Setelah satu Minggu sejak pertama kali Naya bertemu dengan Adrian. Adrian menjadi sangat sering berkunjung ke cafe. Ternyata Adrian tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Naya kembali. Seperti sekarang, Adrian sedang diam memperhatikan Naya yang sedang menyiapkan pesanan. Hari ini, cafe sedang ramai-ramainya. Tidak ada celah Naya untuk istirahat membuat Adrian kasihan. Ingin sekali Adrian segera mempersunting Naya agar gadis itu diam saja di rumah, tidak perlu capek-capek kerja.
"Nay, biar saya bantu kamu." Adrian berdiri lantas mengambil alih spatula yang Naya pegang.
"Saya bisa sendiri." Naya mengambil kembali spatula yang ada di tangan Adrian.
"Biar saya aja." Oke Naya mengalah, dia memberikan spatula itu kepada Adrian. Adrian tersenyum penuh kemenangan dan mulai menggoreng ayam. Sementara itu, Naya mengerjakan tugas yang lainnya.
"Nay, saya kayak suami yang ngebantu istrinya lagi masak," bisik Adrian untuk menggoda Naya yang berada di sampingnya.
"Dihhh ngehalu," ujar Naya sama-sama berbisik.
"Biarin, yang penting saya ngehaluinnya kamu bukan orang lain." Adrian tersenyum, sementara Naya hanya memutar bola matanya jengah.
"Bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar s'lalu di telinga," sindir Yanti dengan nada lagu, entah sejak kapan dia ada di belakang mereka.
Naya menoleh, lalu memukul bahu Yanti pelan. "Apaan sih lo!"
Yanti, gadis itu sudah mengetahui apa hubungan Naya dan Adrian. Sejak kejadian tempo hari, Yanti meminta kejelasan karena dia melihat Naya yang menangis setelah Adrian pergi. Ralat, sebelum Adrian pergi pun Naya sudah menangis.
"Santai santai, gue ke sini cuma mau ngambil pesenan aja sih. Btw udah jadi belum?" tanya Yanti.
"Belum, masih di goreng," jawab Naya.
Yanti melihat ke arah wajan yang di pakai menggoreng ayam, tiba-tiba matanya terbelalak lebar. "Ayam gosong," teriak Yanti membuat Naya dan Adrian refleks menoleh ke arah wajan tersebut.
"Yassalam, angkat Pak angkat." Naya ketar ketir membuat Adrian panik bukan main. Adrian langsung saja mengangkat wajan panas itu tanpa kain sama sekali lalu refleks menurunkannya kembali karena kepanasan.
"Aw, panas."
"Aduh, Pak. Tangan Bapak gak papa?" tanya Naya seraya berteriak heboh.
"Panas."
"Serius?" Naya langsung menarik kedua tangan Adrian dan membawanya ke air. Sementara Yanti dia mematikan kompor dan mengangkat ayamnya.
"Maksud saya, yang di angkat itu ayamnya bukan wajannya," maki Naya, masih membasahi tangan Adrian dengan air.
"Bapak duduk, saya ambil pasta gigi dulu." Naya pergi ke toilet untuk mengambil pasta gigi yang biasa ia gunakan. Setelah itu Naya kembali lalu duduk di samping Adrian dan mulai mengolesi tangan Adrian dengan pasta gigi itu.
"Makanya kalo melakukan sesuatu itu tanya-tanya dulu atau kira-kiralah, jadi kejadiannya gak akan kayak gini," ujar Naya menasehati.
Adrian menatap Naya dengan raut khawatinya. "Khawatir, ya?" goda Adrian berbisik seraya menaik turunkan kedua alisnya.
Naya menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. "Cuma rasa kemanusiaan aja," ucap Naya.
"Masa?" Adrian masih saja menggodanya.
"Bodo!"
Adrian terkekeh melihat ekspresi Naya yang nampak menggemaskan jika sedang kesal. "Kamu lucu, Nay kalo lagi kesel."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan? [On Going]
Dla nastolatkówSetelah sekian lama sebuah kisah cinta Nayana dan Adrian selesai. Kini, Adrian kembali untuk memulai kembali kisah mereka. Akankah mereka bisa seperti dulu lagi? Apakah Naya akan kembali menerima Adrian setelah dia menyakitinya dengan kepergian? Ik...
![Mantan? [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/318548335-64-k996281.jpg)