Seungmin

169 30 1
                                        

Sudah seminggu berlalu sejak Jeno pergi, tanpa kabar, tanpa penjelasan. Sekolah kembali normal, tapi bagi Giselle, ada kekosongan yang terasa aneh.

​"Huftt... Udah seminggu kok Kak Jeno gak kelihatan samsek, sih," keluh Giselle saat sedang berjalan di koridor sekolah. Ia sudah mencoba membenci Jeno, tapi pengakuan cinta Jeno dan misteri kematian Kak Mark membuat pikirannya kacau.

​Tiba-tiba, seorang pria asing dengan senyum ramah menghampirinya.

​"Hai, lo Giselle ya?"
​"I-iya, ada apa ya, Kak?" tanya Giselle, bingung.
​"Gue Seungmin," katanya sambil mengulurkan tangan. Giselle menyambut uluran tangan itu. "Sahabat Jeno," lanjut Seungmin, memperjelas.
​Giselle langsung menarik tangannya, ekspresinya berubah dingin. "Ah iya, kenapa ya Kak ke sini?"

​"Cuma mau mastiin aja," Seungmin tersenyum tipis, seolah ia tahu segalanya. "Eh, kalau gitu Kakak pergi, ya. Soalnya jam Matematika bentar lagi mulai."
​"Ah, baik, Kak," jawab Giselle. Ia menatap kepergian Seungmin dengan dahi berkerut. Mastiin apa? Kenapa sahabat Jeno tiba-tiba datang ke gue?

​"Jangan ngelamun!" suara Karina, teman sebangkunya, membuyarkan lamunannya.
​"Eh, Rina. Besok temenin aku ke Mall," pinta Giselle, mencoba mengalihkan pikiran dari Jeno dan Seungmin.

​"Buat apa? Jalan-jalan? Ayo aja gue mah," balas Karina antusias.
​"Iya, sekalian mau beli make-up baru. Yang lama udah habis semalam," kata Giselle.
​"Oke, deal!"

🍒

Sore harinya, saat Giselle menunggu bus di halte depan sekolah, sebuah motor berhenti di depannya.
​"Giselle," panggil Seungmin, melepas helmnya.
​"Ah—iya, Kak?"
​"Ayo, gue anterin pulang," ajaknya.
​"Gak usah, Kak. Aku bisa naik bus," tolak Giselle, ia masih enggan berurusan dengan lingkaran pertemanan Jeno.

​"Udah, naik aja. Udah mau hujan nih," bujuk Seungmin, menyalakan mesin motornya.
​Giselle menghela napas. Kalau gak keberatan juga, deh. Ia naik ke motor Seungmin. "Terima kasih, Kak."

​Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam, canggung seperti patung. Seungmin fokus menyetir, dan Giselle tenggelam dalam pikirannya sendiri. Keduanya malas mencari topik.

​Motor berhenti di depan rumah Giselle.
​"Udah sampai. Jangan ngelamun," kata Seungmin.
​Giselle tersentak. "Eh, kok Kakak tahu rumah aku? Kan aku belum bilang!"
​Seungmin tertawa. "Lo adiknya Renjun, kan?"
​"Iya. Kakak kenal Kak Renjun?"
​"Kenal banget malah," jawab Seungmin santai. "Kalau gitu, lo masuk, gih. Udah mau hujan lagi nih. Gue pulang dulu."
​"Terima kasih, Kak, dan hati-hati di jalan!"

Setelah memasuki rumah, Giselle langsung mendapati pemandangan yang membuatnya mengelus dada.

​Renjun dan Jaemin (yang sepertinya menginap) sedang tidur pulas di sofa ruang tengah, dikelilingi bungkus makanan ringan, bantal yang berantakan, dan remote televisi yang tergeletak di lantai. Mereka sukses memberantakkan seisi rumah.

​"Astaga, Kak! Ayo bangun, Kak!" Giselle menepuk pipi Renjun.
​"Hmm," gumam Renjun, hanya bergeser sedikit.
​"Hmm doang, tapi gak kebuka tuh mata!" kesal Giselle.
​"Hmm," Renjun kembali bergumam.
​Giselle beralih ke Jaemin. "Astaga Tuhan, Kak Nana! Ayo bangun!"
​"Iya..." Jaemin mengucek matanya dan berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berlayar entah di mana.

​"Beresin nih rumah, Kak! Keburu Bunda pulang!" perintah Giselle tegas.
​"Iya..." Jaemin akhirnya bangun. Setelah mengumpulkan nyawa, kini giliran Jaemin yang bertugas membangunkan Renjun yang tidur seperti beruang. Giselle sudah lelah membangunkan kakak satunya itu.
​"Buruan, Jun! Lo mau gue video call Bunda?!" ancam Jaemin.

​Giselle tersenyum puas. Setidaknya, hari ini tidak membosankan. Kini, ia hanya perlu menahan rasa penasarannya pada Jeno dan fokus pada rencana belanja make-up besok.

RUANG ANTARA KITA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang