pelukan jaka dan mau tidak mau jaka mulai membalas pelukan tersebut dan mulai mengusap surai hitam gadis yang ada di pelukannya saat ini dengan sedikit rasa canggung
"E-eh kenapa?kok bisa ga punya temen?kamu sendirian?kamu sekarang punya aku, mau jadi temen?"
Kini arin mulai melepas pelukannya itu dari jaka dan mulai terlihat kikuk karena ia sadar apa yang ia lakukan tadi, memeluk?
"Kak sorry maaf, aku ga bermaksud...anu maaf ya kak, maaf banget" arin berbicara dengan kepala menunduk yang disebabkan oleh rasa malunya itu
"Haha santai aja, kaya sama siapa aja, kamu kalo ga ada temen bisa dateng ke saya ya?sekarang kita temen ok?jangan sedih lagi" jaka mulai berusaha mencairkan suasana karena sekarang ini cukup... awkward?
"Yah kak sorry ya malah jadi curhat"
"Santai aja gapapa, btw...kamu wajahnya mirip sama temen saya dulu"
"Oh ya?kalo boleh tau siapa orangnya kak?"
"Dia orang yang cantik, baik mirip sama kamu lagi, dulu saya sempet suka sama dia, eh malah dia pacaran sama yang lain, tapi gapapa, dia bahagia saya juga ikut bahagia, setelah ketemu kamu akhir akhir ini, saya jadi ngerasa liat dia yang dulu hidup kembali" jaka kini mulai meletakkan alat dan bahan kerajinan di kursi yang sedang ia duduki sekarang, berniat untuk bercerita sebentar dengan orang yang ada disampingnya saat ini
Jaka kini mulai menatap ke arah mata arin yang juga sedang menatap ke arahnya, eye contact
"Em emang dia kemana?" Tanya arin dengan menaikkan satu alisnya
"Tuhan ambil dia, dia pergi karena suatu insiden teroris 2 tahun lalu yang merenggut nyawanya, ia terkena tembakan di bagian perut"
Deg
Mendengar hal itu arin pun mulai membelalakkan matanya selebar mungkin dan tangannya kini mulai bergetar
"K-kalo boleh tau siapa namanya kak?" Tanya arin dengan nada suara yang kini mulai bergetar seperti menahan tangis
"Nata"
-0-
"Lo cerita setengah setengah, gajelas, mending bantuin gw natain ini"
Karena kesal jaka menceritakan hanya setengah setengah lebih baik arsya melupakannya saja dan fokus pada kerajinan di depannya saat ini
Tanpa menjawab jaka pun mulai membantu arsya menata semua keperluan untuk penilainnya hari ini
~
"Oh sekarang lo udah ada cewe baru ya resh?ya ga heran gw sih, lo ganteng dan punya segalanya, lo bisa dapet yang lebih baik dari gw, jaga perempuan itu baik baik," gumam arin yang melihat naresh sedang berjalan bersama perempuan sembari merangkul pundak gadis itu
"Oh ya gw lupa, kan lo suka mainin hati cewe resh,gonta ganti melulu, haha" Senyuman pahit yang terpancar dari bibir arin
Bukan kah arin sendiri yang bilang bahwa ia sudah sering melihat naresh jalan dengan perempuan lain padahal waktu itu posisi arin sebagai pacarnya?bisa saja gadis yang arin lihat sedang berjalan dengan naresh tadi itu hanya mainan bagi naresh.haha bukankah naresh lucu sekali?
Arin kini mulai melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah tanpa adanya kehangatan yang tercipta disana, tidak ada yang menyambutnya pulang, tidak ada yang membikinkan makan siang untuknya dan lain sebagainya, rasanya juga ia malas untuk pulang
Dalam perjalanannya Ia masih memikirkan cerita kemarin saat ia bertemu dengan jaka, ternyata jaka kenal dengan kakak perempuan nya itu, tapi...ia tidak mengenalinya, ya wajar saja karena mereka juga dulu tidak pernah bertemu
"Kak jaka orangnya ember ga sih?mana kemarin aku udah keceplosan bilang ke dia kalo aku itu sebenernya adek kak nata, kayanya dia ga bakal ember sih" arin bergumam dalam pikirannya sendiri, lagipula siapa yang akan peduli dengan kisah kehidupannya ini?tidak ada, jadi mau atau tidak jaka ember ke siapa pun, juga mungkin tidak ada orang yang bakal peduli dengan ceritanya ini
"Yang penting kak jaka udah janji sama aku, ini jadi rahasia kita berdua doang" lanjut arin dalam pikirannya
Tiba tiba...
"Awas!" Teriak seseorang dari arah seberang membuat arin tersadar dari lamunannya
00
Hai hai mentemen, gimana kabar nya?sehat selalu pastinya
Mau ngingetin aja sih buat spam komen and votenya jangan lupa, wkwk
Stay tune disini ya kawan ku yang aku sayangi dan aku cintai😍
Next👉

KAMU SEDANG MEMBACA
FUTURE
Teen FictionGadis berumur 15 tahun dan seorang kakak perempuan berumur 2 tahun lebih tua darinya. Terlahir dari keluarga yang sederhana, hidupnya tidak bergelimang harta namun kebahagiaan terasa didalamnya Malam mengerikan bagi arin, takdir merenggut kedua oran...