Keceplosan

3 2 0
                                        

"Bunda, Adrian berangkat," pamit Adrian buru-buru. Dia sudah mengenakan pakaian rapih persis seperti orang yang hendak berangkat ke kantor.

"Sarapan dulu, nak," ucap Retno yang sudah menyiapkan roti untuk suaminya dan Adrian.

Adrian menoleh lalu berjalan menghampiri meja makan. Adrian menatap menu sarapannya, setiap hari hanya roti di olesi dengan selai cokelat. Bukan berarti Adrian tidak menghargai Retno yang sudah membuatkan itu untuk Adrian, hanya saja dia merasa bosan.

"Adrian sarapan di kantor aja, Bun. Adrian buru-buru."

"Buru-buru mau ke mana? Ayah tahu kamu so sibuk. Berangkat pagi pulang malem, padahal di kantor kerjaan lagi sedikit," ujar Danu lalu duduk di kursi utama.

Adrian menoleh ke arah Danu. Pria paruh baya itu benar, seminggu ini Adrian sering berangkat pagi pulang larut malam. Bukan tanpa alasan, Adrian seharian hanya merecoki Naya. Pria itu datang ke rumah Naya pagi-pagi lalu ketika jam dua belas siang, Adrian mengantarkan Naya ke cafe dan baru ke kantor pada jam dua siang.

"Oh jadi pagi-pagi kamu gak ke kantor? Kalo gak ke kantor terus ke mana?" tanya Retno yang sedang memberikan satu roti untuk suaminya.

"Ke rumah Naya,"

Seketika Retno dan Danu terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Mereka mendongak menatap putranya yang tengah berdiri di antara keduanya.

"Naya?" Kali ini Retno yang membuka suara terlebih dahulu.

Adrian salah bicara, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengatakan jikalau Adrian sudah bertemu kembali dengan Naya sebelum PDKT nya berhasil. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Adrian sudah mengatakannya, dia harus siap dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Retno.

"Naya mantan kamu?" tanya Retno lagi.

"Hm iya," jawab Adrian.

Retno tersenyum, ada sedikit binar di matanya. "Di mana kamu ketemu sama dia?"

"Di cafe kita yang di pegang Bagas," balas Adrian.

"Oh iya, setahun yang lalu Bagas sempat cerita kalo ada karyawati yang ngelamar di cafe kita dan namanya Naya. Bunda kira, bukan Naya kita. Bunda juga sempat berkunjung ke sana, tapi kebetulan waktu itu Naya lagi izin," ujar Retno.

"Kalo kamu udah ketemu sama dia kenapa gak di bawa ke sini?" tanya Danu yang sudah melahap sarapannya.

"Tadinya Adrian gak mau bilang dulu, soalnya Adrian belum dapetin hati Naya balik," ucap Adrian.

"Ya itu sih salah kamu, ngapain dulu mutusin Naya segala padahal hubungan kalian lagi baik-baik aja. Seharusnya jarak itu gak jadi alasan kamu buat putus sama dia. Bunda juga pernah bilang kalo Bunda gak akan batasi hubungan kamu sama dia meskipun kamu lagi fokus belajar."

Adrian terdiam, dia meresap seluruh perkataan yang keluar dari mulut Retno. Memang benar apa yang di katakan Retno, tidak seharusnya Adrian mengakhiri hubungan. Tapi waktu itu Adrian sedang merasa bosan dengan hubungannya, bukankah ketika bosan dengan hubungan kita selalu berpikir hal yang di luar dugaan? Dan itu yang di alami Adrian dulu.

"Udah sana kamu pergi, nanti bawa Naya ke sini. Bunda mau ketemu," usir Retno dengan keadaan mulut penuh.

"Ngusir nih?"

"Iya ngusir, sana!"

Danu hanya terkekeh melihat tingkah laku istri dan anaknya itu. Keluarga mereka terjalin harmonis, tidak pernah ada pertengkaran besar hanya sedikit cek-cok jika ada kesalah pahaman tapi setelah itu kembali membaik.

"Ya udah, Adrian pamit. Do'ain supaya lancar." Adrian meraih tangan Retno lalu mencium punggung tangannya, dia juga melakukan hal yang sama kepada Danu.

"Jangan lupa jam sepuluh ada meeting, kamu harus hadir."

"Iya, Assalamualaikum," ucap Adrian.

"Waalaikumussalam."

***

Tin tin.

Suara klakson berbunyi, Naya yang sedang ngepel lantai rumahnya pun segera keluar. Bukan untuk menyambut Adrian, melainkan untuk melarangnya masuk ke dalam.

"Stop!" tegas Naya ketika melihat Adrian sedang membuka pagar rumah.

"Kenapa?" tanya Adrian.

"Saya lagi ngepel, Bapak jangan coba-coba masuk ke dalam. Kalo masuk saya marah, karena saya udah cape beres-beres rumah dari subuh," ucap Naya panjang lebar.

"Kirain selingkuhan kamu ada di dalem," ujar Adrian tidak tahu diri. Pacar saja Naya tidak punya apalagi selingkuhan, memang aneh boss itu.

"Selingkuhan apa sih, Pak! Pacar aja saya gak punya," ucap Naya nyolot.

"Saya kan pacar kamu,"

"Dih ngarep. Udah diem, saya mau lanjut dulu. Awas kalo masuk saya patahin tulang leher Bapak." Naya masuk ke dalam rumahnya lagi dan meninggalkan Adrian yang terkekeh di dekat pagar. Untung masih pagi, jadi matahari belum terik-teriknya.

Lama menunggu Naya yang tak kunjung ke luar, perut Adrian pun berbunyi menandakan kalau ia lapar. Biasanya dia selalu sarapan tidak pernah terlewatkan, tapi beberapa hari ini Adrian selalu ingin makan makanan yang Naya buat. Tapi Adrian harus menunggu sampai jam sembilan karena Naya masak di waktu itu.

"Nay, sekarang boleh masuk gak?" teriak Adrian tapi tak ada jawaban.

Adrian menghembuskan napas kasar lalu melihat sekitar. Aktivitas setiap pagi di sini selalu ramai, tetangga-tetangga Naya juga cukup baik. Tidak sedikit di antara mereka sering bertegur sapa dan saling tukar makanan. Mereka juga sering berkunjung ke rumah Naya dan memberi Naya makanan atau uang. Naya hidup sebatang kara jadi mereka merasa iba, makanya mereka selalu memberikan bantuan untuk Naya. Tapi Naya juga tidak terlalu bergantung pada mereka, dia sudah dewasa dan dia sudah bisa bekerja, jadi dengan sekuat tenaga Naya bekerja untuk masa depannya kelak.

"Masuk, Pak. Hehe maaf lama, soalnya saya mandi dulu barusan." Adrian menoleh lalu mendapati Naya yang memakai handuk yang dililitkan di kepalanya.

"Saya nunggu lama di sini, perut saya juga udah keroncongan," ujar Adrian.

Naya nyengir kuda. "Maaf, Pak."

"Iya saya maafin, sebagai gantinya kamu harus masakin saya sekarang. Saya udah lapar,"

"Emang saya udah masak tapi saya masak nasi goreng, gak papa kan?" tanya Naya.

"Iya gak papa asalkan masakan kamu."

Naya tersenyum singkat lalu segera pergi ke dapur dan mengambil makanan dari lemari. Setelah itu dia kembali ke tengah rumah dan memberikan sepiring nasi goreng itu kepada Adrian yang duduk lesehan di lantai.

"Maaf ya, Pak. Di rumah saya gak ada kursi, jadi lesehan," ujar Naya. Sudah beberapa kali dia berkata seperti itu dalam seminggu ini.

"Saya udah bilang gak papa, Nayana."

Naya nyengir kuda. Lalu Naya memperhatikan Adrian yang sudah melahap nasi goreng buatannya. Dalam keadaan mulut penuh dia berkata. "Nanti ikut saya ke rumah ya, Bunda mau ketemu. Tadi saya keceplosan kalo saya udah ketemu sama kamu."

Happy Reading.
Jangan lupa tinggalkan jejak
agar author tambah semangat:*

Mantan? [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang